Empat tahun lebih anak-anak korban lumpur Lapindo telah kehilangan masa depan dan harapan mereka, sejak Lapindo Brantas menenggelamkan tempat tinggal, sekolah, seluruh desa hingga tempat orang tua mereka mencari nafkah.
Pemerintah dan Lapindo sibuk mengurusi jual beli lahan dan tanggul yang tak kunjung selesai hingga hari ini. Sementara nasib pendidikan akan-anak tak pernah ada dalam pikiran mereka.
Saat tahun ajaran baru seperti saat ini, anak-anak korban lumpur Lapindo kesulitan biaya untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka membutuhkan uluran tangan anda agar kelanjutan pendidikan mereka tak bernasib sama seperti kampung halamannya, terkubur lumpur Lapindo.
Sampaikan dukungan anda untuk membantu pendidikan anak-anak korban lumpur Lapindo di www.jatam.org
Makna sebuah safari yang dilakukan pada saat bulan ramadhan umumnya untuk menjalin dan mempererat hubungan atau tali silaturahmi diantara sesama umat manusia. Itu pula yang disadari betul oleh Koalisi Masyarkat Indonesia (KMI) melakukan Safari Ramadhan ke lokasi Lumpur Lapindo. Biasanya suasana silaturahmi selalu dalam keadaan menyenangkan dan menghibur. Namun, pada kesempatan ini rombongan safari, betul-betul disuguhkan kehidupan yang hanya menunggu “klik” kematian karena berada di zona kematian. Tidak hanya karena resiko akibat semburan lumpur Lapindo, tapi karena kondisi warga tidak membuka mata hati nurani pemimpin bangsa ini yang telah mati.
**
Dengan menaiki kereta malam, Jumat 27 Agustus 2010, Kami 14 orang (WALHI 2 orang, JATAM 3 orang, KIARA 2 orang dan IHI, Lingkar Madani, Sawitwacth serta JKPP masing-masing 1 orang) dalam rombongan safari ramadhan Lapindo mengusung tema “Selamat Tinggal Pemimpin Citra. Selamat Datang Pemimpin Sejati”. Tema ini diusung mengingat pemerintah SBY yang semakin abai terhadap rakyat dan lebih mendahulukan citranya. Harga-harga naik, TDL naik, teror kompor hingga kasus yang tak kunjung selesai juga seperti kasus lumpur Lapindo.
Firoz Gaffar, Dosen Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Pemerhati Hukum dan Etika
Dimuat di Koran Tempo, Edisi Rabu, 25 Agustus 2010
Tepat pada 15 Juli 2010, BP (d/h British Petroleum) mengklaim sukses uji-coba containment cup memerangkap kepala sumur, sehingga minyak yang muncrat di dasar laut Teluk Meksiko terhenti. Tapi, pada 4 Agustus 2010, BP menyatakan static kill berhasil memaksa minyak turun dengan cara memompakan lumpur ke sumur. Ini tahap penting sebelum pada akhirnya mengubur sumur selamanya dengan semen, sehingga musibah selesai.
Setelah sempat dilarang pihak Kepolisian Resor Sidoarjo untuk menggelar upacara kemerdekaan, korban lumpur Lapindo menggelar aksi ‘gantung diri’, Selasa siang (17/8/2010). Aksi itu digelar setelah upacara peringatan kemerdekaan “resmi” yang dipimpin Bupati Sidoarjo usai dilaksanakan.
1 gram emas didapatkan dengan membuang 2.100 kg limbah batuan dan tailing, dihasilkan 5,8 kg emisi beracun logam berat, timbal, Arsen, Merkuri dan Sianida
Palembang: Ribuan liter minyak mentah dari pipa tua
Pertamina yang bocor di Kelurahan Karya Mulya, Palembang, Sumatra
Selatan, terbakar. Saksi mata mengatakan, tumpahan minyak yang terbakar
terjadi sejak pukul 06.00 WIB, Jumat (13/8). Diduga kebakaran berasal
dari pipa tua yang bocor tapi tidak diperbaiki Pertamina.
Buku ini menceritakan serpihan-serpihan ingatan, agar cerita tak turut karam. Bukan sebagai kado ulang tahun. Bukan sebagai pemberian kepada yang bergembira. Bukan sebagai perayaan. Melainkan sebagai tanda melawan pelupaan. Grup Bakrie, raksasa bisnis yang menjadi induk PT Lapindo Brantas memiliki kekuatan besar serta punya daya luar biasa memassalkan pembungkaman. Pembungkaman juga terjadi di lembaga negara yang terlanjur di beri label "penegak hukum".