Seruan Aksi: Global Divestment Day (13-14 Februari 2015)

0
694

Apa Itu Global Divestment Day?
Global Divestment Day adalah sebuah gerakan kampanye menyerukan penghentian penggunaan energi fosil dalam kehidupan manusia. Gerakan ini merupakan merupakan sebuah gerakan berkelanjutan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Seperti yang kita lakukan pada 21 September 2014 lalu dalam Pawai Iklim Massal, seruan untuk segera meninggalkan energi fosil dan beralih ke energi terbarukan juga kita kampanyekan dan desakkan kepada pemerintahan yang baru terpilih.

Seperti yang kita tahu, industri energi fosil (batubara dan migas) adalah salah satu sektor industri yang sangat menggiurkan bagi investasi. Tidak hanya perusahaan tambang saja, berbagai lembaga keuangan dan perbankan juga ramai-ramai berinvestai dan memberikan pinjaman bagi industri energi fosil. JATAM mencatat, kurang lebih 29 perbankan Nasional dan Internasional berinvestasi dan memberikan pinjaman bagi pertambangan batubara di Indonesia. Potret pembiayaan di industri energi fosil seperti inilah yang sudah harus mulai ditinggalkan. Tidak hanya bagi lembaga keuangan, peran serta publik dalam menyuarakan dan mendesak perbankan untuk berhenti berinvestasi di industri energi fosil juga sangat diperlukan.

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah peran serta dan komitmen Negara untuk segera beralih dari energi fosil serta upaya yang maksimal dalam pengembangan energi bersih dan terbarukan.
(Untuk mengetahui gambaran lengkap apa dan bagaimana Global Divesment Day, bisa mengunjungi website http://gofossilfree.org/divestment-day/)

Bagaimana dengan di Indonesia?
Salah satu janji kampanye Presiden Jokowi selama Pemilihan Presiden 2014 lalu adalah pengembangan energi terbarukan dan penyelamatan lingkungan. Tapi kenyataannya, saat ini Presiden Jokowi malah mendorong pembangunan pembangkit listrik baru dengan total daya 35.000 MW, di mana 60% – 70% dipenuhi dari batubara. Tentu saja proyek Presiden Jokowi ini akan semakin meningkatkan eksploitasi batubara di Indonesia dan akan menjadi ancaman nyata bagi penyelamatan hutan dan lingkungan. Saat ini saja, jumlah produksi batubara Indonesia per tahun mencapai 421 juta ton. Jika proyek Presiden Jokowi ini benar-benar terealisasi, maka diperkirakan jumlah produksi batubara Indonesia akan melonjak melebihi 600 juta ton per tahun.

Sudah seharusnya Presiden Jokowi sadar akan bahaya dan ancaman di balik lonjakan produksi batubara tersebut. Pembukaan kawasan hutan secara massif, perubahan bentang alam, pencemaran lingkungan dan sumber air, hingga peminggiran dan pemiskinan masyarakat lokal, hanyalah sederet pendek potret permasalahan di balik eksploitasi energi fosil. Di Samarinda Kalimantan Timur misalnya, Sembilan anak meregang nyawa tenggelam di lubang bekas tambang batubara yang ditinggalkan begitu saja. Di Sawah Lunto Sumatera Barat, sudah puluhan nyawa pekerja tambang melayang akibat ledakan dari gas metana batubara. Belum lagi cerita masyarakat adat yang terusir dari tanah leluhurnya akibat tambang batubara, seperti yang menimpa masyarakat adat Dayak Basap di Kutai Timur yang digusur Kaltim Prima Coal.
Presiden Jokowi harus berani mengambil gebrakan baru dalam pengembangan energy baru terbarukan di Indonesia.

Pengembangan energi terbarukan saat ini masih mendapatkan porsi yang sangat kecil, baik dalam postur anggaran atau pun pemanfaatannya di lapangan. Tentu saja hal tersebut bisa disebut hanya sekedar formalitas belaka dan “asal ada”. Pengembangan energi terbarukan hanya akan jalan di tempat jika pemerintah sendiri tidak mengambil langkah awal untuk mengurangi ketergantungannya terhadap energi fosil dan beralih ke pada energi bersih dan terbarukan.
Untuk itulah JATAM menyerukan dan mengajak seluruh jaringan JATAM dan masyarakat luas untuk secara bersama berkontribusi dalam “Global Divestment Day” 13-14 Februari 2015 untuk kembali mengingatkan dan menagih Komitmen Pengembangan Energi Terbarukan dan Penyelamatan Lingkungan Pemerintahan Jokowi – Kalla. Pemerintah dan masyarakat luas perlu diingatkan secara terus-menerus akan bahaya energi fosil dan pentingnya untuk segera beralih ke energi bersih dan terbarukan.

Adapun bentuk kontribusi kegiatan yang akan dilaksanakan tiap daerah, sepenuhnya diserahkan kepada kawan-kawan di daerah dan dapat disesuaikan dengan kondisi dan urgensi yang ada. Kontribusi kegiatan apapun yang dilakukan kawan-kawan, baik itu aksi, pendudukan, diskusi ataupun pemutaran film, sangat berarti besar bagi masa depan lingkungan dan energi terbarukan di Indonesia.

Salam.
Umbu Wulang Tana Amahu
Manajer Penggalangan Dukungan JATAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here