Sungguh tragis nasib pulau Kalimantan. Setelah sebagian besar hutannya dirusak, kini ganti dikeruk habis-habisan oleh tambang. Di Kalimantan Timur sedikitnya ada 33 ijin Kontrak Karya dan 1.212 Kuasa Pertambangan - terbanyak di Indonesia. Sementara kawasan hutan terakhir Kalimantan Selatan - pegunungan Meratus, juga akan dibuka untuk tambang sebesar 311 ha.
Tiap tahun, luasan hutan dan lahan pangan Kalimantan menyusut berganti lahan pengerukan batubara dan kebun sawit skala besar. Sementara jumlah pengangguran dan pendududk miskin di sekitar kawasan eksploitasi di atas, angkanya cenderung naik.
Kalimantan bagai menggali kuburnya sendiri, bagaimana menurut anda? Sampaikan pendapat anda di Forum JATAM
Makalah Kuliah Umum "Pertambangan & Keselamatan Warga Pulau Kalimantan", Universitas Mulawarman Samarinda, 9 Maret 2010
Persoalannya kemudian adalah sejauh mana negara berhasil menciptakan
kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat lokal di sekitar tambang?
Mengapa protes dari berbagai masyarakat di sekitar lokasi tambang susul
menyusul di berbagai wilayah pertambangan di Indonesia, khususnya sejak
Era Reformasi? Daerah-daerah penghasil tambang dan kota-kota tambang
menjadi ajang konflik [bersenjata] baik konflik vertikal maupun
horizontal. Konflik-konflik sosial di sekitar pertambangan yang
berentetan terjadi telah menjadi perhatian dari para ilmuwan sosial dan
Lembaga Swadaya Masyarakat(2). Mengapa perempuan begitu penting? Apakah
perempuan cendrung dirugikan dari eksploitasi tambang atau dari dampak
yang ditimbulkannya? Peper ini akan melihat bagaimana kaitan antara
negara dan perusahaan tambang atau antara penguasa dan pengusaha.
Selanjutnya akan melihat hubungan tambang dan perempuan dan fungsi
perempuan di dalam perusahaan dan dampak eksploitasi tambang terhadap
ekonomi masyarakat lokal dari perspektif gender.Bagian terakhir akan
mempertanyakan kegagalan negara dalam membangun masyarakat dari
eksploitasi tambang.
Tolak Rencana Bank Dunia Menjamin Proyek Tambang PT Weda Bay Nikel
PT Weda Bay Nikel, tambang yang sangat berbahaya. Sekitar 21% kawasannya berada di kawasan lindung, termasuk Taman Nasional Lalobata dan Aketajawe. Mereka berencana membabat 35.155 ha hutan lindung. Sekitar 17 juta ton batuan digali tiap tahunnya dari sebuah pulau kecil yang kaya keragaman hayati dan rapuh. Mereka akan mengekspor 65 ribu ton kandungan nikel dan cobalt tiap tahun, dan membuang sisanya menjadi limbah ke Teluk Weda. Limbah tambang akan dikelola dengan sistem paling berbahaya dan ketinggalan jaman - heap leaching, dengan menumpahkan larutan asam sulfat ke atas tumpukan bijih Nikel. Dukung Petisi untuk menyelamatkan warga dan ekosistem Pulau Halmahera.
Saat ini baru ada 119 orang yang mendukung seruan aksi ini. Jika anda juga ingin mendukung seruan aksi ini, anda dapat mengirimkan nama, organisasi, alamat anda ke email
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
hingga tanggal 10 Maret 2010
Pada Peringatan Hari Perempuan Sedunia 8 Maret 2010 dari Kalimantan
Timur (Kaltim) - kawasan pegerukan batubara terbesar di Asia Tenggara,
JATAM dan Walhi Kalsel meluncurkan Laporan Publik “Mautnya Batubara :
Pengerukan Batubara & Generasi Suram Kalimantan”. Mereka menyerukan
penghentian pengerukan batubara dari Bumi Kalimantan dan mendesak
Jepang, China, India, Amerika Serikat dan Uni Eropa mengurangi
penggunaan batubara dan menghentikan membeli batubara Indonesia.
Pemerintah mengeluarkan ketentuan baru berupa PP No24 Tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan. PP tersebut, antara lain mengatur ketentuan tambang bawah tanah atau pola tertutup yang diperbolehkan di kawasan hutan lindung.
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.