Bangka dan Belitung bagai potret pengelolaan tambang di Indonesia.
Sudah 300 tahun pulau-pulau ini dikeruk timahnya, menyumbang devisa negara dan
melayani kebutuhan dunia. Namun kini ia berkelimpahan kolong-kolong. Sepuluh
tahun lalu, ada 887 kolong yang ditinggal penambang timah. Tak hanya daratan
yang ditambang, sungai dan pesisir tak luput sasaran. Ribuan petani
berubah mata pencaharian menjadi penambang. Bagaimanakah pendapat anda tentang nasib
Bangka Belitung? Ikuti Diskusi Online dan Sampaikan suara anda pada Forum JATAM .
Pagi tadi, Yani Saragoa - Direktur Pelaksana Lembaga Olah Hidup (LOH) berakhir masa tahananya. Ia dipenjara sejak 4 Desember 2007, karena tuduhan pencemaran nama PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Ia mengeluarkan siaran pers, yang isinya memperingatkan warga Sumbawa tentang resiko pembuangan tailing PT NNT, terhadap lingkungan dan warga sekitar teluk Senunu. Itu tempat Newmont membuang sekitar 120 ribu ton limbah tailing setiap harinya.
Oleh Em. Lukman Hakim, Tim belajar Wilayah Krisis Jawa Timur
Jika rencana tambang itu benar-benar dilakukan, Sugiono beserta ribuan nelayan lain akan terancam penghasilan. Sebab, kata Sugiono, arus laut Pancer mengarah ke Pondok Dadap, Rajegwesi, Benua, Muncar, dan bahkan hingga Puger Jember dan Sendang Biru Malang. Ancaman limbah tailing – sebutan untuk limbah tambang emas ini juga akan beresiko puluhan perusahaan ikan di Muncar dan ribuan karyawannya.
Di Pulau Sulawesi, masuknya industri tambang di hutan Lindung pulau Kabaena, Toka Tindung dan Siguntu telah meningkatkan kekerasan dan pelanggaran HAM? Haruskah rakyat terus menerus membayar kesalahan SBY karena mengeluarkan PP No 2 tahun 2008?
Bangsa Indonesia telah kehilangan kemandirian nasional. Untuk dapat bangkit kembali, diperlukan pemimpin yang tegas dan berani membatasi penguasaan sumber daya alam oleh perusahaan asing.