Sungguh tragis nasib pulau Kalimantan. Setelah sebagian besar hutannya dirusak, kini ganti dikeruk habis-habisan oleh tambang. Di Kalimantan Timur sedikitnya ada 33 ijin Kontrak Karya dan 1.212 Kuasa Pertambangan - terbanyak di Indonesia. Sementara kawasan hutan terakhir Kalimantan Selatan - pegunungan Meratus, juga akan dibuka untuk tambang sebesar 311 ha.
Tiap tahun, luasan hutan dan lahan pangan Kalimantan menyusut berganti lahan pengerukan batubara dan kebun sawit skala besar. Sementara jumlah pengangguran dan pendududk miskin di sekitar kawasan eksploitasi di atas, angkanya cenderung naik.
Kalimantan bagai menggali kuburnya sendiri, bagaimana menurut anda? Sampaikan pendapat anda di Forum JATAM
Oleh Raihal Fajri, warga Aceh Besar yang tinggal di seputaran pabrik PT Semen Aandalas Indonesia/Lafarge
Membaca media massa lokal Aceh beberapa waktu lalu tentang kelangkaan
semen di Aceh membentangkan sejenis keharuan, antara ingin bersorak
gembira atau bersedih. Bersorak gembira karena hari ini semua yang kami
katakan dua tahun lalu, tepatnya tanggal 27 November 2007, mulai
menunjukkan kebenaran. Dua tahun lalu dengan 5.000 warga dari dua kecamatan, Lhoknga dan
Leupung, menuntut Lafarge (PT Semen Andalas Indonesia/SAI) ditutup
sementara untuk mengkaji ulang dan menganalisa lebih jauh dan mendalam
sejauh mana sumbangan Lafarge terhadap kesejahteraan rakyat Aceh.
Siaran Pers Jatam Kaltim - Gerakan Samarinda Tanpa Tambang – 21/01/201
Samarinda (21/01/10). Besok, 21 Januari 2010, Samarinda berusia 342 tahun,
pemerintahnya berulang tahun emas, 50 tahun. Kali ini, Pemkot Samarinda
mengusung “Sparkling Samarinda” atau Samarinda gemerlap - tema yang
berlawanan dengan kondisi Samarinda sejatinya, yang suram. Ibukota
Kalimantan Timur ini terancam bencana tak berkesudahan, mulai banjir
hingga krisis listrik. Saat musim hujan tiba, 10.204 KK terendam
banjir, hampir sepanjang tahun. Belum lagi pemenuhan pangan makin
terancam akibat lahan pertanian berubah fungsi menjadi pertambangan,
maupun akibat sumber-sumber airnya mengering.
Kampanye memperjuangkan penyelamatan Kalimantan dari eksploitasi dan ekstraksi aset-aset alam yang membabi buta dan mengancam keselamatan Warga Kalimantan dalam jangka panjang.
Fasilitas produksi awal Blok Cepu, Gas Oil Separation Plant (GOSP), di Kab. Bojonegoro, menimbulkan bau busuk lagi. Akibatnya, 15 orang mengalami gejala keracunan, seperti muntah-muntah dan pusing-pusing.
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.