Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi, mahasiswa tinggal di Banyuwangi
Akan menjadi teramat naif dan sangat tidak logis bila Pemkab dan DPRD Banyuwangi justru mengundanghadirkan industri yang akan menghabisi sektor pertanian, perkebunan, kelautan, wisata, dan peternakan. Atau dalam bahasa analitisnya, akan menjadi teramat pandir jika model pembangunan yang dirancang oleh Pemkab dan DPRD Banyuwangi justru meminimalkan kekuatan di satu sisi, sedang di sisi lain malah memaksimalkan ancaman.
(JATAM,03/10/07) Benarkah negara-negara yang tergabung dalam G8 serius menangani perubahan iklim, pengurangan kemiskinan dan utang? Jawabannya Tidak. Yang dituju oleh negara-negara industri maju tersebut hanyalah satu: ekstraksi minyak sebesar-besarnya.
Kenyataan diatas bisa anda temukan setelah membaca hasil studi yang bertajuk "Drilling in to Debt : An Investigation into the Relationship Between Debt and Oil", yang ditulis Stephen Kretzrmann dan Irfan Nooruddin, diterbitkan Oilchange International di tahun 2004.
Penyempurnaan dan Perubahan UU Migas Pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi
Jakarta 14 Desember 2006
a. Pendahuluan
Sejak tahun 1998, eksplorasi dan Investasi sektor Migas Indonesia menunjukkan penurunan kegiatan secara berlanjut hingga tahun 2006 ini, meskipun harga harga minyak dunia meningkat secara tajam sejak kwartal terakhir tahun 2004.
Sebaliknya potensi cadangan minyak bumi Indonesia masih tinggi berdasarkan besarnya sedimentasi yang terdapat pada berbagai sedimentary basins yang sudah diketahui.
Pemberdayaan rakyat menghadapi gegap gempita Pembangunan di “pinggang” Sulawesi.
Oleh: George Junus Aditjondro (2)
Ia tonna dolona tae’pa tu disanga Sulawesi. Ia tu den tasik manna umparitangnga da’dua lebukan. Ia tu da’dua lebukan silappo’. Susimoto anna dadi lebukan Sulawesi. Na ia tu awakna membuntu-buntu, buda salu sia buda bassi, buda bulaan.
[Pada mulanya belum ada Sulawesi. Yang ada hanyalah laut di antara dua pulau. Lalu kedua pulau itu bertabrakan. Maka jadilah pulau Sulawesi. Itu sebabnya pinggangnya bergunung-gunung, banyak sungai, dan banyak besi, banyak emas]
Montreal Kanada pada awal November memasuki musim dingin. Suhu diluar ruangan mencapai 6 – 10 derajat celcius. Rima Mananta (59th), perempuan dari suku Karonsie Dongie ini tak biasa dengan kondisi cuaca sedingin ini. Hari pertama dia datang, hidungnya langsung mengeluarkan darah dan nafasnya terasa berat. Memang suhu udara dingin Montreal sangat berlawanan kondisinya dengan suhu udara di kampungnya, Karonsie Dongi di Sulawesi Selatan yang panas di bulan yang sama. Belum lagi perutnya harus beradaptasi dengan menu makanan disana. Ibu Rima merasa makan roti tak cukup membuatnya sekenyang makan nasi dikampungnya. Tapi apapun kondisinya, Ibu Rima harus pergi ke Montreal. Ditemani oleh sejawatnya Inda fatinaware, dia diundang oleh publik Kanada untuk memberikan kesaksian terhadap sepak terjang PT. INCO, perusahaan tambang Nikel dari Kanada, yang beroperasi dengan merampas tanah leluhurnya.
Rima tak sendiri, ada kawan-kawannya dari Kaledonia Baru, Kolumbia, Guatemala dan juga warga Kanada yang datang ke Montreal. Mereka adalah perwaklian warga korban perusahaan-perusahaan tambang Kanada. Tambang yang didanai oleh sebagian dana publik dan lembaga keuangan Kanada, dan beroperasi dengan cara yang buruk dinegara lain.
1 gram emas didapatkan dengan membuang 2.100 kg limbah batuan dan tailing, dihasilkan 5,8 kg emisi beracun logam berat, timbal, Arsen, Merkuri dan Sianida
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.