Produksi : Thailand, 2003 Durasi : 6:28 “Hayya Alas Sholah, Hayya Alal Falah………”, (marilah raih kemenangan, marilah raih kemenangan…) Warga Sokla Thailand Selatan mengajak berjuang bersama melawan rencana pembangunan “Trans Thailand–Malaysia Pipeline” (pipa gas), yang akan mengancam mata pencaharian masyarakat nelayan.
Produksi : Yayasan PIKUL, 2003 Durasi : 14:28 Ketika Rio Tinto datang, di tahun 1985 untuk membuka pertambangan emas, mereka minta warga segera "angkat kaki" dari tanah adat mereka. Semula mereka menjanjikan membayar kompensasi tanah, rumah hingga membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Janji tak didapat, bahkan Brimob pun bertindak mengusir masyarakat. Film ini dikemas dalam bahasa tutur-- lewat sebuah surat untuk Rio Tinto.
Apa yang terjadi terhadap warga dan lingkungan di teluk Buyat setelah Newmont membuang limbahnya ke laut ? Film ini menceritakan apa yang dialami warga Buyat Pante sejak limbah tailing mengalir ke dasar teluk dan bagaimana kebohongan-kebohongan Newmont terhadap warga Buyat Pante. Mulai dari tuduhan melakukan pengeboman hingga menyatakan bahwa warga sehat wal ‘afiat. Potret dampak metode pembuangan limbah (Submarine Tailing Disposal) yang bahkan tak diperkenankan di negara asal perusahaan, secara telanjang dipaparkan dalam film ini.
Dengan keramahannya masyarakat Dayak menunjukkan dimana tambang emas mereka yang sudah puluhan tahun berada kepada beberapa "wisatawan asing", yang tak lama kemudian mengklaim bahwa kawasan tersebut adalah daerah Kontrak Karya pertambangan skala besar mereka. Kedatangan Indo Muro Kencana (IMK), perusahaan tambang emas dari Australia tersebut membuat berladang, berburu di hutan, mencari ikan di sungai serta menambang secara tradisional menjadi tak bebas lagi. Tak cuma lahan, tetapi juga tanah-tanah keramat, kuburan keluarga dan para leluhur masyarakat diserobot perusahaan dengan bantuan Brimob. Karena keadilan tak didapatkan di negeri tercinta, warga pun mengirimkan utusannya ke negara asal perusahaan, Australia, mengadukan perilaku perusahaannya kepada mererintah dan publik Australia. Emas tak lagi mendatangkan berkah, tetapi sengsara berkepanjangan.
Simon Chambers, Sutradara/Produser Vladimir Trivlfic & Jake Corbett, Sinematografi Benjamin Putland, Editor Tarn Willers, Perekam Suara Stefan Mork, Perancang Suara Evan Jolly, Komposer
Ketika Simon diberitahu neneknya bahwa suatu saat ia akan mewarisi sahamnya di perusahaan tambang multinasional Rio Tinto, ia pun pergi ke UK untuk mencari tahu siapakah Rio Tinto, dan berapa ‘keuntungan’ dari saham neneknya. Dalam perjalanannya, ia berjumpa banyak orang termasuk mantan aktivis Friends of the Earth yang kini bekerja untuk perusahaan tersebut. Simon mendapat kesan yang baik mengenai Rio Tinto saat mengunjungi proyek ramah lingkungan yang didanai perusahaannya, Eden Project. Namun kesan itu berubah setelah Simon menyaksikan kenyataan di Cape Prass. Apakah akhirnya Simon menerima saham pemberian neneknya itu?
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.