Siaran Pers bersama Koalisi Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo
(Jakarta, 15/07/10). Sekali
lagi rakyat Indonesia membuktikan diri lebih peduli. Solidaritas mereka
terbukti, hanya dalam waktu 6 hari sejak di launching 8 Juli 2010 di Kontras,
solidaritas Rp.1.000 untuk anak-anak korban Lapindo, telah terkumpul Rp.
50.560.675 (lima puluh juta lima ratus enam puluh ribu enam ratus tujuh puluh
lima rupiah). Solidaritas ini menunjukkan rakyat Indonesia lebih peka terhadap
masa depan pendidikan anak-anak, khususnya dalam hal ini anak-anak korban
Lapindo.
Rilis Bersama Koalisi Tolak Tambang PT Weda Bay Nickel dan MIGA, 13 Juli 2010
Rencana Bank Dunia/MIGA memberikan jaminan/garansi untuk investasi PT. Weda Bay Nickel (WBN) di Halmahera Maluku Utara, yang akan diputuskan pada 13 Juli 2010, membuktikan bahwa lembaga ini adalah lembaga yang tidak peduli terhadap resiko sosial dan lingkungan atas proyek yang dijaminkannya. Jaminan investasi sebesarnya US$207 juta merupakan modal besar yang membuat PT. WBN akan melakukan segala cara agar operasi proyek dapat berlangsung. Padahal proyek ini tidak hanya akan menghancurkan lingkungan yang kaya akan keanekaragaman hayati, juga kehidupan sosial masyarakat lokal yang masih sangat tradisional.
Sebagai korban, anak-anak korban Lumpur Lapindo tidak diperhatikan dan pemerintah maupun Lapindo yang hanya mengurus ganti rugi/jual beli dan tanggul yang tak kunjung juga selesai. Untuk melanjutkan sekolah saja, mereka kesulitan biaya. Setidaknya ada 103 anak-anak yang duduk dibangku SD, SMP dan SMU/STM pada tahun ajaran baru nanti, 2010/2011, belum pasti apakah mereka masih dapat menikmati bangku sekolah kembali. Bahkan diantaranya ada yang telah putus sekolah karena orang tuanya tak mampu lagi membiayai pendidikan dan kehidupan mereka sehari-hari, semantara biaya sekolah terus naik.
Siaran Pers Bersama Koalisi Tolak Tambang PT Weda Bay Nickel dan MIGA, 8 Juli 201
Jakarta, 8 Juli 2010. Tahun 2010 dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati (International Year of Biodiversity atau IYB), dengan tema “Biodiversity is Life, Biodiversity is Our Life”.
Sebuah laporan utama, Millennium Ecosystem Assessment (Maret 2005) juga menyoroti kerugian besar dari hilangnya keanekaragaman hayati di bumi, dengan 10-30% dari mamalia, jenis burung, dan amfibi terancam punah, akibat tindakan manusia, termasuk di dalamnya aktivitas pertambangan.
Bapak dan Ibu tentu mengikuti berita-berita Lumpur Lapindo yang, hingga kini, aktif menyemburkan lumpur panas 100.000 meter kubik tiap harinya. Melumpuhkan 19 Desa dari tiga kecamatan; Porong, Jabon, dan Tanggul Angin. Menyebabkan 14.000 KK kehilangan kehidupan normal mereka, menenggelamkan 33 sekolah dan 6 pondok pesantren menelantarkan murid-santrinya. Menyebabkan 15 orang meninggal, karena ledakan pipa gas yang disebabkan penurunan tanah setelah semburan dan 5 orang meninggal akibat gas beracun. Lumpur ini juga telah menyebabkan penyakit saluran pernafasan meningkat pesat di desa-desa tersebut.
Buku ini menceritakan serpihan-serpihan ingatan, agar cerita tak turut karam. Bukan sebagai kado ulang tahun. Bukan sebagai pemberian kepada yang bergembira. Bukan sebagai perayaan. Melainkan sebagai tanda melawan pelupaan. Grup Bakrie, raksasa bisnis yang menjadi induk PT Lapindo Brantas memiliki kekuatan besar serta punya daya luar biasa memassalkan pembungkaman. Pembungkaman juga terjadi di lembaga negara yang terlanjur di beri label "penegak hukum".