Sedikit diketahui bahwa barang-barang yang kita gunakan sehari-hari -- benda-benda yang sedemikian akrab dengan kehidupan kita seperti sabun, pasta gigi, minyak goreng sampai perhiasan emas, menyumbang kerusakan lingkungan yang tidak kecil.
Dear Mr. Presiden Hentikan penebangan hutan secara liar. Hentikan pengeksploran ke luar negeri, Karena yang akan rugi sendiri, warga Indonesia tercinta
Itu Sebait pesan Thalia untuk Presiden RI kedepan , siswi kelas VI Sekolah Dasar Kasih Ananda di Jakarta, salah satu pengunjung South to South Film Festival atau StoS 2008. Ia datang bersama puluhan temannya, lengkap dengan seragam batik.
Thalia diajak gurunya untuk menyaksikan film-film yang diputar di hari kedua StoS 2008.
“Masalah lingkungan tidak sekedar membuang sampah sembarangan. Namun lebih terkait dengan masalah ekonomi dan politik.” Demikian jawaban Mae, Koordinator Nasional Jaringan Tambang, dalam Talkshow mengiringi rangkaian pembukaan South to South Film Festival atau disingkat StoS 2008, Jumat, (25/01) di Goethe Institute, Jakarta. Mae menambahkan, “Maka vote adalah lebih dari sekedar mendukung. Yaitu warga yang berada di sekitar hulu, tempat sumber daya alam di eksploitasi - mempunyai hak memilih model pembangunan apa yang mereka butuhkan dan kita, sebagai warga yang tinggal di hilir, sebagai pengguna sumber daya alamnya, harus mendukung pilihan mereka,” tegasnya.
Apa kaitan lingkungan hidup dengan pemiskinan? South to South Film Festival atau disingkat StoS 2008 menggambarkannya pada pembukaan, di hari pertama festival. South bersirat dengan kemiskinan karena kekayaan sumber daya alamnya, yang selalu dibutuhkan oleh North (negara industri). Itu yang disiratkan Rahmat Witoelar pada pidato pembukaan StoS 2008.
“Kemiskinan dan lingkungan hidup bagaikan dua mata uang yang sama. Bila masyarakat miskin maka lingkungan pun akan rusak, begitu pun sebaliknya, lingkungan yang rusak akan membuat masyarakat semakin miskin”, ungkap Rachmat Witoelar sebagai Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia saat sambutan Pembukaan StoS 2008, di Goethe Institute, Jakarta (25/1).
Lagi-lagi ekploitasi minyak dikawasan padat huni menelan korban. Ini terjadi di wilayah Joint Operating Body (JOB) Pertamina EP dan PetroChina EastJava di Blok Tuban Jawa Timur. Kali ini korbannya hanya dipihak perusahaan. Ada 3 orang pekerja perusahaan harus dirawat di rumah sakit akibat Generator di Sumur 7-8, meledak pada 21 Januari 2008.
Blok Tuban ini memang langganan masalah, dalam tiga tahun terakhir kecelakaan-kecelakaan migas terus terjadi. Sebelumnya, 26 Juli dua tahun lalu, sumur 5 juga meledak. Akibatnya, 12 orang dilarikan kerumah sakit karena menghirup gas Hidrogen Sulfida (H2S). Tak kurang 2 ribu orang harus mengungsi. Pada 18 september, setahun lalu, ada 11 orang pingsan keracunan menghirup gas H2S yang bocor.
Di Pulau Sulawesi, masuknya industri tambang di hutan Lindung pulau Kabaena, Toka Tindung dan Siguntu telah meningkatkan kekerasan dan pelanggaran HAM? Haruskah rakyat terus menerus membayar kesalahan SBY karena mengeluarkan PP No 2 tahun 2008?