Dalam putaran kedua debat calon presiden bertema "Mengentaskan Kemiskinan dan Pengangguran", muncul pernyataan dan dialog menarik. Salah satu isu yang mengemuka adalah soal gas Tangguh yang dijual amat murah. Rendahnya harga jual gas Tangguh, berpangkal dari formula harga jual yang membatasi harga minyak mentah yang menjadi acuan, tidak boleh lebih tinggi dari 38 dollar AS/BBLS. Ini menghasilkan harga jual gas Tangguh flat, maksimal 3,35 dollar AS/MMBTU untuk kontrak penjualan jangka panjang. Padahal, bukti empiris dan teori menunjukkan harga gas selalu bergerak seirama harga minyak mentah yang amat dinamis.
Jika melihat potensi pertambangan dan banyaknya perusahaan tambang yang menyerbu Indonesia, semestinya seluruh Fakultas Hukum yang didaerahnya terdapat aktivitas pertambangan, harus mengenalkan Hukum Pertambangan pada para mahasiswa. Ironisnya sampai sekarang jumlahnya sangat minim.
Perdebatan tentang operasi pertambangan di Sulawesi Tengah masih belum usai, antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan selalu bertentangan. Kandungan mineral yang kaya di daerah ini memang sangat menggiurkan nilai ekonomisnya. Jika diklasifikasikan nilainya dalam bentuk asset, maka kandungan mineral ini merupakan deposit yang sangat berharga di masa mendatang ketika sektor lain seperti budidaya sudah tidak mampu menunjang kesejahteraan masyarakat. Namun yang terjadi saat ini sepertinya tidak demikian, sektor budidaya yang lebih ramah lingkungan justru terabaikan karena keuntungan ekonomi dari eksploitasi kandungan mineral yang ada dianggap lebih menjanjikan.
Firdaus Cahyadi, Satu Dunia.Dimuat di Koran Tempo 6 Juni 2009
Ada fenomena menarik menjelang pemilihan umum presiden 2009 ini, yaitu mencuatnya isu neoliberal. Isu itu mencuat setelah calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggandeng Boediono sebagai calon wakil presidennya. Anehnya, semua calon presiden menolak disebut sebagai penganut paham ekonomi neoliberal. Bahkan, di berbagai media, calon wakil presiden Boediono pun menolak dituduh sebagai penganut paham neoliberal.
Oleh: IGG Maha Adi—Wartawan Lingkungan. Dimuat di Koran Tempo, 23 Mei 2009
Setelah Konferensi Laut Dunia (WOC) yang pertama usai di Manado, beberapa catatan tampaknya masih perlu dialamatkan kepada isu-isu pokok dalam konferensi ini. Pertama, pemerintah Indonesia menggelar WOC antara lain dengan keyakinan terdapat basis ilmiah yang kuat dan memadai, bahwa laut dan samudra berperan penting dalam isu perubahan iklim dan pemanasan global. Untuk Indonesia, isu-isu ini akan kontekstual bila dikaitkan dengan peranan Samudra Pasifik dan Hindia tropis yang mengelilingi perairan nusantara.
Buku ini menceritakan serpihan-serpihan ingatan, agar cerita tak turut karam. Bukan sebagai kado ulang tahun. Bukan sebagai pemberian kepada yang bergembira. Bukan sebagai perayaan. Melainkan sebagai tanda melawan pelupaan. Grup Bakrie, raksasa bisnis yang menjadi induk PT Lapindo Brantas memiliki kekuatan besar serta punya daya luar biasa memassalkan pembungkaman. Pembungkaman juga terjadi di lembaga negara yang terlanjur di beri label "penegak hukum".