(Aliansi Manado, 12/05) Penangkapan dua aktivis WALHI dan pengusiran
paksa 16 aktivis SEAFISH Philipina kemaren hingga dini hari tadi,
mendapat perhatian dunia. Dua organisasi non pemerintah ternama Forest
People Programmed an Friends of The Earth Internasional, kemarin
(11/05) berkirim surat kepada presiden SBY dan jajaran aparat keamanan
Indonesia. Mereka prihatin terhadap memburuknya hak-hak kebebasan
berkumpul dan berpendapat di Indonesia.
(Aliansi Manado) Hingga Minggu malam, 10 Mei 2009, Aliansi Manado belum
mendapatkan ijin mengadakan pertemuan di lapangan Manado Square.
Rencananya, mereka akan menggelar Forum Kelautan dan Keadilan Perikanan
(FKKP), yang dihadiri perwakilan organisasi nelayan tradisional dari 17
propinsi di Indonesi. Ini terjadi karena ketakutan berlebihan
penyelenggara WOC-CTI, terhadap para pengkritiknya.
Oleh : Firdaus Cahyadi, Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia. Dimuat di Koran Tempo, 2 Mei 2009
Jika tidak ada aral melintang, pada awal Mei tahun ini Indonesia akan menjadi tuan rumah kegiatan Asian Development Bank (ADB)-Annual Governor Meeting. Pertemuan lembaga bisnis bantuan internasional itu menjadi penting bagi Indonesia, karena negeri ini menjadi penerima utang terbesar dari lembaga tersebut. Di berbagai media, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertemuan ADB di Bali akan menguntungkan Indonesia. Hal itu karena dalam pertemuan itu ADB akan memutuskan menaikkan jumlah modalnya hingga mencapai 200 persen. Artinya, kondisi itu memungkinkan ADB menaikkan nilai proyek utangnya di berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia, sekitar US$ 13 hingga US$ 15 miliar.
Oleh P. Alex Jebadu SVD, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores
Pada tgl 14 Februari 2009 Forum Cendekiawan Asal Manggarai (Forcam) di Maumere menyelenggarakan sebuah seminar tentang dampak negatif eksploitasi tambang di tiga kabupaten di Mangarai. Seminar ini membuat seluruh peserta seminar seakan bangun dari tidur. Mereka hampir tak percaya akan apa yang mereka dengar dan lihat. It’s shocking (Sungguh mengejutkan)! Melalui gambar-gambar yang ditayangkan power point (=sejenis program dalam komputer), rahim tanah Manggarai ternyata sudah lama terluka. Lubang-lubang raksasa menganga lebar dijumpai di banyak tempat. Gunung-gunung dan bukit terbongkar hancur diledakkan dinamit. Hutan lindung yang menjadi sumber mata air dilucuti. Lembah-lembah ditimbun. Sungai dan laut Flores tercemar. Pantai Robek di sebelah barat kota Reo, yang dulu biasa ditamasyai para turis manca negara, kini sudah ditinggal sepi karena kebisingan dinamit tambang. Laut Flores pantai utara sekitar Reo tercemar limbah toxic beracun. Para nelayan sulit melaut lagi karena ikan-ikan sudah hilang.
Pegunungan Kendeng di Pati, Jawa Tengah akan ditambang PT Semen Gresik. Luasnya mencapai 2.000 ha yang meliputi hampir 7 desa. Sampai saat ini warga menolak rencana ini, karena tambang ini akan mengancam penghidupan masyarakat di sana. Ancaman hilangnya sumber-sumber air, hilangnya mata pencaharian hingga rusaknya tata kelola masyarakat merupakan alasan utama mengapa masyarakat menolak tambang tersebut.
Buku ini menceritakan serpihan-serpihan ingatan, agar cerita tak turut karam. Bukan sebagai kado ulang tahun. Bukan sebagai pemberian kepada yang bergembira. Bukan sebagai perayaan. Melainkan sebagai tanda melawan pelupaan. Grup Bakrie, raksasa bisnis yang menjadi induk PT Lapindo Brantas memiliki kekuatan besar serta punya daya luar biasa memassalkan pembungkaman. Pembungkaman juga terjadi di lembaga negara yang terlanjur di beri label "penegak hukum".