Terlalu sedikit orang yang tahu bahwa media B juga dimiliki oleh seorang bankir, pemasok batu bara, atau pemegang hak jaringan butik internasional. Sehingga publik adem saja saat mereka tidak mendapatkan informasi apa pun seputar kisruh pembayaran royalti penambangan batu-bara.
Sianida adalah salah satu jenis bahan kimia yang digunakan perusahaan
tambang untuk mengambil emas dari bijih. Bijih dengan sedikit kandungan
emas dipecah dan dikumpulkan di tanah, kemudian disiram dengan sianida.
Ini kemudian dikenal dengan nama Cyanide heap leaching.
Oleh : Firdaus Cahyadi, Knowledge Sharing Officer for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia
Dimuat di Koran Tempo Edisi 12 Nopember 2008
"Untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan, saya siap maju menjadi presiden 2009," kata Sri Sultan Hamengku Buwono X di Alun-alun Utara Kota Yogyakarta, seperti banyak dikutip media massa beberapa waktu yang lalu. Kesiapan "Raja" Jawa menjadi calon presiden itu mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak yang mendambakan pimpinan alternatif di luar Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sultan dinilai akan mampu mengimbangi popularitas kedua tokoh politik tersebut.
Lagi-lagi pulau kecil terancam. Pulau Wawoni di Sulawesi Tenggara yang luasnya hanya 86,76 km2, saat ini terancam oleh 6 perusahaan tambang nikel, pasir besi, krom dan emas yang dikeluarkan oleh Bupati Kowane. Tambang-tambang itu telah merusak kebun-kebun warga, seperti kebun kelapa, pala, cengkih, merica, yang selama menjadi gantungan hidup masyarakat. Sedikitnya 28.544 penduduk Wawoni terancam kehilangan sumber kehidupan, tempat tinggal dan pengetahuan lokal yang dirusak karena kehadiran tambang
“Tiga miliar untuk air minum yang tercemar phyrite, empat miliar
untuk risiko kontaminasi radio aktif, tujuh miliar kompensasi beban
psikologis karena kesenjangan sosial, dan dua miliar untuk hancurnya
habitat pelanduk, usul Arai berapi – api”
Kampanye memperjuangkan penyelamatan Kalimantan dari eksploitasi dan ekstraksi aset-aset alam yang membabi buta dan mengancam keselamatan Warga Kalimantan dalam jangka panjang.
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.