Datanglah ke Pegunungan Molo di Nusa Tenggara Timur. Pegunungan indah yang memanjang dari timur hingga barat Kepulauan Timor itu menyimpan kekayaan marmer, yang siapa pun pasti tergoda untuk menambangnya. Seandainya saja tak ada perempuan bernama Aleta Ba'un di sana, tentu pegunungan itu kini sudah luluh-lantak, habis digerus untuk diambil marmernya.
Tapi Aleta, yang memiliki panggilan akrab Mama Leta, tak rela pegunungan itu hancur. Bersama masyarakat setempat, dia terus menolak kedatangan buldoser yang akan merusak alam di sana. "Saya hanya ingin melindungi tanah kelahiran dan keindahan alam seperti apa adanya," kata perempuan 41 tahun itu dengan nada lembut.
(Sindikat Lembaga Keuangan Internasional dan Keterlibatannya dalam Penghancuran Iklim Global)
Ditulis oleh Dani Setiawan dan Yuyun Harmono (Koalisi Anti Utang)
Lembaga Keuangan Internasional dan Ketidakadilan Ekonomi Dampak yang sangat besar akibat kegagalan proyek-proyek yang dibiayai utang luar negeri, telah melahirkan penolakan atas model pembangunan neoliberalisme dewasa ini. Sebuah sistem ”ekonomi keruk” yang melapangkan jalan bagi pemilik kapital atas sumber-sumber kekayaan ekonomi di negara-negara penghutang. Kondisi yang melahirkan situasi kemiskinan di negara dunia ketiga dan kesejahteraan bagi negara industri maju saat ini.
Awal bulan ini, Armin Marin - ayah dari lima anak, ditembak tepat di kepala oleh pekerja PT Sibuyan Nickel Properties Development Corp. (SNDPC) – mitra perusahaan tambang BHP Billiton.
Pagi itu, Marin, 42 tahun - Aktivis yang getol memperjuangkan hak masyarakat adat dan lingkungan, juga anggota parlemen di pulau Sibuyan tersebut, berusaha meredam pekerja perusahaan yang hendak menggunakan senjata menghadapi protes ratusan orang, yang menuntut dihentikannya eksplorasi tambang Nikel di Barangay España, San Fernando di pulau Sibuyan, Philipina.
Tambang Nikel ini ditolak warga. Tahun lalu 8 ribu orang melakukan protes terhadap kehadiran mereka. Pagi itu protes mereka yang kesekian kalinya.
Oleh Siti Maimunah, dimuat di harian Kompas, 25 Oktober 2007
Jargon feed the hungry world perusahaan transnasional mungkin akan berubah menjadi feed cars not people. Mereka segera bergeser dari bertani untuk pangan menjadi bertani untuk energi.
Alasannya, dunia sedang krisis energi. Apalagi banyak subsidi akan mengalir untuk pengembangan energi nabati di berbagai negara, salah satunya Amerika Serikat (AS).
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan menganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: Lawan! (Wiji Thukul)
Saya mengenal Yuli, Tommy, dan Benny hanya sesaat. Yuli seorang mahasiswi yang energik dan antusias. Tiap kali bertemu selalu ada yang digelisahkan. Tentang ketidak-adilan atau mahalnya biaya pendidikan. Sedangkan Tommy beberapa waktu lalu mampir ke kantor. Pria muda yang tenang dan sedikit gundah. Mengadukan putusan skorsing yang dikeluarkan oleh kampusnya. Sebuah kampus yang mengantarkan Rektornya menjadi menteri komunikasi. Kampus yang mahir dalam banyak temuan tekhnologi. Kampus yang sepadan derajadnya dengan kampus-kampus ternama lainnya.
Konferensi American Association of Petroleum Geologists di Cape Town, Afrika Selatan pada 27 - 29 Oktober 2008 menyimpulkan pengeboran sebagai penyebab semburan lumpur Lapindo
Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.