Persoalan lapangan pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan ibu dan anak menghantui masyarakat Pulau Gebe, tempat PT ANTAM mengeruk nikel. Itulah yang membuat warga empat desa Pulau Gebe, yakni Kacepi, Sanafi Kacepo, Umera dan Yoi, bersama dengan mahasiswa melakukan aksi, konvoi dan menduduki kantor PT Antam di sana sejak 23 Februari 2010. Sayangnya tuntutan masyarakat yang meminta Dana Pengembangan masyarakat paska tambang dijawab PT ANTAM dengan mendatangkan 40 aparat Brimob berseragam lengkap memakai tameng anti huru hara bersama Kapolres Halmahera Tengah pada 25 Februari 2010. Bahkan pada aksi 27 Februari 2010, warga yang bertahan di kantor ANTAM dilempari gas air mata, ditembaki dan dipukuli dengan popor senjata. Akibatnya, delapan warga dan mahasiswa STIKIP Ternate tertembak. Seorang mahasiswa luka di kepala karena dipukul. Serta 5 warga lainnya mengalami luka ringan.
Ancaman terhadap kehidupan kami ini tidak menjadi bahan pemiikiran bagi Kepala Daerah di pesisir barat Sumatera. Ditengah usaha mati-matian kami menyelamatkan kawasan pesisir, Kepala Daerah bersama jajarannya bergotong royong memberikan izin pengrusakan kawasan pesisir kepada perusahan-perusahaan penambang pasir Besi.
Pada hari Senin, 11 Januari 2010 ribuan masyarakat pesisir dari penjuru Maje, Ilir Talo, Seluma Timur, Air Nipis, Rejang Lebong, Mukomuko mendatangi kantor Polda Bengkulu dan Kantor Gubernur Bengkulu untuk meminta Gubernur mencabut ijin-ijin tambang yang ada di Bengkulu, karena terbukti telah menyengsarakan rakyat.
Bencana yang kerap melanda Kalimantan Selatan bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tahun 2009 saja telah terjadi 21 kali banjir dan lebih dari 15.000 hektar sawah terendam. Tercatat 11 dari 13 kabupaten/kota menjadi daerah langganan banjir dan tanah longsor setiap tahunnya. Seperti Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala, Tanah Laut, dan Kotabaru. Kabupaten Hulu Sungai Utara, Banjar, dan Tanah Bumbu merupakan daerah paling rawan terhadap ancaman bencana ini. Kota Banjarmasin juga tak aman karena rob/pasang laut selalu terjadi dan merendami permukiman warga. Sepanjang 2009, korban bencana alam ini mencapai 19.366 keluarga dengan taksiran kerugian Rp3 miliar lebih.
(Copenhagen, 16/12/09) Masyarakat adat Kanada menolak eksploitasi pasir Tar (tar sands). Selasa, 15 Desember lalu, mereka menggelar aksi global menolak penambangan pasir Tar. Kemarin, mereka dan aliansi para pendukungnya dari seluruh dunia yang datang di COP 15 UNFCCC, menggelar karpet selamat datang untuk Perdana Menteri Kanada Stephen Harper di Kedutaan Besar Kanada di Copenhagen.
"Hai Harper! Tutup Eksploitasi Tar Sands!", tegas mereka.
1 gram emas didapatkan dengan membuang 2.100 kg limbah batuan dan tailing, dihasilkan 5,8 kg emisi beracun logam berat, timbal, Arsen, Merkuri dan Sianida
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.