Tapi permainan menjadi “Sang Penyelamat” ala WWF dan Lafarge ini bukan
hal baru. Jika anda masuk bandara Copenhagen dan berjalan sepanjang
lorong menuju jalan keluar, banyak sekali iklan perusahaan skala besar,
mulai Shell, Siemens, Bayer dan lainnya. Untuk energi masa depan, Kita
butuh mewujudkan pengelolaan karbon, begitu salah satu iklan Shell,
perusahaan minyak dan gas bumi raksasa dunia.
Beberapa negara maju menyiasati kematian Protokol Kyoto. Skenario telah ditentukan. Informasi yang sesat telah disebarkan ke media dan publik bahwa Protokol Tokyo berakhir pada 2012. Diceritakan bahwa konferensi perubahan iklim yang akan diselenggarakan di Kopenhagen Desember 2009 akan menyepakati atau meletakkan sebuah kesepakatan baru yang menggantikan Protokol Tokyo - disebut sebagai kesepakatan "pasca-Kyoto".
Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) harus memiliki sikap tegas dan tidak mendua atas solusi krisis iklim, dan segera melakukan penghentian pembangunan perkebunan kelapa sawit di wilayah2 gambut di Kalimantan Tengah khususnya di eks PLG, termasuk juga di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Papua. Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit akan memperparah kerusakan gambut dan iklim global. Dimana perusahaan-perusahaan besar milik Negara maju bercokol disana. Di eks PLG sekitar + 360.000 hektar kebun sawit mendapat areal di gambut, Hutan Tanaman Industri. Ini membuktikan ketidaktegasan pemerintah dan DPNI atas solusi krisis iklim.
Masyarakat di Babakan Kalianget, Desa Pasirawi, Kecamatan Rawamerta, Karawang, tak bisa lagi tenang bekerja di sawah atau tinggal di rumahnya, apalagi memikirkan musim tanam yang sudah di depan mata. Pertamina, tanpa permisi kepada masyarakat Babakan, telah meledakkan beberapa dinamit di sekitar rumah dan sawah milik penduduk, sejak 24 Oktober lalu, untuk kepentingan seismic Pertamina. Meski warga sudah menyatakan keberatan, karena tak ada garansi atas bahaya peledakan tersebut, warga malah mendapat intimidasi.
Dari Quito ke Tokyo, judul sebuah artikel tentang penyelamatan Taman nasional Yasuni di Ekuador. Yasuni adalah kawasan cagar biosfir dunia di kawasan Amazon, dan menjadi bagian program UNESCO, Man and Biosphere. Yasuni merupakan wilayah kelola suku Huanoni, Kichwas dan beberapa masyarakat adat lainnya. Juga rumah bagi 100 ribu jenis serangga dalam setiap hektarnya, dengan populasi 6 triliun ekor per hektar, yang dicatat sebagai keragaman hayati paling tinggi di dunia.
Tapi, Yasuni juga ditasbihkan sebagai bagian proyek Iishpingo-Tambococha-Tiputi (ITT), karena memiliki 1000 juta barel minyak mentah, setara 440 juta ton karbon. Proyek pertambangan migas skala raksasa ini, akan memproduksi 30 – 108 ribu barel minyak perhari, hingga 29 tahun. Inilah ancaman terbesar Yasuni, dan dilema bagi Ekuador.
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.