Penulis : P. Raja Siregar Penerbit : WALHI. September 2006 Halaman : 320
Buku ini mendokumentasikan bagian-bagian terpenting seputar kasus lingkungan dan kesehatan di Buyat, Kabupaten Minahasa Selatan, sekitar lokasi pertambangan emas PT.Newmont Minahasa Raya (NMR). Aspek lingkungan, kesehatan, penegakan hukum, dan peran media serta akademisi disajikan pada bab-bab terpisah. Informasi dan analisa disajikan secara detail, dan sejumlah diantaranya belum pernah dibahas di media massa ataupun forum ilmiah. Buku ini ditulis oleh penggiat lingkungan yang mengamati masalah lingkungan di dusun Buyat Pante sejak tahun 2000, dan melakukan beberapa penelitian di wilayah tersebut.
Penulis : Arianto Sangaji Penerbit : PT. Pustaka Sinar Harapan Tahun Terbit : 2002 Pengantar : DR. George Junus AdiTjondro dan Prof. Dr. Murai Yoshinori
Buku ini merupakan kajian ekonomi politik Pertambangan Indonesia. Di dalamnya memuat informasi aktual dan analisis mendalam yang dilakukan penulis terhadap praktek buruk Inco selama 30 tahun lebih operasinya di Sorowako (Sulsel). Melalui pendekatan ekonomi-politik, penulis berusaha untuk memberikan perspektif yang lebih luas bahwa sepak terjang Inco selama ini tidak hanya terkait soal penumpukan kapital saja. Tetapi sudah bercampur-baur dengan kepentingan politik dan kekuasaan dan diperburuk lagi oleh inisiatif-inisiatif kekuatan kapitalisme global.
Penulis : Erwiza Erman Pengantar : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto Tahun Terbt : 2005
Dunia Pertambangan di Indonesia tidak saja menunjukkan betapa kayanya sumber daya alam nusantara, namun juga menorehkan bara konflik yang terus membara, sejak zaman kolonial hingga sekarang ini. Buku yang semula merupakan disertasi penulis untuk meraih gelar Ph.D di Universitas Amsterdam ini, secara holistik memaparkan situasi tersebut dalam perspektif sejarah sosial dan pertambangan, yang membentang dalam rentang masa lebih dari satu abad (1892 - 1996). Dengan mengambil fokus perhatian pada aspek produksi dan dunia sosial politik penambang, penulis menelusuri dunia pertambangan dalam konteks perkembangan ekonomi dan sosial politik baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Hasilnya? Gambaran yang benderang mengenai aspek perubahan dan kontinuitas kehidupan dunia tambang yang begitu kompleks. Dan dalam kompleksitas kehidupan tambang tersebut, konflik kelas dan etnik menjadi warna dominan yang mewarnai sejarah pertambangan Indonesia
Penulis : Tracy Glynn Penerbit : JATAM Tahun Terbit : 2004
KTT bumi lambat laun menjadi kendaraan korporasi, salah satunya untuk mempromosikan "Sustainable Mining" dimana pertambangan merupakan industri yang berkelanjutan. Hal ini terlihat dari pertemuan Ke Empat Komite Persiapan Konferensi Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan (Prepcom IV) KTT Bumi. Pertemuan ini oleh industri pertambangan dijadikan alat untuk mendapatkan legitimasi atas operasi mereka yang membuat masyarakat dan lingkungan terus-menerus dirugikan. Karena itulah masyarakat korban pencemaran lingkungan, bersama dengan organisasi masyarakat sipil yang bekerja dalam isu pembela keadilan lingkungan dan sosial bersatu dan berkonsolidasi menggalang dukungan untuk menyatakan penolakan atas pertemuan tersebut. 74 perwakilan dari 15 negara berkumpul dalam suatu workshop yang difasilitasi JATAM pada tanggal 24-27 Mei 2002 untuk membahas dampak buruk pertambangan dan menyusun serangkaian tuntutan yang disuarakan pada Prepcom IV.
Buku yang dikemas populer dan penuh warna ini merangkum hasil-hasil diskusi dalam workshop tersebut dalam beberapa tulisan. Beberapa di antaranya adalah: ketidakadilan yang ditimbulkan suatu pertambangan emas; tentang Indonesia yang semula kaya cadangan minyak dan gas, namun kini dilanda krisis energi akibat eksploitasi yang merusak; pentingnya pelarangan tambang di hutan lindung; kesaksian perempuan korban tambang dan tuntutannya; kian mendunianya moratorium tambang; serta sejumlah deklarasi, yakni Deklarasi London, Pernyataan AIMES (The Africa Initiative on Mining, Environment, and Society ) tentang Pertambangan, serta Pernyataan Workshop Pertambangan Internasional tersebut di atas.
Penulis :Siti Maimunah, A. Kirom, Raja Siregar, Indro Sugiarto, Dyah Paramitha, Igor O’neill, Helvy Listyani, Nurhidayati Penerbit : Koalisi Kasus Buyat Tahun Terbit: 2004
Saat penutupan tambangnya, 31 Agustus 2004, Newmont meninggalkan lebih dari 4 juta ton limbah tailing di dasar teluk Buyat. Sekitar 70 keluarga nelayan kehilangan mata pencaharian, 80% lebih dari mereka mengalami gangguan kesehatan serius, puluhan anak putus sekolah, sementara konflik horizontal terjadi berkepanjangan. Akhirnya pemerintah mengumumkan bahwa Teluk Buyat tercemar akibat limbah tailing tambang PT Newmont. Dengan modal dan kekuasaannya, Newmont, perusahaan tambang emas terkaya di dunia ini berupaya dengan licik memanipulasi informasi dengan mengemukakan fakta-fakta yang berlawanan dan merugikan komunitas.
Buku ini tak hanya memaparkan kilas balik kasus Buyat, tetapi juga mengungkapkan bagaimana kondisi terakhir warga dan lingkungan di sana setelah pemerintah mengumumkan Teluk Buyat tercemar dan beresiko bagi manusia. Buku ini juga menampilkan fakta-fakta kebohongan dan manipulasi yang dilakukan perusahaan, pemerintah dan akademisi berkedok riset ilmiah.
Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta