Jakarta- Kekayan bahan tambang telah digali besar-besaran untuk ekspor dalam bentuk bahan mentah. Sementara limbah tambang yang mencapai milyaran ton dan lubang-lubang menganga puluhan hektar sedalam ratusan meter akan menjadi warisan seumur hidup penduduk lokal. Sumber daya energi seperti minyak bumi, batubara dan gas juga diperlakukan tidak berbeda. Kiriman minyak dan gas ke luar negeri lancar sementara kebutuhan domestik tersendat-sendat bahkan menuju krisis energi berkepanjangan. Begitulah sisi lain industri pertambangan di Indonesia pada usianya yang hampir empat dasawarsa.
Perairan Taman Nasional Kepulauan Seribu lagi-lagi tercemar tumpahan minyak (19/02). Kasus ini menjadi bukti terbaru rendahnya kemauan juga kemampuan Menteri Lingkungan Hidup serta jajaran Kepolisian dalam menangani kasus kejahatan lingkungan dan untuk memastikan hak masyarakat mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat. Padahal dua institusi publik ini adalah pintu terakhir penegakan hukum lingkungan di negeri ini. Ironisnya banyak kasus kejahatan lingkungan yang justru masuk "peti es" dan tidak tersentuh lagi.
Setelah melalui persidangan tertutup yang berlarut-larut akhirnya terkuak sudah skenario dibalik negosiasi pemerintah Indonesia dan PT Newmont Minahasa Raya dalam perkara perdata pencemaran lingkungan di Teluk Buyat, Sulawesi Utara. Newmont dan Pemerintah akhirnya mengumumkan ‘kesepakatan jahat’ (evil agreement) senilai 30 juta USD yang mengharuskan pemerintah mencabut Gugatan Perdata senilai 135 juta USD di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
- Industri Pertambangan di Kalimantan Timur Harus Segera Dirasionalisasi
Jakarta, Samarinda. Untuk kesekian kalinya, kecelakaan terjadi di pertambangan PT Kitadin Banpu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Longsor pada 31 Januari 2006 lalu mengakibatkan tiga korban tewas. Kecelakaan ini merupakan akumulasi pengelolaan tambang yang buruk dan berlangsung sejak lama dengan dukungan penuh pemerintah pusat. Sementara pemerintah daerah dan penduduk lokal harus menanggung biaya-biaya sosial serta rusaknya sungai dan lahan produktif.
Jakarta;. Emas, intan dan bahan tambang lainnya yang berkilau abadi dan mahal, lebih mudah kita jumpai, dibanding suara-suara serta potret dari lokasi terpencil dan tak terdengar dimana emas dan minyak berasal. Di StoS Film Festival, JATAM dan KELIR Nusantara pada Rabu hingga Jumat minggu ini (25-27 Januari 2006) akan menggelar South to South Film Festival yang menyuguhkan beberapa film dokumenter tentang pertambangan serta pameran foto dengan tema manusia dan lingkungan. Sektor tambang akhir-akhir ini banyak disorot terkait dengan kasus kekerasan dan kerusakan lingkungan. Namun, tanpa pretensi untuk menghakimi, Festival Film ini ingin membuka lebih banyak informasi di balik dunia pertambangan lewat hasil karya para filmmaker yang mendokumentasikan pertambangan dari berbagai benua.
1 gram emas didapatkan dengan membuang 2.100 kg limbah batuan dan tailing, dihasilkan 5,8 kg emisi beracun logam berat, timbal, Arsen, Merkuri dan Sianida
Buku ini menceritakan serpihan-serpihan ingatan, agar cerita tak turut karam. Bukan sebagai kado ulang tahun. Bukan sebagai pemberian kepada yang bergembira. Bukan sebagai perayaan. Melainkan sebagai tanda melawan pelupaan. Grup Bakrie, raksasa bisnis yang menjadi induk PT Lapindo Brantas memiliki kekuatan besar serta punya daya luar biasa memassalkan pembungkaman. Pembungkaman juga terjadi di lembaga negara yang terlanjur di beri label "penegak hukum".