| on Wednesday, 16 December 2009
|
Views : 1274  |
(Copenhagen, 16/12/09) Masyarakat adat Kanada menolak eksploitasi pasir Tar (tar sands). Selasa, 15 Desember lalu, mereka menggelar aksi global menolak penambangan pasir Tar. Kemarin, mereka dan aliansi para pendukungnya dari seluruh dunia yang datang di COP 15 UNFCCC, menggelar karpet selamat datang untuk Perdana Menteri Kanada Stephen Harper di Kedutaan Besar Kanada di Copenhagen.
"Hai Harper! Tutup Eksploitasi Tar Sands!", tegas mereka.
*****
(Copenhagen, 16/12/09) Masyarakat adat Kanada menolak eksploitasi pasir Tar (tar sands). Selasa, 15 Desember lalu, mereka menggelar aksi global menolak penambangan pasir Tar. Kemarin, mereka dan aliansi para pendukungnya dari seluruh dunia yang datang di COP 15 UNFCCC, menggelar karpet selamat datang untuk Perdana Menteri Kanada Stephen Harper di Kedutaan Besar Kanada di Copenhagen.
“Sebagai Masyarakat Adat, kami hadir di negosiasi iklim internasional sekarang ini untuk berbicara tentang ancaman terhadap budaya serta dampak perubahan iklim yang berdampak buruk untuk kehidupan kami,” ujar Clayton Thomas Muller, pengkampanye pasir tar dari lembaga Jaringan Lingkungan Adat. “Kanada telah menghambat negosiasi iklim dan tidak mewujudkan komitmen Kyoto atau meratifikasi UNDRIP hanya demi pasir tar.”
Pasir tar berwarna hitam ini dikeruk, diperas dan diambil minyaknya. Ia menghasilkan minyak bumi, yang kemudian juga dipakai sebagai bahan bakar fosil.
“Ekstraksi bahan bakar fosil dari pasir tar menyebabkan banyak warga kami menderita kanker. Racun itu juga membunuh kebudayaan kami karena menghancurkan wilayah adat dan membunuh planet kami dengan karbon,” ucap Eriel Tchekwie Deranger, anggota Athbasca Chipewyan First Nation dan pengkampanye pasir tar untuk Rainforest Action Network.
“Sepertinya, Kanada lebih berkomitmen mengekstraksi bahan bakar fosil dibanding memperjuangkan hak asasi manusia atau aksi nyata untuk menangani perubahan iklim. Stephen Harper, kami menyambut anda di Copenhagen karena kami ingin aksi nyata untuk perubahan iklim, dan itu artinya menghentikan eksploitasi pasir tar dan moratorium untuk pengembangan bahan bakar fosil baru.”
“Pasir tar adalah alasan kunci mengapa Kanada gagal melakukan aksi untuk perubahan iklim. Ketika Harper berjanji memotong emisi Kanada walaupun hanya sebesar tiga persen, emisi pasir tar malah berlipat tiga,” ujar Maude Barlow, Ketua Council of Canadians.
Penambangan pasir tar adalah proyek industri yang terbesar dan paling intensif sedunia. Para pemimpin adat yang terkena dampak pasir tar dan jaringannya menyatakan, Kanada tidak memegang komitmen Kyoto mereka dan tidak meratifikasi Deklarasi PBB untuk Hak Masyarakat Adat demi investasi setengah trilyun rupiah yang didapat dari eksploitasi pasir tar.
Sebagai simbol keramahtamahan untuk Perdana Menteri dan tindakan solidaritas bersama komunitas yang terdampak pasir tar, perwakilan masyarakat adat dan jaringan mereka memberikan keranjang penuh dengan dokumen yang harus diperhatikan oleh Perdana Menteri Harper. Dokumen-dokumen ini termasuk Kyoto Protokol, First Nations Treaties, dan Deklarasi PBB untuk Hak Masyarakat Adat.
Sebuah aksi global melawan pasir tar sedang digelar di seluruh dunia, mulai Copenhagen, London, London (UK), Montreal, Toronto, Edmonton, Vancouver, dan sepanjang Amerika Utara. Para pendukung aksi termasuk Indigenous Environmental Network, Rainforest Action Network, Council of Canadians, Indigenous Peoples Power Project, dan UK Tar Sands Group.
Di Copenhagen, dengan tegas mereka bilang, Hai Harper! Tutup Eksploitasi Tar Sands.
Penulis : Siti Maemunah, JATAM/ CSF Indonesia
Sumber : www.smartmeme.org/climate
|
|
|