| on Tuesday, 14 August 2007
|
Views : 1218  |
(JATAM, 14/08/07) Kaminah, salah seorang pengungsi Reno Kenongo - tak tahan melihat anak-anak kecil berlarian dan bermain di sekitar pasar - sejak pagi mulai. Diantaranya, ada 10 anak putus sekolah TK – sejak semburan lumpur Lapindo menenggelamkan kampung mereka delapan bulan lalu. Kampung itu berjarak sekitar 1 jam dari Surabaya.
Pasar Baru Porong dihuni 776 Kepala Keluarga, mereka tak bersedia menerima uang kontrak rumah Rp 5 juta untuk dua tahun. Mereka juga menolak pembayaran jual beli model 20% dan 80% yang ditawarkan Lapindo – yang diamini Presiden SBY. “Aneh, kami kan korban, sekarang kami diperlakukan bagai penjual tanah. Malah pembeli yang menentukan pembayarannya. Kami juga diharuskan memberikan sertifikat tanah yang asli, meskipun baru dibayar 20%”, ujar Sunarto, ketua kelompok pengungsi di lokasi tersebut. “Kami menolak pindah dari lokasi pengungsian, menerima uang kontrakan membuat kami tercerai berai dan tidak bersatu lagi. Juga biar semua orang ingat dan tahu, bahwa urusan Lapindo belum selesai dan tak akan berhenti setelah mereka berhasil memindahkan orang dari desanya dan bertebaran kemana-mana”, tambahnya.
Di tempat pengungsian itu, terdapat 78 anak usia sekolah TK dan 250-an balita. Sebagian besar orang tua mereka dulunya tinggal di Reno Kenongo. Dari jumlah tersebut hanya 8 orang anak yang mampu meneruskan sekolahnya di TK di luar kawasan pengungsian, sementara sisanya hanya bermain dan berkejar-kejaran di sekitar lokasi pengungsian setiap harinya. Inilah yang membuat Kaminah prihatin.
Anak usia balita lebih parah. Menu makanan yang disediakan Lapindo untuk anak-anak ini tak berbeda dengan orang dewasa – satu bungkus nasi dengan lauk ikan, tempe kadang telur plus sedikit sayur. Padahal makanan pokok dan tambahan untuk balita, sangatlah mahal. Apalagi di saat harga susu naik seperti saat ini. Dan mata pencaharian orang tua mereka hilang, sejak lumpur menggenangi kampung halaman.
Pengungsi telah berkali-kali melakukan unjuk rasa ke kantor Bupati, meminta jatah makan diganti dengan uang tunai agar mereka bisa mengatur menu sendiri –termasuk menu bayi. “Tidak apa-apa meskipun harganya diturunkan dari Rp 15 ribu per hari menjadi Rp 10 ribu per hari, asalkan dalam bentuk tunai. Tapi pemerintah dan Lapindo menolaknya”, kata Kaminah
Tapi sejak bulan lalu, hati Kaminah sedikit tenang. Setidaknya, anak-anak usia TK di pengungsian itu sekarang memiliki kegiatan baru. Setiap pagi mereka pergi ke TK Istiqlal – TK alternatif yang dibuat warga di komplek pengungsian di pasar baru Porong tersebut.
Ruang terbuka berukuran 8 x 12 – di bawah bangunan pasar Baru Porong, disekat dan berubah fungsi menjadi dua ruangan kelas. Ada kelas A, untuk anak usia 4 hingga 5 tahun, dan kelas B untuk anak usia 5 hingga 6 tahun. Seluruh siswanya berjumlah 70 anak.
Bersama tetangganya - Nurfalisah, Kaminah ditugaskan mengajar kelas B. Untunglah Kami – panggilan Kaminah, punya pengalaman mengajar. Selama dua tahun dia mengajar Bahasa Indonesia, untuk murid kelas 4 hingga kelas 5 Sekolah Dasar Permisan. Sejak satu setengah tahun lalu, Kami berhenti mengajar di SD Permisan. “Gajinya rendah. Apalagi guru kontrak seperti saya, hanya dibayar Rp 80 ribu sebulan, padahal saya sudah bekerja 2 tahun lebih”, ujarnya.
“Untuk menghemat, setiap harinya saya memilih ngengkol sepeda ke sekolah, biasanya butuh waktu setengah jam dari rumah ke sekolah”, lanjutnya. Ngengkol dalam bahasa jawa berarti mengayuh. Akhirnya, Kaminah memutuskan berhenti mengajar.
Keputusan Kami bersamaan dengan pengumuman bahwa Lapindo – yang sedang mengebor di sumur Banjar Panji -1 Porong, membutuhkan karyawan bagian cleaning service.
Kami pun cepat-cepat melamar kesana dan diterima. Di tempat kerjanya yang baru, dia mendapat tugas membersihkan kamar pekerja, mencuci dan menyetrika baju mereka. Gajinya sehari Rp 20 ribu.
Tapi, Kami hanya bertahan di hari ketiga bekerja di sana, hari berikutnya - dia mengundurkan diri. “Tidak tahan. Risi rasanya mengerjakan sesuatu di tengah-tengah pekerja yang semuanya lelaki. Apalagi hanya saya sendirian, perempuan yang bekerja disana”.
Akhirnya, Kami memilih bekerja di sebuah home industri rokok. Hampir setahun dia bekerja di Pabrik Rokok Suradana - hanya berjarak 3 rumah dari tempatnya tinggal. Dia kerja borongan, tiap 3.000 batang rokok yang digilingnya, dibayar Rp 10 ribu.
Sejak semburan lumpur Lapindo menenggelamkan kampungnya, Kami dan keluarganya mengungsi ke pasar baru Porong – sejak tujuh bulan lalu. Sekarang dia mengajar kelas B di TK Istiqlal, muridnya berjumlah sekitar 27 anak, di kelas B.
Sebenarnya dia mengalami banyak kesulitan dalam mengajar siswanya. “Mengajar anak SD lebih mudah dibanding anak TK. Mereka lebih suka jalan-jalan dan naik di atas bangku dibanding mendengarkan gurunya. Tenaga yang dikeluarkan lebih banyak. Guru juga harus memperagakan apa yang diajarkannya. Mereka juga lebih aleman atau manja, seperti butuh perhatian lebih”, papar Kami. “Mengajar menjadi lebih sulit karena kami tak punya panduan kurikulum. Saya bekas guru SD, sementara teman mengajar – Nurfalisah, bekas guru SMA. Kami tak punya pengalaman mengajar TK”, tambahnya.
Sejak mengajar, Kami dan guru lainnya belum mendapatkan gaji. Maklum, pengungsi di pasar Baru Porong ini kehilangan segalanya, rumah, lahan dan harta benda – tenggelam lumpur Lapindo. (JM)
Pasar Baru Porong, 9 Agustus 2007
|
|
|