| on Sunday, 24 January 2010
|
Views : 1238  |
Siaran Pers StoS Film Festival, 24 Januari 2010
Keselamatan harus diperjuangkan, itu yang ingin disampaikan warga pesisir barat Bengkulu lewat film Di Balik Pasir, yang diputar perdana pada hari terakhir StoS Film Festival, 24 Januari 2010. Film berdurasi sekitar 29 menit ini bercerita pontang-pantingnya warga beberapa kampung pesisir Penago Kabupaten Seluma Bengkulu, sejak perusahaan tambang bijih besi masuk. Pemerintah menawarkan kesejahteraan lewat pengerukan pasir besi, tapi warga malah memilih laut, ladang dan kebun.
Film Di Balik Pasir salah satu potret nyata daya rusak tambang mampu merusak lingkungan dan memiskinkan warga – yang bergantung pada alam sekitarnya dalam jangka panjang. Film ini juga memberikan pesan global kepada dunia, bahwa pemenuhan bahan-bahan industri di negara lain, gaya hidup boros di negara lain, harus dibayar penduduk belahan dunia lainnya – yang dikeruk sumber daya alamnya.
Bijih besi adalah bahan utama pembuatan baja dan produk otomotif. Cerita Film Di Balik Pasir tak akan ada jika permintaan bijih besi dunia tidak naik. Dampak perubahan iklim tak membuat negara-negara industri terpanggil mengubah pola konsumsinya yang rakus energi fosil. Bahkan raksasa-raksasa industri baru lahir, macam China dan India yang terus meningkatkan permintaan batubara dan bahan-bahan tambang, bersama naiknya penjualan otomotif di negara itu. Tahun lalu penjualan otomotof China naik 46%, kenaikan tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Dan ini berdampak pada Indonesia.
Ijin-ijin baru dan operasi pertambangan bijin besi bermunculan di Flores, Lumajang, Jokjakarta, Garut, Kebumen, Bengkulu hingga Aceh Besar. Film Di Balik Pasir menceritakan apa yang dihadapi penduduk Bengkulu saat tambang bijih besi datang. Lewat film ini, StoS Film Festival 2010 ingin menghubungkan perasaan, semangat dan pengalaman hidup warga di kawasan-kawasan pengerukan dengan penduduk perkotaan, konsumen terbesar produk otomotif. Cara ini diharapkan melahirkan kesadaran baru tentang gaya hidup yang lebih bertanggung jawab.
Hari terakhir StoS Film Festival akan menampilkan film-film tentang Isu Globalisasi dan pemiskinan, serta film anak-anak, setelah kemarin menayangkan film-film perubahan iklim dan perdagangan karbon. Dan info yang lengkap bisa dilihat di www.stosfestival.org. Festival film akan ditutup malam ini dengan penganugerahan StoS Award untuk film terbaik lomba kompetisi film, juga pembacaan pemenang lomba kompetisi blog dan fotonovela. Grup musik Akordeon akan menghibur penonton diujung acara.
StoS Film Festival diselenggarakan 22 – 24 Januari 2010. Lebih 500 orang hadir pada hari pertama festival, yang dibuka oleh Bapak Salahuddin Wahid dan anak-anak korban lumpur Lapindo. Sudah 12 film diputar di CCF Salemba dan Goethe Haus dua hari lalu – dari 23 film yang tersedia. Anak-anak Lumpur dan The Age of Stupid adalah film pembuka Festival.
Festival film lingkungan yang ketiga kalinya sejak 2006 ini terus bergerak mendefinisikan ruang serta posisinya diantara ruang penyelenggaraan festival film di Indonesia – yang juga tak banyak jumlahnya.
Kontak media : Luluk Uliyah, HP. 0815 9480 246
|
|
|