HOME arrow PUBLIKASI arrow Artikel arrow Teman Tidur di Lembata, 21 Agustus 2007
Teman Tidur di Lembata, 21 Agustus 2007 PDF Print
on Tuesday, 21 August 2007

Views : 2084    


Pulau Lembata atau Lomblen, merupakan gugusan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur yang terkenal indah pantainya, berada dalam lingkaran sabuk api (ring of fire), dengan gunung-gunung api aktif baik di daratan maupun di laut.
 
Tapi bukan karena alasan itu, jika mendadak pulau ini ramai dikunjungi pendatang dari Jakarta, Bandung, Singapura, Australia, Jerman bahkan Polandia. Mereka melakukan penelitian dan eksplorasi bahan tambang untuk PT Pukuafu Indah (PI) – milik Yusuf Merukh.
Sepak terjak PT PI sudah lama dikenal di tanah air, apalagi sejak Merukh memiliki  saham emas (golden share) di beberapa pertambangan skala besar yang kontroversial di negeri ini  – Newmont Minahasa Raya di Minahasa Selatan, dan Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa.

Di kalangan wartawan pertambangan, Merukh dikenal sebagai “Raja KP” – dia memiliki banyak pertambangan berijin Kuasa Pertambangan (KP). Biasanya, Merukh akan mencari mitra yang bersedia membiayai tambangnya, umumnya perusahaan tambang asing.

Jika KP-nya diminati, mereka akan bermitra mendirikan perusahaan baru dan merubah status perijinan menjadi Kontrak Karya (KK) – ijin istimewa untuk perusahaan tambang asing. Untuk itu, dia cukup meminta pembagian saham di perusahaan baru tersebut. Ceritanya, itulah yang dilakukan Merukh untuk mendapatkan 20% saham Newmont di Minahasa Selatan dan Sumbawa.  Tak heran jika Merukh mendapat julukan “Sleeping Partner” atau teman tidur. Mitra yang tak perlu bersusah payah untuk mendapatkan untung besar.

Dengan bercanda salah seorang wartawan pertambangan menyebut pepatah “Berperahu ke hulu, mendapat durian runtuh” – untuk menggambarkan cara Merukh mendapatkan saham emasnya.

Naiknya harga logam dunia, khususnya tembaga dan emas, menjadi alasan utama pelaku pertambangan – termasuk Merukh untuk membuka tambang-tambang baru. Salah satunya di pulau Lembata. Tak tanggung-tanggung, seluruh luasan pulau ini - masuk dalam Kontrak Karya perusahaan yang luasnya mencapai 91,6 ribu hektar.
 
Merukh – melalui Merukh Enterprises (ME) mengandeng investor tambang  asing asal Jerman yaitu KPG Kupfer- Produkte GmbH. Dia juga mendapat dukungan penuh Bupati dan ketua DPRD. Hal di atas terungkap dari pertemuan diam-diam, yang mereka lakukan di Jakarta, setahun lalu.
 
Pertemuan ini membahas rencana Pembangunan Industri Tambang Terpadu dengan ijin Kontrak Karya baru, sebutannya Pertambangan Generasi Otonomi Daerah (KKP-GOD). Image

Sebenarnya, ada tiga keputusan yang dihasilkan dalam pertemuan. Pertama - Bupati akan mengirim surat kepada Menteri ESDM, guna memberi dukungan pada pemohon Kontrak Karya model baru itu. Kedua, membentuk Tim Teknis beranggotakan Pemda dan Merukh Enterprises untuk menindaklanjuti hasil pertemuan di Jakarta. Tugas Tim Teknis diantaranya mempersiapkan draft Kontrak Karya dan menyusun rekomendasi kepada Menteri ESDM. Dan, Ketiga - Bupati Lembata menerbitkan SK No. 111 tentang perpanjangan Kuasa Pertambangan Eksplorasi,  agar  pekerjaan eksplorasi Merukh tidak terganggu.

Tak berhenti disitu, untuk memuluskan rencananya. Merukh mulai mengumbar janji madu. Salah satunya, janji meningkatkan Produk Regional Domestik Bruto (PRDB) Lembata dari 1,9%, naik menjadi 13%  lebih - hanya dalam 5 tahun. Dia juga menjanjikan naiknya pendapatan warga di atas Rp 9 juta.  Merukh menyatakan akan terjadi “trasformasi masyarakat tradisional menjadi Masyarakat Industri Global” di Lembata.

Agar lebih meyakinkan, Merukh menggandeng sejumlah perusahaan multinasional  asing, seperti Kupfer Produkte GmbH-Jerman, KGHM Polska Meidz-Polandia dan Norddeustsche Affinerie AG-Jerman – sebagai perusahan mitra. Sementara untuk pendanaan, Merukh menggandeng IKB DeutscheIndustriebank – Jerman. Pekerjaan lainnya seperti kontraktor pertambangan, pengolahan konsentrat dan peleburan tembaga hingga pengamanan proyek, telah terisi oleh ThyssenKrupp Fordertechink - Jerman, Bateman, Norddeutsche Affinerie AG - Jerman dan OAM-Australia.

Bagaimana kontraktor lokal dan nasional? Jangan kuatir. Merukh masih butuh perusahaan untuk mengurus penyediaan makanan dan tukang bersih bagi para buruhnya – nama kerennya catering and cleaning service.

Tahun depan, direncanakan proyek akan mulai berjalan hingga 20 tahun berikutnya. Dia membutuhkan dana sekitar 10 Milyar dolar.

Sayangnya, lagu lama Merukh ditolak warga Lembata.

Tak main-main, mereka bahkan membuat Surat Mosi Tidak Percaya dan menuntut Bupati mundur jika terus mengekor Merukh.  Beberapa kali mereka melakukan aksi damai menolak Merukh. Massa dari Kecamatan Omesuri, Buyasuri dan Lebatukan – lokasi yang akan ditambang, bahkan menginap semalam di kantor Bupati minggu lalu.

Merukh mengulang cerita lamanya di Jawa timur, tujuh tahun silam. Dia merayu Bupati Jember dan Banyuwangi untuk diijinkan menambang emas dan tembaga di kawasan Taman nasional Meru Betiri. Sayangnya, warga menilai tambang emas akan  lebih banyak mudhorotnya, dibanding manfaatnya. Seperti di Lembata – mereka ramai-ramai menolaknya.

Penulis, Andre S Widjaya, pengamat pertambangan dan energi


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri