Sebagai korban, anak-anak korban Lumpur Lapindo tidak diperhatikan dan pemerintah maupun Lapindo yang hanya mengurus ganti rugi/jual beli dan tanggul yang tak kunjung juga selesai. Untuk melanjutkan sekolah saja, mereka kesulitan biaya. Setidaknya ada 103 anak-anak yang duduk dibangku SD, SMP dan SMU/STM pada tahun ajaran baru nanti, 2010/2011, belum pasti apakah mereka masih dapat menikmati bangku sekolah kembali. Bahkan diantaranya ada yang telah putus sekolah karena orang tuanya tak mampu lagi membiayai pendidikan dan kehidupan mereka sehari-hari, semantara biaya sekolah terus naik.
Tanggal 29 Mei, 4 tahun yang lalu menyembur lumpur panas dari sumur pengeboran minyak dan gas Banjar Panji-1 milik PT. Lapindo Brantas Inc. Selama 4 tahun itu pula penanganan kasus lumpur Lapindo terbatas hanya menangani masalah lumpur dan sosial berupa jual beli/ganti rugi serta jaminan hidup (jadup) warga di pengungsian.
Padahal, persoalan sosial diakibatkan sungguh komplek termasuk masalah kesehatan dan kesejahteraan. Belum lagi penanganan lumpur pun lebih menyiasati tanggul dan pembuangan lumpur saja. Tidak ada upaya jelas untuk menghentikan semburan lumpur yang pernah dilakukan diawal-awal semburan.
Yang lebih ironis adalah masa depan anak-anak korban Lapindo itu sendiri. Masa depan mereka menjadi tidak jelas. Keceriaan dan masa depan mereka turut ditenggelamkan oleh lumpur Lapindo. Selain rumah dan lingkungannya, sekolah-sekolah mereka hanya tinggal kenangan. Parahnya lagi, kondisi orang tuanya yang kehilangan tempat mencari nafkah memperburuk nasib masa depan mereka.
Sebagai korban, mereka tidak diperhatikan dan pemerintah maupun lapindo hanya mengurus ganti rugi/jual beli dan tanggul yang tak kunjung juga selesai. Untuk melanjutkan sekolah saja, mereka kesulitan biaya. Setidaknya ada 103 anak-anak yang duduk dibangku SD, SMP dan SMU/STM pada tahun ajaran baru nanti, 2010/2011, belum pasti apakah mereka masih dapat menikmati bangku sekolah kembali. Bahkan diantaranya ada yang telah putus sekolah karena orang tuanya tak mampu lagi membiayai pendidikan dan kehidupan mereka sehari-hari, semantara biaya sekolah terus naik.
Ke-103 anak-anak korban lapindo sebagian besar masih duduk dibangku SD. Pada tahun ajaran baru nanti, setidaknya mereka membutuhkan Rp. 43.644.500 untuk membayar SPP, Buku, Seragam, Ujian dan Biaya bangunan/gedung sekolah.
Untuk itu, agar anak-anak korban lapindo tidak menjadi bagian dari generasi suram, Koalisi Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lumpur Lapindo, mengajak solidaritas seluruh elemen masyarakat baik secara lembaga maupun individu menjadi bagian “Anti Generasi Suram”.
Kami mengajak anda untuk memberikan dukungan kepada mereka agar pendidikannya dapat dilanjutkan dan tidak menjadi bagian generasi suram yang tidak memiliki masa depan. Dengan seribu rupiah yang anda sumbangkan, sangat berarti bagi pendidikan anak-anak korban lumpur lapindo.
Sumbangan dapat langsung dimasukkan ke kotak-kotak donasi yang kami sediakan dibeberapa tempat, Kami pun dapat menjemput ke tempat-tempat anda. Juga bisa langsung dikirimkan ke Rekening Bank CIMB Niaga Mampang Jakarta - No. 9030101046008 atas nama Perkumpulan Jaringan Advokasi Tambang.
Dukungan dan sumbangan anda akan dikelola Posko Keselamatan Korban Lapindo dan didiserahkan ke sekolah-sekolah dimana anak-anak korban lumpur Lapindo, menimba ilmu. Laporan perkembangan dan distribusi dukungan akan disampaikan terbuka melalui website www.korbanlumpur.info dan www.jatam.org dan akan dilakukan audit secara transparan.