Air panas itu memang tak datang lagi, sampai musim tanam tahun lalu. Tapi untunglah warga sigap. Mereka membuat gorong-gorong dan memasang pipa untuk membuang air asin panas dari lahan mereka. “Untunglah ada sungai Serayu yang airnya membantu menggelontor air asin. Meskipun pontang-panting, padi kami selamat tapi hasilnya menurun”, tutur Wati.
Sayangnya saat banjir panas bulan April lalu, Wati dan tetangganya tak mampu berbuat apa-apa. Air panas bercampur air asin terus masuk ke sawah-sawah dekat perkampungan Winong. Disitu terdapat sawah Wati lainnya seluas 45 ubin, yang baru ia tanami padi Sedane seminggu lalu. Padinya tak bisa ditolong lagi. Total ada 125 ubin atau sekitar 1.750 meter persegi yang gagal panen tahun ini. Biasanya, sawah itu bisa menghasilkan 16 kwintal gabah, cukup untuk persediaan makan hingga musim tanam berikutnya.
Sayangnya kerugian-kerugian Wati dan penduduk Winong itu tidak menjadi bahasan tim penyelesaian dampak lingkungan dan sosial bagi masyarakat di sekitar PLTU Cilacap, yang dibentuk Bupati. Tim ini dibentuk tahun 2006 menanggapi keluhan, surat dan demonstrasi yang dilakukan warga desa sekitar PLTU. Tim cuma mencantumkan masalah di Winong adalah genangan banjir. Tim tersebut menyimpulkan ada 6,57 hektar lahan sawah yang terkena banjir karena air laut pasang. Apa saran mereka? Dibuatkan pintu klep otomatis untuk menghindari limpasan air laut atau mendirikan tanggul. Sementara kerugian warga akibat gagal panen, tak masuk dalam catatan tim.
Tim tersebut juga melewatkan cerita tetangga PLTU lainnya, para penderes di Winong dan Kwasen.
Selain bertani, hampir separuh warga Winong juga bekerja sebagai penderes kelapa untuk dibuat gula merah. Menderes adalah usaha keluarga. Biasanya sang bapak yang mengumpulkan sajeng atau badeg, nama lokal untuk air Nira yang diambil dari bunga pohon Kelapa. Sementara para ibu memasak badeg menjadi gula merah.
Banyaknya badeg yang diambil dari pohon Kelapa bervariasi setiap pohonnya, bergantung musim dan umur pohon tersebut. Musim baik adalah musim penghujan, panen badeg lebih banyak dari musim kemarau. Terlalu muda atau terlalu tua umur pohon kelapanya, juga tak banyak badeg yang dihasilkan.
“Tapi sejak ada PLTU Cilacap, banyak sedikitnya badeg juga dipengaruhi oleh debu hitam yang terbang dari tumpukan batubara di halaman PLTU”, ujar Ratini, tetangga Wati, dengan nada meninggi.
Kegusaran Ratini sangatlah beralasan. Sejak PLTU Cilacap berdiri, penderes di Winong dan desa-desa sekitar PLTU Cilacap makin susah. Mereka mengeluhkan debu halus berwarna hitam di musim kemarau yang masuk ke kaleng-kaleng penampung badeg yang diletakkan di puncak pohon Kelapa. Ini membuat tambahan pekerjaan bagi para penderes, mereka harus menyaring air nira, agar debu hitam tidak tercampur ke dalamnya, sebelum dimasak. Jika tidak, gula mereka warnanya menjadi lebih gelap, tidak bersih, akibatnya harga gula bisa turun.
Tidak itu saja, kayu bakar untuk memasak badeg menjadi gula merah juga susah didapat. Semenjak bangunan PLTU megah berdiri di pantai diantara dusun Winong, Menganti dan Kwasen, warga tak bisa lagi ngerepek dan mencari rongsokan. Ngrepek berarti mencari kayu, sementara rongsokan adalah barang-barang plastik atau barang rumah tangga lainnya yang naik terbawa pasang laut di sepanjang pantai, yang kini menjadi bangunan PLTU. Ngerepek dan mencari rongsokan umumnya dilakukan oleh perempuan.
Jika mereka turun ke pantai sejak jam 6 pagi, empat hingga lima jam kemudian gerobak mereka sudah penuh dengan kayu. Jika musim hujan, 3 hingga 5 gerobak bisa mereka dapatkan sehari. Jika hujan turun, sungai Serayu membawakan mereka banyak kayu dan sampah plastik sampai ke muara, gelombang laut selatan lantas membawanya menepi di pantai. Untuk rongsokan, sehari mereka bisa mendapat setidaknya 10 kandi atau karung. Harga satu karung rongsokan sekitar 2 ribu rupiah.
“Sekarang nol”, kata Ratini begitu ditanya tentang kegiatan ngerepeknya.
Untuk mengantongi pendapatan kotor Rp 30 ribu hingga 50 ribu, dari menjual 6 sampai 10 kilogram gula merah setiap harinya. Dia dan perempuan lainnya, terpaksa mengais-ngais ranting, daun-daun kering di pekarangan rumah warga untuk kayu bakar.
“Tapi ada juga yang terpaksa membeli kayu untuk memasak gula, terutama penderes yang produksinya cukup besar. Mereka kadang membeli kayu, kadang serutan atau limbah gergajian kayu”, ungkap Ratini. Serutan ini dijual per-kandi atau perkarung ukuran 50 kilogram, harganya Rp 2 ribu, perkandi. Untuk memasak empat kilogram gula merah, dibutuhkan satu kandi serutan kayu.
Sayang, masalah Wati dan Ratini – tak masuk catatan tim penyelesaian dampak lingkungan dan sosial sekitar PLTU Cilacap. Padahal tim tersebut tahu, AMDAL PLTU Cilacap yang dibuat kilat tiga tahun lalu cacat, mereka tidak memasukkan resiko dampak cemaran debu batubara, bahan bakar PLTU.
Tiga tahun lalu, DPRD Cilacap dan sejumlah LSM pernah memperkarakan pembangunan PLTU Cilacap yang Amdal-nya belum selesai. Meskipun melanggar UU Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah tentang Amdal, pembangunan PLTU jalan terus. Pemerintah Jakarta dan Cilacap memutuskan mengurus Amdal dan pelaksanaan proyek secara bersamaan.
Lagi-lagi, rakyat dipaksa menanggung kelalaian pemerintah dan pengusaha. (JM)