| on Wednesday, 03 October 2007
|
Views : 1672  |
(JATAM,03/10/07) Benarkah negara-negara yang tergabung dalam G8 serius menangani perubahan iklim, pengurangan kemiskinan dan utang? Jawabannya Tidak. Yang dituju oleh negara-negara industri maju tersebut hanyalah satu: ekstraksi minyak sebesar-besarnya.
Kenyataan diatas bisa anda temukan setelah membaca hasil studi yang bertajuk "Drilling in to Debt : An Investigation into the Relationship Between Debt and Oil" , yang ditulis Stephen Kretzrmann dan Irfan Nooruddin, diterbitkan Oilchange International di tahun 2004.
Studi ini menggunakan data yang dikoleksi dari 161 negara sepanjang tahun 1991 hingga 2002, dan mengumpulkan data dari 88 negara berkembang sejak tahun 1970 hingga 2000. Tiga studi kasus diangkat secara khusus untuk melihat keterkaitan minyak dan utang, yaitu kasus Nigeria, Kono dan equador.
Anda akan diajak menyimak bagaimana cara negara G8 membantu Afrika melalui “June 11 communiqué”. Menteri-menteri keuangan G8 tak hanya mengumumkan utang bagi 18 negara di Afrika, mereka juga menekankan untuk “mengurangi hal-hal yang menghambat investasi swasta”di Afrika. Secara umum investasi migas mencapai sedikitnya 60% besarnya investasi asing langsung disana. Bahkan pada beberapa negara nilainya lebih tinggi dari itu.
Ini adalah studi pertama yang meneliti hubungan erat antara minyak dan utang. Beberapa temuan penting studi diantaranya :
1) Peningkatan produksi dan ekspor minyak mengakibatkan peningkatan utang,
2) Meningkatnya ekspor minyak meningkatkan kemampuan negara berkembang “melayani atau membayar “ utangnya
3) Proyeksi peningkatan produksi minyak meningkatkan besaran utang. Pemerintah Nigeria sedang merencanakan meningkatkan produksi minyak hingga 160% pada tahun 2010. Kecenderungan mengindikasikan bahwa utang Nigeria diharapkan naik hingga 69%, atau $21 milyar dalam 6 tahun berikutnya.
4) Program Bank Dunia untuk mendesain peningkatan investasi swasta negara-negara utara – terhadap produksi minyak di negara selatan, teryata meningkatkan utang mereka. Salah satunya, terjadi dalam program “Petroleum Exploration Promotion Programs” (PEPPs) yang dimotori bank Dunia. Dibanding negara yang tak melakukan program restrukturisasi, justru rasio utang negara peserta program lebih besar dibanding pendapatannya.
5) Hubungan antara utang dan minyak umumnya disebabkan oleh tiga faktor, yang pertama Program insentif untuk investasi asing oleh lembaga keuangan internasional seperti Bank dunia dan Ekspor Credit Agency, kedua - kebijakan fiskal yang tidak tepat atau membodohi dan ketiga perubahan pasar minyak.
6) Sebanyak 82 % semua proyek ekstraksi minyak didanai oleh Kelompok Bank Dunia sejak 1992 untuk tujuan meningktakan ekspor dan memenuhi kebutuhan energi utara. Negara yang tergantung ekspor minyak umumnya memiliki tingkat korupsi yang tinggi, pemerintahan yang tidak efektif dan banyak menghabiskan pendapatannya biaya militer dan perang sipil.
Sumber : www.fataltransactions.org/ docs/Drilling_into_Debt_20050630.pdf
|