| on Friday, 05 October 2007
|
Views : 1950  |
Oleh : Torry Kuswardono, WALHI
Beberapa minggu lalu, Perdana Menteri Australia John Howard hendak menjadi pahlawan penyelamat atmosfer dunia. Lewat kesepakatan yang ditandatanganinya Menteri Luar Negerinya, Alexander Downer dan Menteri Luar Negeri RI, Australia mengajukan satu inisiatif berjudulKalimantan Forest Partnership yang memberikan dukungan bagi penyelamatan lahan gambut di Kalimantan Tengah yang memiliki kandungan karbon hingga 6 kali lipat dibanding kandungan karbon biomassa di tanah mineral biasa.
Australia memilih Indonesia karena pandangan dunia saat ini yang melihat Indonesia sebagai salah satu kontributor karbon terbesar lewat proses deforestrasi dan kebakaran lahan gambut. Sejak tahun 1997 hingga sekarang, kebakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan telah menjadi perhatian dunia. Australia sebagai tetangga yang kaya, tentunya mencoba berbaik hati dengan membantu Indonesia mengatasi kerusakan lahan gambut.
Dalam kesepakatan tersebut Pemerintah Australia menyatakan kesungguhannya membantu 100 juta $ demi pemotongan emisi karbon sebesar 700 juta ton selama 30 tahun. Sasaran utama dari komitmen reduksi emisi karbon ini adalah pemeliharaan 70,000 hektar hutan gambut, dan pemulihan ekosistem gambut yang telah kering seluas 200,000 hektar disertai dengan penanaman 1 juta pohon.
Yang unik adalah, aktor-aktor yang terlibat di dalam Kalimantan Forest Partnership ini. Australia adalah salah satu negara pengemisi karbon terbesar di dunia, dan terus meningkatkan emisi karbonnya hingga 5.2% sejak tahun 1990 hingga 2004 (UNFCCC). Selain itu, saat putaran-putaran awal Protokol Kyoto berlangsung, ketika negara-negara Annex 1 berusaha mengurangi emisinya, Australia justru berkomitmen untuk menambah emisinya menjadi 108% dari tingkat emisi tahun 1990 pada tahun 2012 saat Protokol Kyoto kadaluarsa.
Meski Australia menolak menandatangani Protokol Kyoto, namun tekanan dalam negeri dan dunia memaksa pemerintah Australia berkontribusi dalam mengurangi emisi. Tak ingin kehilangan muka, Australia mengajak sejumlah negara untuk bekerja sama mengurangi emisi tanpa harus melalui Protokol Kyoto.
Kalimantan Forest Partnership adalah salah satu upaya tersebut. Lewat kesepakatan ini Australia mendorong berbagai pihak termasuk swasta untuk berkontribusi hingga 100 juta $. Namun, dari komitmen $ 100 juta yang dijanjikan, hanya berkisar 30 juta dollar yang berasal dari anggaran pemerintah Australia. Sisanya berasal dari sumbangan swasta. BHP Billiton salah satu perusahaan tambang batu bara terkaya di dunia, berminat menjadi salah satu penyumbang komitmen tersebut dengan proporsi dana yang lumayan besar. Sementara dalam berbagai laporan mengenai emisi karbon, batubara adalah tertuduh utama memanasnya suhu global akibat emisi karbon yang dihasilkannya.
Siapa sebenarnya BHP Billiton? BHP Billiton adalah perusahaan tambang gabungan Australia-Inggris dengan bidang bisnis utama batu bara, nikel, bijih besi, emas, uranium, dan minyak bumi. Perusahaan ini telah lama menambang di Kalimantan lewat anak perusahaannya PT Arutmin yang kemudian dibeli oleh Bumi Resources dari Bakrie Grup. Saat ini BHP sedang merencanakan penambangan di hulu Sungai Barito. Total wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Penambangan Batubara (PKP2B) BHP Biliton mencapai lebih dari 270 ribu hektar (Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Tengah) dan bahkan sebagian menembus wilayah hutan lindung yang masuk dalam kawasan Heart of Borneo, wilayah yang disepakati oleh 3 negara Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darussalam untuk dilindungi demi terjaganya kesinambungan ekosistem Kalimantan. Disinyalir, BHP sedang melakukan upaya lobby tingkat tinggi untuk menggeser batas hutan lindung agar dapat menambang di jantung Pulau Kalimantan.
Sebagai perusahaan yang hidup dari bisnis melepas karbon, menjadi aneh ketika tiba-tiba BHP menjadi pihak yang paling tertarik untuk menyumbang pencegahan kebakaran hutan di lahan gambut. BHP Biliton akan memberikan dana untuk menjaga stok karbon di lahan gambut, sementara di wilayah hulu Barito akan melepas milyaran ton karbon lewat penambangan batu bara yang tentu saja akan dibakar menjadi energi.
Skema kemitraan tersebut di atas meliputi upaya menjaga ratusan ribu hektar kawasan gambut dari gangguan manusia selama 30 tahun. Sementara itu pula, berdasarkan sejumlah riset, kawasan lahan gambut di Kalimantan menyimpan potensi energi yang luar biasa besarnya. Kalimantan memiliki potensi gambut lebih dari 28 juta meter kubik dengan berat sekitar 2800 juta ton dengan kisaran nilai kalori 4000 hingga 5000 kalori per gramnya (hasil inventarisasi Dep ESDM hingga tahun 2001).
Pemanfaatan gambut sudah sedemikian maju di negara-negara Eropa sejak lama. Sejumlah negara seperti Irlandia, Swedia dan Finlandia, menggunakan gambut (peat) sebagai sumber energi baik untuk pembangkit listrik maupun pemanas sebagi pengganti batu bara. Selain itu, dalam proses geologi lahan gambut adalah sumber utama pembentukan batubara. Tidaklah salah jika pada lokasi yang memiliki ketebalan gambut yang dalam juga memiliki potensi batu bara. Jadi, layaklah BHP-Biliton menjaga asuransinya di masa datang. Di masa kini, BHP akan membongkar karbon di kawasan hulu, sambil membahayakan nasib hutan alam terakhir yang menjadi sumber hidup 8 sungai besar di Kalimantan. Sementara di masa datang, BHP memiliki kesempatan menguasai cadangan energi gambut di pulau yang sama.
Dari skema macam ini, mestinya kita sudah melihat, baik pemerintah Australia, pemerintah Indonesia, maupun pihak swasta yang terlibat di dalam forest partnership, sebetulnya tidak pernah secara sungguh-sungguh peduli dengan perubahan iklim. Australia sudah pasti akan melindungi investasi perusahaannya di Kalimantan. Pemerintah Indonesia memang selalu tampak minta dikasihani karena tidak mampu (berniat) mengurus hutan dengan baik. Sementara, BHP-Biliton sudah siap-siap menarik keuntungannya kini dan di masa datang.
Pertanyaan yang menarik, apa motif penyelamatan lahan gambut dunia dan Indonnesia. Betulkah gambut perlu dikonservasi untuk mencegah lepasnya karbon ke udara dan mencegah percepatan pemanasan global, atau gambut perlu 'diamankan' oleh pihak-pihak tertentu demi penguasaan salah satu sumber energi terbesar di dunia? (selesai). |