| PT. Newmont Nusa Tenggara |
|
|
Peta Konsesi Luas konsesi PT. NNT seluas 1.127.134 hektar, meliputi wilayah pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Perusahaan mulai produksi pada tahun 2000 di Proyek batu Hijau Kabupaten Sumbawa Barat. PT. NNT menggunakan metode Pertambangan Open pit (tambang terbuka), dan membuang limbah sisa olahan dengan menggunakan sistem Submarine tailing Disposal (STD). Sedikitnya 110.000 ton tailing dibuang ke laut setiap hari oleh perusahaan tersebut. Seiring berjalannya kegiatan pertambangan, dampak eksternalitas dari kegiatan tersebut semakin meluas, baik terhadap lingkungan, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya. Masyarakat lingkar tambang di Desa Tongo Sejorong, dan beberapa sentral pemukiman di lingkar tambang, kini sudah tidak dapat menjalankan kegiatan pertanian secara normal, dikarenakan praktek pertambangan yang rakus air dan berakibat pada kekeringan lingkungan sekitar. Para nelayan di pesisir pantai Sumbawa Barat seperti Pantai Benete, Labu Lalar, Poto Tano, tidak lagi dapat memperoleh ikan dari perairan mereka. Para nelayan di kabupaten Lombok Lombok Timur yang menggantungkan penghidupan mereka terhadap potensi perikanan selat alas, mengaku kehilangan sejumlah besar hasil tangkap akibat perairan mereka tercemar tailing. Masyarakat telah melakukan protes sejak kegiatan Pertambangan Batu Hijau. Kejadian ini menyebabkan puluhan orang ditangkap dan satu orang meninggal akibat premanisme. Protes terus meluas sampai dengan saat ini. Terakhir camp-camp pekerja tambang Newmont yang sedang melakukan kegiatan ekplorasi di Wilayah Dodo Rinti Kabupaten Sumbawa Besar dibakar massa, sebagai sikap menolak kehadiran PT. NNT di wilayah penghidupan mereka. Puluhan orang ditembaki aparat, 2 orang mengalami luka serius dan sebanyak 19 warga diajukan persidangan dengan tuduhan melanggar UU darurat. |
|||||||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|
Loading...
Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.
Anda ingin mendapatkan buku ini?