Forum JATAM
Monday, 04 August 2008

Empat tahun terakhir, kabinet Indonesia Bersatu sudah 3 kali menaikkan harga BBM dengan alasan sama : harga minyak dunia naik, subsidi yang melambung harus ditanggung pemerintah.  Tapi sepanjang waktu itu, tak ada tindakan genting dilakukan SBY untuk lepas dari ketergantungan BBM dan berdaulat atas sumber energinya. Yang terakhir terjadi lagi krisis listrik. Celakanya, batubara dan gas – energi alternatif tak terbarukan, malah sebagian besar dijual ke pihak asing. Siapa yang dilayani kabinet SBY sebenarnya? Sampaikan pendapat anda ke Forum JATAM

HOME
PT. Barisan Tropical Mining PDF Print
Perusahaan  PT. Barisan Tropical Mining (BTM) 
Jenis Galian  Emas 
Lokasi  Muara Tiku, Musi Rawas Sumatera Selatan 
Kontrak Karya
1986 
Luas Kontrak Karya
95.250 
Tahap
Tutup 
Saham  CRA Australia (Laverton Gold NL) 90% dan PT SETDCO Ganesha (Setiawan Djodi Coorporation) 10%. 

 

Peta Konsesi :  Image

Warga KMPI  dan Dusun sungai Jambu tiga kali melakukan aksi demonstrasi karena sungai Tiku tercemar oleh limbah PT BTM. Akibatnya Sungai Tiku yang biasanya digunakan untuk keperluan rumah tangga hingga ikan menjadi lauk sehari-hari sudah tidak dapat digunakan lagi dan ribuan lebih ikan mati.  Pencemaran terus terjadi jika musim hujan datang karena limbah tambang meluap terus mengalir ke sungai Tiku. Hal ini terjadi karena area bekas tambang ditelantarkan (abandoned mine) begitu saja tanpa ada tanggung jawab perusahaan. Begitu juga dengan sisa-sisa perlatan yang ditinggalkan begitu saja.

Perusahaan mengakui pernah membuang limbah tanpa menggunakan sistem DAM tailing, yakni saat mereka membuat DAM tailing yang baru, ini diungkapkan oleh staf ahli lingkungan PT BTM, Gavin Lee.
 
Dilokasi tambang terdapat 5 danau besar, 3 diantaranya merupakan DAM tailing yang dibiarkan begitu saja. Begitu pula dengan wilayah operasi seluas 11.709,44 tanpa ada penanganan yang baik. Pohon-pohon yang ditanam hanya sekedarnya saja agar terlihat ada upaya melakukan reklamasi.
 
Kehadiran PT. BTM tidak memberikan perbaikan ekonomi. Sebaliknya sejak beroperasi tingkat pendatan masyarakat terus menurun. Hasil sadap karet yang merupakan penghasilan utama warga, sebelumnya mencapai 1 pikul (100 kg) per hari menjadi 10 kg per hari. 
 
Kini warga tidak menginginkan lagi ada perusahaan lain yang menambang dilokasi sekitar wilayah kelola hidup mereka, karena perusahaan yang sebelumnya bangkrut dan juga tidak bertanggung atas kerusakan yang terjadi. Karena kerusakan tidak hanya dalam bentuk fisik juga pada sosial ekonomi. Penurunan volume jumlah sadap karet terjadi akibat berkurangnya lahan garapan dan juga meningkatnya suhu permukaan dan kesuburan tanah turun (catchment area) karena pembukaan area untuk tambang.


<<Kembali
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Perpres No.14/2007 yang mendasari penyelesaian kasus lumpur Lapindo terbukti melanggar HAM karena mengabaikan hak para korban. Lapindo hanya bertanggung jawab pada 5 desa terdampak, padahal lumpur sudah menggenangi & mengancam 16 desa 

Login Form

AGENDA









Pojok Lamin

Satu truk tronton milik perusahaan pertambangan batu bara PT Berkat Banua Indah terguling di tengah arus banjir di jalan tambang Kilometer 21, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan, Jumat (5/9) malam. Dua orang tewas dan empat lainnya selamat dari banjir setinggi lebih dari 1 meter tersebut. 

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika tambang-tambang emas baru dibuka?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri