HOME arrow INFO arrow Kasus arrow PT. Barisan Tropical Mining
PT. Barisan Tropical Mining PDF Print
Perusahaan  PT. Barisan Tropical Mining (BTM) 
Jenis Galian  Emas 
Lokasi  Muara Tiku, Musi Rawas Sumatera Selatan 
Kontrak Karya
1986 
Luas Kontrak Karya
95.250 
Tahap
Tutup 
Saham  CRA Australia (Laverton Gold NL) 90% dan PT SETDCO Ganesha (Setiawan Djodi Coorporation) 10%. 

 

Peta Konsesi :  Image

Warga KMPI  dan Dusun sungai Jambu tiga kali melakukan aksi demonstrasi karena sungai Tiku tercemar oleh limbah PT BTM. Akibatnya Sungai Tiku yang biasanya digunakan untuk keperluan rumah tangga hingga ikan menjadi lauk sehari-hari sudah tidak dapat digunakan lagi dan ribuan lebih ikan mati.  Pencemaran terus terjadi jika musim hujan datang karena limbah tambang meluap terus mengalir ke sungai Tiku. Hal ini terjadi karena area bekas tambang ditelantarkan (abandoned mine) begitu saja tanpa ada tanggung jawab perusahaan. Begitu juga dengan sisa-sisa perlatan yang ditinggalkan begitu saja.

Perusahaan mengakui pernah membuang limbah tanpa menggunakan sistem DAM tailing, yakni saat mereka membuat DAM tailing yang baru, ini diungkapkan oleh staf ahli lingkungan PT BTM, Gavin Lee.
 
Dilokasi tambang terdapat 5 danau besar, 3 diantaranya merupakan DAM tailing yang dibiarkan begitu saja. Begitu pula dengan wilayah operasi seluas 11.709,44 tanpa ada penanganan yang baik. Pohon-pohon yang ditanam hanya sekedarnya saja agar terlihat ada upaya melakukan reklamasi.
 
Kehadiran PT. BTM tidak memberikan perbaikan ekonomi. Sebaliknya sejak beroperasi tingkat pendatan masyarakat terus menurun. Hasil sadap karet yang merupakan penghasilan utama warga, sebelumnya mencapai 1 pikul (100 kg) per hari menjadi 10 kg per hari. 
 
Kini warga tidak menginginkan lagi ada perusahaan lain yang menambang dilokasi sekitar wilayah kelola hidup mereka, karena perusahaan yang sebelumnya bangkrut dan juga tidak bertanggung atas kerusakan yang terjadi. Karena kerusakan tidak hanya dalam bentuk fisik juga pada sosial ekonomi. Penurunan volume jumlah sadap karet terjadi akibat berkurangnya lahan garapan dan juga meningkatnya suhu permukaan dan kesuburan tanah turun (catchment area) karena pembukaan area untuk tambang.


<<Kembali
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta

RSS Feeds

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri