HOME
Aleta Ba'un Kartini Pegunungan Molo, 7 November 2007 PDF Print
on Wednesday, 07 November 2007

Views : 1331    


Dimuat di Koran Tempo Edisi 7 November 2007

Datanglah ke Pegunungan Molo di Nusa Tenggara Timur. Pegunungan indah yang memanjang dari timur hingga barat Kepulauan Timor itu menyimpan kekayaan marmer, yang siapa pun pasti tergoda untuk menambangnya. Seandainya saja tak ada perempuan bernama Aleta Ba'un di sana, tentu pegunungan itu kini sudah luluh-lantak, habis digerus untuk diambil marmernya.

Tapi Aleta, yang memiliki panggilan akrab Mama Leta, tak rela pegunungan itu hancur. Bersama masyarakat setempat, dia terus menolak kedatangan buldoser yang akan merusak alam di sana. "Saya hanya ingin melindungi tanah kelahiran dan keindahan alam seperti apa adanya," kata perempuan 41 tahun itu dengan nada lembut.

Gunung-gunung batu tersebut dalam bahasa setempat disebut fatu atau faut, yang berarti bukit batu. Sembilan tahun lalu, pegunungan itu mulai dilirik pemerintah dan pengusaha pertambangan karena diperkirakan mengandung 3,5 triliun meter kubik marmer. "Banyak masyarakat di sana yang sudah terlalu lelah berjuang, sehingga seperti kehilangan semangat dan akhirnya mengalami depresi. Saya dengan segala cara memberi kekuatan untuk menyemangati dan mendampingi mereka," kata perempuan yang berjulukan Kartini Pegunungan Molo itu saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Lulusan SMA Kristen Timor Tengah Selatan ini mengaku tertarik dengan dunia pemberdayaan masyarakat melalui kisah masa kecilnya. Lahir dari keluarga petani, anak keenam dari delapan bersaudara ini mengaku sejak kecil dekat dan menyatu dengan alam. Baginya, tanah kelahirannya memiliki keindahan yang membuat pihak lain terpesona. Belum lagi tanahnya memiliki situs batu bersejarah serta mengandung pualam dan marmer. "Ya, siapa yang tidak tertarik dengan pertambangan yang menghasilkan banyak uang? Tapi mereka lupa, struktur tanah tempat kami tidak baik untuk pertambangan. Bila dipaksakan, justru akan mengakibatkan longsor atau erosi besar-besaran," ujarnya.

Sudah lama ia memutuskan berjuang buat kehidupan warga di sekitar kampungnya, yang berada di sekitar batuan raksasa sepanjang daerah Pegunungan Molo. Bebatuan yang ada di gunung itu, menurut Mama Leta, merupakan tali penghubung masyarakat dengan para leluhur. Tak cuma itu, pegunungan itu adalah sumber air dan lahan pertanian warga.

Merasa kampungnya terancam, sejak 1993 ia giat melindungi sumber daya alam Kabupaten Soe dari pertambangan pualam. Dia mengaku akan terus memperjuangkan nasib masyarakat adat dan bumi tempatnya bernaung. Bagi ibu tiga anak ini, tanah di tempatnya merupakan sumber utama mata air dan penghasil pangan untuk Kupang, Dili, dan Atambua. Dia berpendapat, dengan adanya pertambangan, hutan jadi rusak, air tercemar, dan tempat ritual adat jadi hilang. "Pokoknya, atas alasan ini, saya tidak akan berhenti berjuang meski terus diteror akan dibunuh karena menentang," tutur Mama Leta, yang pernah berminggu-minggu bersama masyarakat desanya bertahan mempertahankan salah satu fatu.

Dia mengaku sempat berhadapan dengan aparat bersenjata dan ditakut-takuti oleh aparat berkuda. "Tapi saya percaya, Tuhan dan leluhur kami ada di hati," katanya.

Di bawah batu, masyarakat di sana menemukan berbagai peninggalan nenek moyang, mulai senjata sampai perkakas upacara. Di kaki gunung batu, mereka mendapatkan sumber-sumber air yang menyediakan air hingga musim kemarau. Gunung batu ini juga menjaga lahan dan rumah warga dari terpaan angin keras di musim kemarau dan hujan deras serta erosi yang tinggi di musim hujan.

Sekitar sembilan puluh persen penduduk Molo bekerja sebagai petani dan peternak. Dalam catatannya selama mendampingi orang Molo di Desa Tune Bonleu, Mama Leta banyak mengenal kearifan orang Molo memandang sumber daya alamnya. Pandangan dan penilaian orang Molo terhadap alam semesta dan tempat tinggalnya menjelma dalam filosofi "uim bubu" (ume = rumah) yang berdiri kukuh dengan amnesat, nij, dan tefi.

Filosofi di atas menggambarkan pemahaman mereka terhadap ruang hidup. Amnesat berarti dasar atau fondasi, yang diibaratkan sebagai oekanaf (air), yang penyangganya adalah fatukanaf dan haukanaf (batu dan kayu). Nij adalah tiang, yang diibaratkan sebagai afu (tanah), yang merupakan tempat bertanam, beternak, dan mendirikan rumah. Dan tefi berarti atap, yang diibaratkan sebagai pena nok ane (jerih payah) yang diperoleh dari hasil pemanfaatan oekanaf, fatukanaf, haukanaf, serta afu.

Pandangan dan penilaian di atas mengandung makna kosmis bahwa kehidupan orang Molo tidak bisa dipisahkan dari tanah, hutan, air, batu, kayu, serta binatang-binatang yang hidup di dalamnya.

Berkat perjuangannya, nama Mama Leta pun mendunia. Sejak aktif menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat, ia terus-menerus diintimidasi preman yang mendatangi rumahnya. Dia diancam, keluarganya diteror akan dibunuh, dan rumahnya dilempari batu. Suatu kali suaminya, yang seorang guru, pernah diancam akan dibunuh. Sang suami, Godlif Sanam, pun memprotes dan meminta Mama Leta tak meneruskan kegiatannya. "Tapi, setelah saya berikan pengertian, ia pun ikhlas mendukung perjuangan saya sampai titik darah terakhir."
Ditulis Oleh : HADRIANI P

Biodata:
Nama lengkap: Aleta Ba'un
Tempat dan tanggal lahir: Pegunungan Molo, Nusa Tenggara Timur, 16 Maret 1966
Pendidikan:
1983-1985, Sekolah Menengah Atas Kristen Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur

Pekerjaan:
    * 1993-sekarang, Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Suara Perempuan, Pegunungan Molo, Nusa Tenggara
    * 1994-sekarang, Perhimpunan Masyarakat Adat Pegunungan Molo, Nusa Tenggara Timur

Penghargaan:
    * Juni 2007, mendapat kehormatan bertemu dengan Hina Jilani, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
    * Juli, Kandidat Women's Nobel Prize for Peace dari Nusa Tenggara Timur
    * Agustus 2007, menerima Saparinah Sadli Award 2007

   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Masa Otonomi Daerah, pelaku tambang menyerbu Pulau kecil. Padahal, ia punya karakteristik budaya dan sistem nilai khas serta rentan dengan kawasan tangkapan air dan lahan budidaya yang terbatas

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Buku JATAM Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.

Anda ingin mendapatkan buku ini?