HOME arrow PUBLIKASI arrow Artikel arrow Matinya Sungai-sungai Papua Nugini, 19 November 2007
Matinya Sungai-sungai Papua Nugini, 19 November 2007 PDF Print
on Monday, 19 November 2007

Views : 1521    


Oleh Siti Maemunah, dimuat di majalah Forum Edisi 28, November 2007


Puluhan sungai besar dan ratusan ribu warga Papua Nugini menjadi korban kebiadaban pembuanga tailing secara serampangan. Pelajaran berharga agar tak terjadi di Indonesia. 


Papua Nugini (PNG), salah satu negara kepulauan di Asia Pasifik yang 50 persen pendapatan ekspornya berasal dari sektor tambang. Tak heran, jika 15 persen pendapatan bersihnya dari sektor pertambangan. Dan, untuk angka-angka tersebut Papua Nugini harus membayar mahal. 


“Sebagian besar sungai utama di negara kami tercemar,” kata Mathilda Koma dari Centre for Environmental Research & Development (CERD), organisasi lingkungan di sana. Dia lantas menyebutkan nama sungai-sungai utama di negaranya, yang rusak berat. Sebagian besar karena limbah tambang.


Hingga pertengahan 2004, ada sekitar 201 ijin tambang dikeluarkan pemerintah PNG, sebagian besar tambang emas. Lebih dari separoh pemiliknya adalah perusahaan Australia, disusul Afrika Selatan dan Kanada.


Sepuluh tambang skala besar beroperasi di sana, sebagian besar ada di hulu sungai. Umumnya mereka membuang tailingnya ke sungai dan laut.


Ratusan ribu ton tailing dibuang ke badan sungai setiap harinya. Tailing adalah limbah berbentuk lumpur dan mengandung logam berat. Harap diketahui, dari sejumlah batuan yang digali untuk diambil emasnya, sebanyak 99 persen lebih dibuang menjadi limbah, baik limbah batuan dan lumpur. Dan itu dibuang ke sungai.


Padahal, sungai adalah sumber air dan pangan bagi warga di kawasan itu. Penduduk mengambil air minum dan memasak dari sungai, juga mencuci dan mandi. Mereka juga menangkap ikan di sungai. Pendek kata, sepanjang aliran sungai itu adalah sumber pangan. Mereka menanam Pisang, yam, kau kau (kentang manis), kentang, tapiok (ketela pohon), umbi taro, juga bread fruit, beberapa makanan utama mereka.


Sungai Ok Tedi dan sungai Fly, di bagian selatan adalah salah satu korban limbah tambang. Ok Tedi - tambang milik BHPBiliton/Australia, membuang 80 ribu ton tailing, dan 95 ribu limbah batuan  setiap harinya. Kini, sepanjang 200 kilometer sungai Ok Tedi dan sungai Fly tercemar. 


Elizabeth Matit, seorang warga di sepanjang sungai Fly menuturkan, ”Tambang Ok Tedi menyumbang paling banyak pendapatan sektor pertambangan di negeri ini. Dan kami sengaja dikorbankan. Sungai kami tercemar dan tak bisa lagi digunakan, lumpur tailing dimana-mana, dan masuk ke rumah-rumah saat banjir”. 


Sejak empat tahun lalu, lanjut Elizabeth, banjir terjadi hampir tiap minggu. Warga yang tinggal di dataran rendah menjadi langganan banjir, air sungai berwarna putih, berbau tak sedap. ”Pemerintah dan perusahaan sengaja membuat kami putus asa dan mati pelan-pelan,” katanya dengan nada pilu. Pada tahun 2004, tambang Ok Tedi menyumbang 25 persen pendapatan ekspor PNG. 


Lebih 50 ribu warga yang hidup di sepanjang sungai Ok Tedi dan Sungai Fly terkena dampak. Tahun 1994, sejumlah 30 ribu orang suku Yonggom di sepanjang Ok Tedi,  membawa BHPBilliton ke pengadilan di Melbourne

Australia, menuntut kompensasi. Sekitar 13 ribu suku Ningerum disekitar sungai Fly mengajukan hal yang sama di pengadilan Waigani PNG, dua tahun lalu. 


Ada lagi Strickland, sungai utama di propinsi Enga, salah satu sungai terbesar di negeri ini. Sudah19 tahun, sungai ini menjadi tempat buangan 20 ribu ton tailing tambang emas Porgera, milik Placerdome/Kanada. Lebih 20 ribu orang terkena dampak.


“Sejak ada tambang, lahan kami makin sempit, air sungai tak bisa diminum lagi, warnanya coklat kemerahan. Untuk minum, kami harus menampung air hujan

di tong-tong plastik. Jika air tak cukup, kami harus naik bis, pergi mencari air. Ongkosnya dua Kina (satu Kina sekitar Rp 3400). Itupun hanya akan sanggup membawa satu kontiner air,” ujar Mellie Kaiulo, warga Kulapi – kawasan penampung tailing Porgera. 


Cerita tentang hancurnya ekosistem sungai juga datang dari Pauline Fagu’u, salah satu ibu di Mekeo. Jaraknyasekitar 40 kilometer dari lokasi tambang Tolokuma, milik perusahaan Durban Roodepoort Deep (DRD), Afrika Selatan. 


Lubang galian Tolokuma pas di daerah Guilala, hulu sungai Auga dan Angabanga. Sementara Fuyuge, Kuni dan Mekeo adalah kawasan perkampungan di sepanjang hilir sungai. Setiap harinya Tolokuma membuang 400 ton tailing dan 1600 ton limbah batuan ke sungai. 


Sekitar 30 ribu orang di sepanjang sungai terkena dampak. Belum lagi tempat nelayan bermukim – daerah muara dan pesisir Rori, dimana tailing berujung. “Kami bahkan tak tahu, apa yang dilakukan perusahaan tambang

di atas Guilala. Tak ada jalan menuju lokasi perusahaan, semuanya diangkut dengan helikopter,” kenang Pauline.


Sejak perusahaan tambang membuang limbahnya ke sungai di kawasan itu, lanjut pauline, air tak lagi jernih. Warnanya berubah, kadang hijau kekuningan – tapi lebih sering coklat susu. 


“Banjir yang semula hanya datang di musim hujan, kini datang tiap tiga bulan. Sebagian besar perkampungan di Mekeo tenggelam jika banjir datang, ratusan orang harus pergi mengungsi. Ikan-ikan mati. Lahan-lahan di tepi sungai tak subur lagi. Pisang, kelapa dan kau-kau banyak yang mati dan jikapun tumbuh tak subur lagi.” 


Ada lagi  sungai Bulolo, di propinsi Morobe. Tahun 1930-an, tambang skala besar pertama di PNG, milik Bulolo Gold Dredging Company Ltd- Australia, membuang limbahnya ke sungai. Sungai ini juga tercemar. Apalagi 7 ribu lebih penambang rakyat memenuhi sepanjang sungai untuk mendapatkan emas, setelah perusahaan pergi. 


Sungai Ramu lain lagi. Industri kayu, gula dan lainnya di sepanjang hulu sungai telah mengganggu ekosistem sungai. Dan dua tahun lalu, tambang Kainantu mendapat “water permit”, dia akan membuang tailingnya ke sungai. 


Tak lama lagi, beban pencemaran sungai Ramu bertambah. Ada dua tambang akan segera beroperasi. Satu adalah tambang Ramu Nikel Kobalt milik China di Kurumbukari – hulu sungai Ramu, lainnya adalah tambang Yandara. Lebih 12 ribu orang yag hidup di sepanjang sungai Ramu, beresiko terkena dampak. 


Jaba – sungai utama di pulau Bougainville, pulau kecil sebelah timur Papua Nugini, juga tak luput serangan limbah tambang. Selama 17 tahun, Rio Tinto – Australia membuang ribuan ton tailing, hingga warga menyerbu tambang. Dan menutup paksa di tahun 1989.


“Sungai Jaba sudah terlanjur tercemar saat kami memblokade dan menutup perusahaan. Air asam tambang turun ke sungai  meninggalkan warna karat dan biru kekuningan tembaga sepanjang 30 kilometer aliran sungai,” ujar Patricia Tapaka, salah satu perempuan Bougainville. 


Penutupan paksa ini harus di bayar mahal. 


Pemerintah PNG dan Australia mengirim tentara bayaran menyerbu pulau, mengepung dan mengisolasinya hingga 8 tahun kemudian.  Perusakan lingkungan, pemiskinan dan  militerisasi ini menjadi alasan penduduk Bougainvile mengangkat senjata dan menuntut kemerdekaan. Papua Nugini hanya bersedia memberi Bougainville status otonomi khusus. 


Selain sungai, laut adalah tempat paling diminati perusahaan tambang skala besar. Mereka promosikan pembuangan tailing ke laut atau Submarine Tailing

Disposal (STD) sebagai cara paling aman dan ramah lingkungan. Negara kepulauan seperti PNG dan tetangganya, Indonesia, Philipina, Fiji dan kepulauan

Solomon adalah sasaran praktek STD.


Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyatakan biaya menggunakan STD lebih murah 17 persen dibanding membuat penampung tailing. Inilah alasannya, membuang limbah ke laut lebih murah dan kerusakannya tak terlihat mata. 


Di Papua Nugini, STD berawal di tambang Misima milik Placer Dome, di pulau Misima. Sepertiga bagian pulau dikuasai perusahan tambang Kanada ini.


Tambang misima berada di pegunungan, dimana lubang tambang dan pembuangan limbahnya berada di hulu sungai dan menuju ke laut.  Untuk kebutuhan airnya, perusahaan menggunakan air sungai dan menancapkan bor guna mendapatkan air. Air sungai, satu-satunya sumber air bersih di pulau itu,  menjadi  berkurang. Tambang ini tutup tahun 2004, setelah 15 tahun beroperasi.


Ada juga tambang emas Lihir, di Lihir – pulau kecil di ujung timur PNG, milik Rio Tinto dari Australia. Setiap harinya, 17 ribu ton tailing dibuang ke laut. Luasan sekitar 3,25 kilo meter teluk Louise tercemar tailing. Ribuan warga terkena dampak pembuangan limbah tersebut. Warga mengeluhkan tangkapan ikan berkurang drastis, dan berasa aneh jika dimakan.


“Hanya satu sungai besar yang tersisa, belum tersentuh, sungai Sepik,” ujar Mathilda.


Namun, dua minggu lalu pemerintah telah menandatangani perjanjian dengan Xtrata, - perusahaan tambang terbesar kelima di dunia milik Inggris dan Swiss untuk menambang tembaga di hulu sungai Sepik. Ratusan ribu orang tinggal di sepanjang sungai. ”Kami tang ingin cerita kematian-kematian sungai itu terjadi di daerah kami,” ujar Mathilda, sedih. 


Siti Maemunah, Koordinator Nasional JATAM 

 (laporan perjalanan dari Papua Nugini)


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri