| on Tuesday, 04 December 2007
|
Views : 1286  |
Surtini, 35 th, perempuan dari yang lahir di Buyat Pante ini, bertemu lagi dengan Katamsi, salah satu humas andalan Newmont, perusahan tambang raksasa dari Amerika Serikat, yang menyebabkan Surtini dan ratusan warga lainnya harus pindah dari Buyat Pante.
Kali ini tidak biasa, pertemuan mereka terjadi di Universitas Philipina, Quezon City di Manila. Surtini di undang oleh kelompok masyarakat sipil Philipina, LRC – FoE Philipina atau Legal Rights and Natural resources Centre, yang juga perwakilan Friends of the Earth di Philipina. FoE adalah kelompok pemerhati lingkungan terbesar di dunia.
Surtini diminta menjadi pembicara di sebuah Konferensi Internasional bertajuk “Reframing the Mining Debate: Demystifying Paradigms and Mobilizing Global Resistance. Ada lebih dari 20 perwakilan negara yang hadir pada pertemuan yang berlangsung sejak 26 hingga 28 November ini.
Surtini Sebal. Berulang-ulang dia bertemu dengan humas perusahaan ini. Katamsi mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Surtini jengkel. Biasanya mereka bertemu di salah satu sidang kasus Newmont di Manado. Newmont dibawa ke pengadilan oleh pemerintah karena mencemari teluk Buyat. Kali ini diluar dugaan Surtini, dia bertemu Katamsi di luar negeri. Katamsi dikirim Newmont ke Manila untuk menghadiri konferensi yang sama.
“Apa kabar warga di Duminanga?” kata Humas Newmont ini. Setelah basa-basi sebentar, dia menanyakan bagaimana kabar warga Buyat di Duminanga.
Sudah lebih dua tahun warga Buyat tinggal di Duminanga, sejak mereka memutuskan pindah menyelamatkan diri. Mereka percaya teluk Buyat tercemar oleh jutaan ton tailing Newmont yang dibuang ke teluk sejak tahun 1996, hingga perusahaan berakhir tahun 2004. Ada 66 keluarga yang pindah, sementara 7 lainnya – yang bekerja untuk Newmont, memilih tinggal.
Dulu Newmont menghalang-halangi warga pindah, kepindahan warga sama saja dengan cap teluk Buyat tercemar, atau Buyat pante tak layak huni karena limbah tailing Newmont. Saat itu, kata Surtini, jika warga tak jadi pindah, Newmont menjanjikan akan membangunkan rumah baru, memberikan diesel dan jaringan lampu untuk penerangan, membagi mereka televisi, CD player dan antena parabola. Tapi warga Buyat pante tak bergeming. Tanggal 25 Juni 2005, mereka pindah ke Duminanga.
“Setelah pindahpun, Newmot tak berhenti mengganggu kami, berusaha membuat kami menyesal pindah dari teluk Buyat” kata Surtini.
Sepertinya itu juga yang dilakukan Katamsi pada Surtini, ketika minggu kemaren bertemu di Manila.
“Saya pikir ngana (Surtini) sudah pulang ke Buyat. Kenapa ngana tidak pulang ke Buyat?” tanya Katamsi. Ngana adalah bahasa lokal yang berarti kamu. Belum sempat Surtini menjawab, Humas Newmont ini kembali bertanya “Berapa ukuran rumah warga di Duminanga? Kalau di Buyat pantai, sekarang warga dibangunkan rumah baru berukuran 6x9 meter.
“Ukuran rumah kami di Duminanga 5x4 meter” jawab Surtini.
“Wow. Kenapa kecil sekali, dibandingkan dengan Buyat Pante? Ujar Katamsi.
“Rumah kami memang kecil, tapi hati kami besar”, jawab Surtini.
Rupanya Humas perusahaan ini kerepotan mempengaruhi Surtini. Dia mencoba cara lainnya. Kali ini dengan mengungkit kembali dana 30 juta dollar, yang dibayar Newmont kepada pemerintah untuk membatalkan gugatan perdata karena mencemari teluk Buyat.
Uang yang harusnya digunakan untuk memulihkan kondisi masyarakat terkena dampak pertambangan dan lingkungan di teluk Buyat itu, digunakan untuk membiayai program “ Pembangunan berkelanjutan” pada 10 desa sekitar tambang, bahkan desa yang tak terkena dampak pertambangan. Uang itu dikelola oleh Yayasan Minahasa Raya, lembaga yag dibentuk Newmont dan pemerintah, dan digunakan untuk pembangunan infrastruktur di desa-desa tersebut.
“Tapi sayang ya. Kalian yang berjuang mati-matian. Orang lain yang mendapatkan” lanjut Katamsi.
“Apa maksudmu” tanya Surtini.
“Maksud saya, uang 30 juta dolar itu. Kan kalian yang berjuang, akhirnya orang lain yang mendapatkan” tekan Katamsi.
Surtini tahu benar, Newmont juga menggunakan uang ini untuk memecah belah warga di Duminang, agar kembali ke Buyat Pante.
Ya. Tiga puluh juta dolar itu bagai racun buat orang Buyat Pante.
Dengan 30 juta dolar itu, Menteri Lingkungan hidup – Rahmat Witoelar, menyetujui perjanjian damai, bertajuk Newmont Goodwill Agreement atau “Perjanjian itikat baik Newmont”. Pemerintah Indonesia akhirnya setuju membatalkan gugatan perdatanya terhadap Newmont. Tanpa sedikitpun mendiskusikan dengan warga Buyat pante, apalagi khawatir keputusan tersebut merugikan orang Pante Buyat.
Warga Pante Buyat khawatir, perjanjian damai ini akan melemahkan kasus kejahatan pidana lingkungan yang diajukan pemerintah, yang diajukan pemerintah disaat yang sama di pengadilan Manado, Sulawesi Utara.
Belakangan kekhawatiran mereka terbukti. Perjanjian Damai ini menjadi salah satu pertimbangan hakim dalam membebaskan Newmont. Padahal kesepakatan ini tak ada kaitannya dengan perkara pidana. Mestinya Goodwill Agreement, yang merupakan kesepakatan antara pemerintah dan Newmont tidak menghapuskan unsur pelanggaran hukum pidana. Dan karenanya penegakan hukum pidana tetap dapat dilakukan. Apalagi dalam Undang-undang, tidak dikenal penyelesaian administratif lingkungan dengan istilah goodwill agreement
Tak hanya itu, uang itu juga hampir membuat warga Buya Pante terpecah belah.
Sang Humas Newmont melakukannya saat bertemu Ibu Surtini di Manila. Dia mencoba membuat Surtini menyesali keputusannya pindah.
Sayang, jawaban Surtini di luar dugaan sang Humas.
“Alhamdulillah, di Duminanga, kami sudah mendapatkan rumah, sekalipun hidup kami di Duminanga susah. Syukurlah, uang 30 juta dolar itu dapat membantu orang lain yang ternyata lebih susah dari kami di Buyat Pante” Ujar Surtini.
Mendengar jawaban Surtini, Katamsi terdiam.
Catatan Perjalanan Siti Maimunah dari Manila dan Nueva Vizcaya, Philipina.
|