HOME arrow INFO arrow Berita arrow Polisi Membiarkan Preman Memukuli Warga Fatumnasi
Polisi Membiarkan Preman Memukuli Warga Fatumnasi PDF Print
on Wednesday, 28 March 2007

Views : 811    


(JATAM, 28 Maret 2007) Intimidasi dan kekerasan, tak henti-hentinya mendera warga desa Kuanoel, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sejak mereka menolak tambang marmer PT Teja Sekawan. Pemukulan juga dilakukan oleh preman perusahaan saat warga menghadiri persidangan gugatan perdata di pengadilan So’e. Ironisnya, polisi malah membiarkan intimidasi dan pemukulan itu berlangsung didepan mereka.
Sejak warga Fatumnasi menolak kehadiran tambang marmer PT Teja Sekawan, mereka terus diresahkan oleh sejumlah intimidasi, mulai ancaman penangkapan oleh kepolisian, maupun ancaman dari orang tidak dikenal. Tanggal 20 Maret 2007, pukul 16.00 WITA, Aleta Ba’un, salah seorang pendamping warga, kembali diancam untuk dibunuh. Preman yang diketahui warga bernama Pacelona, Nando dan Onya Nufa (istri Nando), datang kerumah dan menemui keluarga Aleta. Mereka mengancam akan membunuh Aleta Ba’un.

Ancaman lain juga dialami masyarakat yang akan menghadiri sidang pada tanggal 29 Maret 2007. Sidang gugatan perdata warga melawan Bupati TTS dan perusahaan yang digelar di Pengadilan Negeri So’e di hadiri oleh pengacara warga, Magnus Kobesi, S.H. Sayangnya proses pengadilan tersebut berakhir dengan penyerangan dan pemukulan oleh preman perusahaan. Akibat pemukulan tersebut, tiga orang warga mengalami memar dibagian kepala.

Setelah sidang usai, warga Kuanoel-Fatumnasi yang keluar dari ruangan sidang, tiba-tiba mereka diserang oleh Preman. Nicolas Silab, salah seorang preman perusahaan, memukul Bapak Lot Taklale. Tidak lama kemudian Yani Tameleb, preman lainnya, menyerang dan memukul Yati Kase di bagian muka hingga jatuh pingsan. Berikutnya, Aleta Ba’un (Mak Leta) yang mencoba menenangkan masa, malah mendapat pukulan Yani Tamaleb. Para penyerang semakin membabi buta dan memukul Mama Erna. Salah satu pukulan bahkan mengenai anak yang sedang digendong Mama Erna.

Sungguh ironis, dalam situasi seperti itu, aparat Kepolisan disekitar lokasi, bersikap tuli dan buta. Mereka membiarkan pemukulan terus berlangsung dan tidak melakukan tindakan apapun. Alih-alih melindungi warga, dalam kasus ini, polisi bahkan telah menjadi bagian dari kekerasan yang dilakukan preman karena dengan sengaja membiarkan pemukulan terjadi didepan mata mereka.

Informasi yang lebih lengkap bisa dibuka di: http://rakyatmollo.blogspot.com

   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev

INFO KILAT

Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta

RSS Feeds

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri