HOME arrow INFO arrow Arsip Berita arrow Arsip Berita 2007 arrow Dari Buyat Pante ke Dusun Bunga, 28 Desember 2007
Dari Buyat Pante ke Dusun Bunga, 28 Desember 2007 PDF Print
on Friday, 28 December 2007

Views : 3717    


Senin, 3 Desember lalu adalah hari membahagiakan bagi warga ex Buyat Pante yang bermukim di Duminanga. Hari itu, pemukiman mereka resmi menjadi dusun V Desa Duminanga, Kecamatan Bolang Uki Kabupaten Bolang Mangondow – Sulawesi Utara.

“Itu keputusan penting bagi kami”, kata Anwar Stirman (37th), salah satu warga. Menurutnya, dengan menjadi dusun sendiri, secara  administratif dan politik - warga ex Buyat Pante telah diakui keberadaannya. Kini, sebagai dusun - mereka bisa menentukan kebutuhan, sekaligus mengelola sendiri dusunnya dengan dukungan desa.

Ini bagian cerita panjang warga Buyat Pante. Dua setengah tahun lalu, sejumlah  68 keluarga memutuskan pergi dari tanah kelahirannya di Buyat Pante, kabupaten Minahasa Selatan. Jumlah semuanya 266 orang. Mereka adalah nelayan, yang sehari-harinya bergantung pada hasil tangkapan ikan di Teluk Buyat. “Sejak teluk kami jadi tempat pembuangan limbah tambang emas PT Newmont, hidup kami susah, hasil tangkapan ikan turun drastis. Tak cuma itu, warga mulai merasakan penyakit yang tak pernah dialami sebelumnya. Ada benjolan di badan, kram-kram, sakit kepala hingga pingsan. Bertahun-tahun itu terus berlangsung”, tutur Anwar mengenang tanah kelahirannya.
 
Akhirnya warga tak tahan lagi. Mereka menuntut pemerintah memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman. PT Newmont tak suka mereka pindah. “Melalui warga yang pro perusahaan, mereka menjanjikan akan memberikan fasilitas listrik, juga akan membagi pesawat televisi lengkap dengan VCD playernya”, tutur Anwar. Meskipun Menteri Lingkungan Hidup saat itu telah mengumumkan Teluk Buyat tercemar dan beresiko bagi kesehatan warga, tetapi sikap pemerintah memenuhi desakan pindah juga tak jelas.

Tapi niat menyelamatkan diri tak terbendung lagi. Pada 25 Juni 2005, warga memutuskan  pindah masal ke Duminanga, jaraknya dari Buyat Pante sekitar 9 jam perjalanan darat. Di sana, untuk sementara mereka tingggal di barak-barak  dekat laut.

Dulunya, Duminanga terdiri dari tiga dusun, dusun I, dusun II dan dusun III. November lalu, desa ini melakukan pemekaran, sekarang sudah bertambah dua dusun. Dusun V adalah dusun paling buncit. Tapi jumlah penduduk di dusun V paling banyak. Ada sekitar 90 keluarga tinggal disini, sejumlah 68 keluarga adalah ex Buyat Pantai, sisanya warga setempat.

Meskipun banyak rintangan di awal, para pendatang ini tak membutuhkan waktu lama untuk berbaur dengan warga setempat. Mungkin karena mereka sama-sama keturunan pelaut. Warga Duminanga keturunan nelayan Gorontalo, sementara warga Buyat Pantai keturunan nelayan-nelayan Bitung. Diantara mereka bahkan, telah melakukan perkawinan campuran. Ada tiga keluarga baru hasil perkawinan ini yang menetap di Dusun V.

Di pemukiman baru, kebebasan politik terbuka lebih luas buat warga. Sejak Oktober lalu, Anwar Stirman diangkat menjadi salah satu – dari tujuh anggota Badan Perwakilan Desa (BPD). Ini pengalaman pertama buat Anwar. Dulu, di kampung halamannya, sulit mendapatkan kesempatan seperti ini.

“Bulan lalu, saya ikut rapat untuk merevisi Peraturan Desa yang lama. Banyak hal yang saya usulkan di rapat tersebut, khususnya tentang pengelolaan lingkungan hidup. Usulan-usulan itu muncul dari pengalaman selama berjuang untuk bebas dari dampak limbah tambang PT Newmont di Teluk Buyat”, tutur Anwar tentang pengalaman barunya berpolitik

Setelah resmi menjadi dusun, Anwar diangkat warga menjadi Kepala Dusun V. Sementara perannya di BPD digantikan oleh Refli Paputungan, warga ex Buyat Pante lainnya. Akhir tahun ini, warga dusun V akan menyelenggarakan selamatan, mensyukuri terbentuknya dusun mereka. Mereka akan mengubah nama dusun V menjadi Dusun Bunga, singkatan dari Buyat - Duminanga.

Warga memang patut bersyukur. “Meskipun harus memulai segalanya dari nol, kami lebih tenang sekarang, keselamatan kami lebih terjamin di tempat baru”, ujar Anwar.

Saat pertama sampai di Duminanga, keluarga pendatang ini, harus tinggal berdesakan di barak-barak berukuran 3 x 3 meter, hingga satu setengah tahun kemudian. Pangan dan air menjadi masalah besar buat warga di pemukiman baru ini.

Setelah didesak sana sini, pemerintah akhirnya membangun pemukiman baru buat warga. Mereka menyediakan rumah berukuran 5  x 4 meter. Bak penyimpan air juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan warga. Air diambil dari mata air dari bukit yang berjarak dua kilometer  dari dusun. Sayang, kata Anwar,  pipa-pipa air ini sering pecah dan bocor, karena tak ditanam dalam tanah. “Padahal dalam rencana proyek tidak begitu, pipa harus ditanam dalam tanah, agar tak terganggu saat musim hujan, atau tertimpa pohon tumbang”.

Tidak mudah bagi pendatang ini beradaptasi dengan lingkungan baru. Teluk Buyat telah menjadi bagian hidup mereka sejak lahir, juga tempat mereka bermain sejak kecil. Ikan yang mereka makan tiap hari - hasil tangkapan di teluk, telah membentuk darah daging mereka. Dari sinilah pengetahuan menjadi nelayan itu lahir. Mereka tahu dimana dan kapan ikan-ikan Goropa, ikan yang hidup di bagian dasar  teluk, mudah ditangkap. Mereka tahu, sejauh apa boleh melaut saat angin musim barat bertiup kencang. Pendek kata, mereka mengenal Teluk Buyat bagai mengenal bagian tubuh mereka.

Di tempat baru, mereka harus memula dari awal. Apalagi, laut di Duminanga berbeda dengan Teluk Buyat. Di sini perairannya lebih terbuka, lautnya dalam dan ombaknya lebih keras. Ikan utama yang ditangkap juga berbeda jenis. Di sini, Tuna adalah tangkapan yang paling disukai. Satu ekor tuna dengan berat sekitar 40 kilogram bisa dijual seharga Rp 1 juta.  Masalahnya, nelayan pendatang ini pindah ke Duminanga dalam keadaan miskin. Mereka membutuhkan peralatan yang lebih baik, agar aman melaut. Padahal, jumlah keluarga yang masih memiliki kapal bermesin, bisa dihitung dengan jari.  Juga tak setiap saat mereka bisa melaut, bergantung musim. Akhirnya, mata pencaharian menjadi masalah serius.

“Agar tetap bisa makan, kami harus banting setir”, tutur Anwar. Di musim barat, sebagian besar mereka bekerja di kebun-kebun. Para perempuan menjadi pemetik hasil kebun, seperti cabe dan tanaman palawija lainnya. Lumayan, jika musim panen, mereka bisa mengantongi upah Rp 500 hingga Rp 5.000 dari setiap kilo hasil panen. Besarnya upah bergantung harga komoditas pasar. Sementara para lelaki bekerja menjadi buruh mengolah lahan.

“Kadang ada beberapa dari kami yang pergi ke Kampung Buyat dan Ratatotok, untuk menjadi buruh petik cengkeh. Ada juga yang menjadi pembantu rumah tangga musiman di Manado. Segala cara halal kami lakukan untuk bisa makan”, tambah Anwar. Jika beras tak mampu mereka beli, maka pisang dan singkong dari kebun menggantikan menu utama itu.

Tapi tentu, itu semua tak cukup. Warga membutuhkan uang tunai untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, juga biaya kesehatan. Meskipun kesehatan mereka berangsur-angsur pulih setelah jauh dari Teluk Buyat, di pemukiman baru ini mereka harus berhadapan dengan penyakit warga pesisir, malaria akibat gigitan nyamuk malaria. Di awal pindah, banyak warga menderita sakit malaria. Beruntunglah ada Mer-C, lembaga kemanusiaan yang bermarkas di Jakarta ini, telah sejak lama menempatkan seorang dokter mendampingi warga. Masalah-masalah kesehatan bisa diatasi.

Dalam kondisi sulit, warga bertahan tinggal, tapi ada juga yang memilih meninggalkan Duminanga. Pak Imam dan anaknya, memilih pindah ke tanah nenek moyang mereka di Likupang, daerah Bitung. Kakek dan Nenek Latif sekitar 50-an tahun yang tak punya keturunan, memilih mendekat dengan keluarga mereka, kembali ke Kampung Buyat. Bapak tua Gerson Bawole, memilih tinggal dengan anak  semata wayangnya di Pantai Buyat.

Sebenarnya, godaan meninggalkan Duminanga tak hanya dari kondisi lingkungan alam yang keras dan sulitnya ekonomi. Godaan juga datang dari pihak-pihak pro PT Newmont. Di Minahasa Selatan, saat ini, ada sepuluh desa lingkar tambang yang mendapat dana pembangunan fisik, pendidikan dan lainnya. Jumlah total dana itu sekitar Rp 270 miliar, termasuk biaya untuk pemantauan lingkungan sekitar tambang. Dana itu dibayar PT Newmont setelah pemerintah membatalkan gugatan Perdata terhadap PT Newmont Minahasa Raya, di pengadilan Jakarta Selatan.

“Bukankah kalian yang berjuang sehingga dana ini datang, kenapa kalian biarkan orang lain yang menikmati. Itu kalimat-kalimat yang sering disampaikan oleh orang-orangnya Newmont, jika kami berkunjung ke Buyat Kampung, saat mencari pekerjaan ataupun sekedar mengunjungi keluarga di sana’, tambah Anwar.

“Kami sedih dengan kepindahan mereka. Tapi kami harus menghargai pilihan mereka”, ujar Anwar tersenyum sedih. Semangat bertahan hidup ini mendorong warga untuk berupaya mencari jalan keluar lepas dari himpitan ekonomi.

“Awal bulan lalu, kami berkirim surat kepada kepala desa. Kami meminta lahan desa bisa kami kelola menjadi kebun. Kabar baik kami terima, sebulan setelah surat kami layangkan dan dibahas di desa. Mereka bersedia memberikan lahan desa untuk warga ex Buyat Pante. Satu keluarga mendapat satu hektar lahan, yang akan dijadikan lahan kebun”, senyum Anwar berubah suka.

Tak semua warga mendapat lahan. Lahan itu hanya diberikan kepada mereka yang mau bertani. Ya, para  penghuni pesisir ini mendapat pengalaman baru selain menjadi nelayan, selama di Duminanga mereka belajar bertani. Dan mereka mau menekuninya. Ada 50  keluarga yang memutuskan bertani, sedangkan sisanya tetap memilih laut sebagai mata pencaharian utama.

“Tanah di Duminanga subur.  Kami yakin kebun kami akan berhasil dan masa depan kami lebih baik. Setidaknya dibandingkan dengan warga yang masih tinggal di Buyat Pante dan Buyat Kampung, tinggal diantara lubang-lubang raksasa bekas tambang dan teluk yang menyimpan jutaan ton limbah tailing PT Newmont”, tutur Awar mengakhiri ceritanya kepada saya, sore itu.

Wawancara Siti Maemunah dengan Anwar Stirman, Kepala Dusun Bunga.

   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
Next >

INFO KILAT

Kampanye memperjuangkan penyelamatan Kalimantan dari eksploitasi dan ekstraksi aset-aset alam yang membabi buta dan mengancam keselamatan Warga Kalimantan dalam jangka panjang.

Login Form

AGENDA









logo_saung_125x125.gif

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Dampingan Teknis


pesona_pagiku


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosial-ekologik-ekonomik.

 

Anda ingin mendapatkan buku ini?