HOME arrow PUBLIKASI arrow Artikel arrow Menggali untuk Pembangunan?, 3 Januari 2008
Menggali untuk Pembangunan?, 3 Januari 2008 PDF Print
on Thursday, 03 January 2008

Views : 2857    


Oleh Siti Maemunah, JATAM

“Tirulah negara kaya, Kanada, Australia dan Amerika Serikat, yang maju karena sektor tambangnya”, begitu pesan yang sering kita dengar mengenai hubungan industri tambang dan kemajuan suatu bangsa. Ini juga kalimat yang dipromosikan lembaga keuangan internasional, macam Bank Dunia dan IMF. Kalimat sakti ini dipercayai oleh banyak pemerintah negara selatan, termasuk Indonesia.


Thomas Michael Power dari Universitas Montana, dalam hasil penelitiannya bertajuk “Digging  for Development”, menemukan fakta berbeda. Ia menyebut hal di atas sebagai pernyataan, tutur yang kemudian menjadi mitos di seputar industri tambang. Montana, negara bagian tempat Power mengajar adalah salah satu negara bagian di Amerika Serikat, yang memiliki sejarah panjang pertambangan. Disini, sekitar 20 ribu lubang tambang ditingggalkan pemiliknya begitu saja.

Power menemukan, pertambangan sendiri tak pernah menjadi stimulan yang signifikan bagi pembangunan ekonomi tiga negara maju di atas. Di awal industrialisasi, akhir abad 19 hingga awal abad 20, pertambangan berkontribusi kecil dan tak mendominasi hasil ekspor Kanada, Australia dan Amerika Serikat. Malah, andalan ketiga negara itu adalah produk pertanian.
 
Amerika Serikat (AS) menggantungkan perekonomiannya dari produksi dan ekspor barang-barang manufaktur, yang diproduksi dari bahan-bahan mentah sumber daya alam termasuk pertanian, ekspor terbesarnya adalah bahan makanan.

“Berbeda dengan negara selatan yang menekankan pendapatannya dari devisa, di AS - ekspor bahkan tak memiliki peran signifikan,” begitu kata Power, yang mempublikasikan penelitiannya lima tahun lalu. Sepanjang tahun 1880 - 1929, ekspor AS hanya berkontribusi 6,5% bagi pendapatan nasional. Pada saat itu, tambang dan metal setengah jadi - hanya berkontribusi 1% lebih pendapatan nasional dan meningkat hingga 4%  sepanjang  tahun 1929 hingga1970.

Sejarah ekonomi AS tidak menunjuk tambang sebagai kendaraaan pertumbuhan ekonomi mereka. Douglas North  dalam Growth & Welfare in the American Past : A New Economic History, bahkan tidak memasukkan tambang mineral dalam daftar sektor pemicu pembangunan ekonomi AS. Pengeluaran perkapita tumbuh sangat cepat, dipicu perkembangan teknologi,  investasi sumber daya manusia juga perbaikan dan efisiensi organisasi ekonomi. Pembangunan teknologi di semua sektor ekonomi di AS, termasuk pertanian, manufaktur, transportasi, jasa seperti juga tambang, menstimulir keberlangsungan pertumbuhan ekonomi.

Power menekankan, bukannya tambang tidak penting, tapi mineral bukanlah kekuatan yang mendinamisir perekonomian AS. Upaya pembangunan, tegas Power, bukan apa yang kita bangun tetapi bagaimana sektor pertambangan dibangun sehingga menjadi penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Pada studinya, dia membandingkan daerah-daerah yang tak bergantung hasil tambang dengan daerah bergantung hasil tambang. Dia membandingkan gaji buruh dan angka pengangguran, pendapatan perkapita serta pertumbuhan populasi sepanjang tahun 1970 hingga 2000. Ada separuh daerah yang bergantung tambang di AS, meliputi sebaran yang luas.

Apa hasilnya? Jika dirata-rata, pertumbuhan pendapatan buruh pada kawasan yang secara ekonomi bergantung tambang - 50% lebih rendah dibanding daerah lainnya. Pendapatan perkapita pun demikian. Secara umum lebih rendah 25%, tingkat pendapatan perkapitanya pun lebih rendah. Di tahun 2000, pendapatan rata-rata per tahun di kawasan tersebut hanya mencapai USD 9500, itu angka terendah, atau rata-rata dibanding daerah lain. Tak heran, jika pertumbuhan penduduk tahun 1980-an menunjuk angka negatif, bahkan lebih rendah dibanding angka pertumbuhan penduduk seluruh negeri pada 1990-an. Rata-rata pertumbuhan populasinya seperempat atau seperdelapan angka pertumbuhan populasi negeri. Angka pengangguran di daerah ini juga lebih tinggi, khususnya sekitar pertambangan batubara, bahkan angkanya di atas rata-rata pengangguran nasional. Arizona dan Virginia, bahkan memiliki angka pengangguran hingga dua sampai tiga kali  lebih tinggi rata-rata pengangguran nasional.

Temuan pengamatan Departemen pertanian AS tak jauh beda, daerah bergantung tambang  mengindikasikan lambannya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita penduduknya.

Meskipun kesulitan menghubungkan pembangunan pertambangan di tingkat lokal, regional terhadap perekonomian nasional dalam risetnya, Power menemukan daerah bergantung tambang, tapi berhasil mendiversifikasi perekonomiannya kemudian, lebih sukses dibanding daerah yang terus menerus bergantung tambang. Daerah bergantung tambang, biasanya mengalami depresi dan penurunan ekonomi.

Dia juga menemukan, geografi juga faktor penentu. Tambang-tambang di AS, tersebar di kawasan yang luas. Jatuh bangunnya pertambangan bagaikan gelombang naik turun, dari satu tempat ke tempat lainnya, dari waktu ke waktu. Boom tambang diikuti segera dengan Burst. Kenaikan ekonomi tiba-tiba dan kejatuhannya yang tiba-tiba. Produksi Tembaga dimulai di Tanjung bagian atas Michigan, lantas bergeser ke Montana, Utah, Arizona dan New Mexico. Kadang memliki dampak dramatis, baik  secara positif dan negatif.

Kanada lain lagi. Dalam Canada in the World Economy, Jhon A. Stovel menyebut kesuksesan penting Kanada  sepanjang 1896 - 1913 sebagai the last best west , melalui naiknya permintaan ekspor, khususnya gandum dan sejenisnya. Hal itu menciptakan pertumbuhan modal baik domestik dan luar negeri. Tingginya kebutuhan buruh dan pertanian menetap bersamaan dengan naiknya permintaan modal.


Kanada dan Australia

Tak beda dengan AS, Kanada mengarahkan pembangunannya dari sektor pertanian dan manufaktur untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengekspor ke negara tetangganya - Amerika Serikat. Sepanjang 1896 - 1914, gandum mendominasi sepertiga ekspor Kanada.

Saat itu, tambang dan produk terkait, hanya menyumbang 17% produk ekspor. Sepanjang 1890 - 1914, ekspor bahan tambang mencapai 5%  dengan pemasukan kepada GDP sebesar 1%.  Dua tahuh tahun berikutnya hingga 1940an,  naik menjadi  9% dan menyumbang 3% GDP.

Ekspansi industri logam paska perang dunia kedua, 1950 – 1970, membuat ekspor bahan tambang meningkat hingga 17% barang yang diekspor. Tapi akhir abad 20, ekspor logam dan bijih hanya 1,7% barang yang diekspor, produk pertanian mencapai 5 kalinya, sementara produk otomotif mencapai 20 kalinya.

Kontribusi tambang terhadap pendapatan tak beda jauh dengan angka-angka ekspor. Pada saat boom emas,  tahun 1880 hingga 1900, kontribusi tambang terhadap GDP - naik dari 1%, menjadi 3%. Saat awal perang, naik hingga 7% hingga akhir 30-an. Dan kembali jatuh  menjadi 4% sepanjang 1940 hingga 1975. Pada tahun 1951, serapan buruh di sektor pertambangan tak beda dengan 50 tahun sebelumnya, menyerap tenaga kerja sekitar 1,6% .

Beberapa kawasan dikenal dengan gold rushnya, atau kawasan-kawasan kaya bahan tambang yang menjadi serbuan para penambang saat itu, sehingga perekonomiannya meroket, diantaranya Yukon dan British Columbia. Power menemukan selama seratus tahun terakhir, gold rush tidak berkontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi Kanada.

Bagaimana Australia? Negeri ini lebih unik dari dua negara lain yang disebut sebelumnya. Boom tambang terjadi hingga tiga kali. Yang pertama, puncaknya diantara  tahun 1860, kontrubusinya terhadap GDP mencapai 16%. Boom kedua memuncak tahun 1905, kontribusinya terhadap GDP mencapai 8%. Dan ketiga, sepanjang 1920–1960, dan berkontribusi sekitar 4% GDP. Sayang, serapan tenaga kerja pada ketiga boom emas tersebut, kecil. Hanya menyerap 1% tenaga kerja yang ada saat itu.

Pembangunan keberlanjutan ekonomi Australia terjadi mulai akhir abad 19 dan awal abad 20, pertanian dan peternakan mendominasi baik ekspor dan angka GDP. Pembangunan utama ekonomi Australia adalah produksi pertanian dan pembangunan manufaktur.

Tambang memang memiliki peran dalam pembangunan ekonomi pada tiga negara maju ini. Tapi bukan pemicu utama pembangunan ekonomi. Sekali lagi Power mengingatkan, pembangunan ekonomi bukan bergantung kepada “Apa yang di produksi” tapi “bagaimana itu diproduksi”.

Pembangunan sektor tambang di Amerika Serikat misalnya, terhubung dengan seluruh tranasformasi  bisnis dan lembaga keuangan, pendidikan, pembangunan pengetahuan dan penelitian, pengembangan sumber daya manusia dan ekspansi infrastruktur. Juga diperkuat dengan kelembagaan politik yang stabil, menghargai peran  dan penegakan hukum, pasar dan perusahaan swasta. Nilai budaya juga mendukung pendekatan kewiraswastaan yang membuka kesempatan ekonomi. Kebijakan publik juga mendorong distribusi lahan dan sumber daya, yang kemudian mengurangi kesenjangan pendapatan penduduk.

Hubungan tambang dan pembangunan ekonomi sangat berbeda dengan yang digambarkan, dan kemudian menjadi mitos dimana-mana, seperti saat ini. Dan tentu, tak begitu saja bisa di terapkan atau ditiru negara berkembang. Ada beberapa kondisi dasar, yang membuat potensi pembangunan mineral di negara-negara maju berkontribusi bagi pembangunan ekonomi.

Saat pembangunan sektor pertambangan belum dimulai, kondisi politik dan ekonomi  pada tiga negara yang diteliti - telah stabil, pendapatan mereka lumayan tinggi. Saat waktunya membangun industri tambang, itu diartikan sebagai mengorganisasi secara intensif pengetahuan, teknologi dan bisnis. Kondisi inilah yang mendukung tiga negara ini menjadi pusat pengetahun dan teknologi pembangunan mineral. Hal ini berlawanan dengan negara selatan yang masih harus pontang-panting membenahi urusan keamanan, ekonomi dan politiknya, bersamaan mengeksploitasi bahan tambangnya.

Tiga negara ini juga melakukan proteksi ketat pasar domestiknya. Biaya transportasi yang tinggi di pertengahan abad 20,  membuat negara-negara maju ini melakukan rasionalisasi ongkos dengan membangun kompleks industri manufaktur di sekitar kegiatan pertambangan. Tak cuma menggali, tapi juga mengolah konsentrat hingga menyediakan pabrik pengolahan logam. Tak jarang diproduksi dalam berbagai barang-barang manufaktur. Tambang pun menstimulasi pembangunan manufaktur di sekitarnya. Perlindungan terhadap pasar nasional juga dilakukan dengan mengutamakan penggunaannya bagi pasar nasional, bukan ekspor.

Hal ini berlawanan dengan negara-negara berkembang, macam Indonesia yang malah mengekspor bahan tambangnya besar-besaran dalam bentuk bahan mentah, paling banter barang setengah jadi.

Power menyebutkan, negara-negara berkembang akan frustasi jika mereplikasi tiga negara di atas. Mengapa begitu? Karena kondisi-kondisi yang melatar belakangi - seperti dimiliki tiga negara di atas,  sama sekali tak mirip dengan negara selatan.

Apalagi kondisinya berbeda saat ini, biaya transportasi yang rendah, sejak pertengahan abad 20, membuat perlindungan pembangunan manufaktur tak lagi diperlukan. Tembaga di Montana misalnya, bisa dikirim ke pabriknya di Eropa. Atau Korea Selatan membangun industri baja kelas dunia, tanpa perlu menggali bijih besi di negerinya. Ini juga yang mendorong pelaku pertambangan melintasi batas negara dan bersaing satu sama lain guna mendapatkan mineral dari luar negaranya. Kompetisi ini mempengaruhi harga mineral, akibatnya logam tak lagi menjadi dasar pembangunan ekonomi yang stabil.

Power menyebut ekspansi industri itu sebagai ekspor pengetahuan dan teknologi menambang negara utara ke negara selatan. Dan sangat sedikit terjadi pengalihan pengetahuan dan teknologi tersebut ke negara selatan.

Dalam dekade terakhir, makin banyak negara berkembang bergantung kepada pembangunan mineral, terlihat lebih lambat pertumbuhan pendapatan perkapitanya. Secara umum, ketergantungan terhadap mineral tidak konsisten dengan pembangunan ekonomi berkelajutan.

Jeffrey Sachs dan Andrew Warner, di tahun 1997, meneliti 95 negara yang memiliki ketergantungan lebih tinggi terhadap ekspor sumber daya alam. Temuannya, umumnya negara seperti ini relatif lebih miskin.  Dua tahun berikutnya, mereka melakukan penelitian untuk menjawab,  apakah eksploitasi sumber daya alam di negara-negara Amerika latin memberikan "big push", dorongan besar  terhadap keberlanjutan pembangunan. Jawabannya? Tak satu pun. Bahkan, beberapa diantaranya memiliki pertumbuhan ekonomi negatif. Makin tinggi ketergantungan pada ekspor sumber daya alam, makin rendah pertumbuhan  GDP perkapitanya.

Richard M. Auty dari Britain’s Lancaster University, di tahun 1998, juga menemukan tak jauh berbeda. Dia mengamati 85 negara, sepanjang 1960 hingga 1993, melihat apakah negara kaya sumber daya alam berkontribusi terhadap keberlanjutan ekonomi. Hasilnya? Negara bergantung kepada kekayaan sumber daya alamnya, berada di jajaran negara paling miskin. Bahkan beberapa diantaranya memiliki pertumbuhan negatif. Power juga menyebutkan penelitian oleh konsultan Bank Dunia, Alan Gelb, yang juga menemukan fakta tak jauh berbeda.

Jean-Philippe Stijns dari Universitas California, bahkan menemukan lebih ekstrim. Negara-negara yang memilih mengekspor sumber daya alam dibanding menggunakannya untuk kebutuhan domestik dan manufaktur, memberi dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

International Financial Institution Bank Dunia juga menganalisis 55 negara yang bergantung pada mineral di tahun 1990-an. Mereka menemukan, China dan India menunjukkan potret lebih baik dibanding lainnya. Keduanya memproduksi mineral tapi banyak menggunakannya untuk konsumsi domestik, dan tak signifikan untuk perdagangan internasional.

Dalam studinya, Power menyimpulkan bahwa pelaku dan pembela pertambangan, melebih-lebihkan peran pertambangan di Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Power menyatakan, tambang hanya berperan kecil dalam industrialisasi dan terbangunnya pola keberlanjutan ekonomi. Dalam kontek pembangunan, tambang hanya bagian dari pola yang komplek dari institusi, teknologi dan pembangunan perusahaan, dimana ini tak cuma dilakukan pada sektor pertambangan, tetapi juga pertanian, manufaktur, perdagangan retail dan jasa, disaat bersamaan.

Buat saya, studi ini membuktikan bahwa mitos-mitos tentang kesejahteraan yang disampaikan oleh industri tambang bahkan lembaga keuangan - yang mendanai mereka, cenderung manipulatif. Apalagi saat melihat kenyataan di lapang, di kawasan-kawasan sekitar tambang di negara selatan, Indonesia, Philipina, dan Papua Nugini misalnya - umumnya penduduk sekitar harus pontang-panting menghadapi tiga masalah, yaitu terjadinya pelanggaran HAM, perusakan lingkungan dan pemiskinan. Pertambangan mensejahterakan penduduk sekitar adalah mitos.

Negeri kepulauan ini terlalu  lama menjadi sumber kerukan bahan tambang untuk diekspor, dalam bentuk bahan mentah ke pihak asing, selanjutnya menjadi pasar raksasa (captive market) produk-produk jadi mereka. Sudah waktunya pemerintah Indonesia mengkaji ulang arah pengurusan industri ekstraktif di negeri ini -  yang setelah empat dekade, tak banyak memberikan manfaat bagi bangsa ini. [ ]








   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

RUU Minerba menghapus hak warga negara menentukan pilihan ekonominya, memanipulasi harga mineral dan orientasinya untuk penuhi kebutuhan bangsa lain. 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri