Views : 1611  |
Oleh Siti Maimunah
Siapa tak kenal, atau tak pernah memakai tusuk gigi? Selepas makan - tusuk gigi biasanya jadi kewajiban. Bayangkan jika tak ada tusuk gigi, orang yang giginya renggang dan bolong, pasti jadi gak pede. Ada yang ngganjel rasanya di mulut. Itu baru dari tusuk gigi.
Bagaimana dengan kertas? Bayangkan jika tak ada kertas. Setidaknya buat yang sedang jatuh cinta tapi malu untuk nembak incarannya, pasti kesulitan menyampaikan maksud hati. Mau pake batu kayak jaman purba? Apa romantisnya.
Tusuk gigi dan kertas, hanya bagian kecil di keseharian, yang bahan dasar pembuatannya dari kayu, baik yang ditanam ataupun ditebang langsung dari hutan alam.
Belum lagi jika pergi ke Supermaket. Ada tujuh dari sepuluh barang yang kita butuhkan disana, dibuat dari minyak kelapa sawit. Mulai dari pasta gigi, mie instan, sabun, minyak goreng, biskuit hingga beragam kosmetik. Kelapa sawit banyak ditanam pada lahan yang semula adalah hutan alam. Semua kebutuhan kita teryata terhubung dengan alam sekitar.
Bagaimana dengan tetangga saya, yang doyan banget memakai perhiasan perak dan emas, mulai dari leher hingga jari tangan. Atau Henry, teman laki-laki saya, yang selalu nenteng laptopnya kemana-mana. Apakah perhiasan dan laptop mereka berhubungan dengan alam? Jawabnya, sangat.
Fiqoh, tetangga saya, menggeleng ketika ditanya, bagaimana kalung emasnya dibuat. Ia tidak tahu, untuk membuat kalung emas harus digali berton-ton tanah. Bersama 1 gram emas, dihasilkan pula 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing yang dibuang ke alam. Juga 5,8 kilogram emisi beracun, berupa 260 gram Timbal, 6,1 gram Merkuri dan 3 gram Sianida. Ia juga membutuhkan setidaknya 104 liter air.
Bayangkan, jika perhiasan emas yang dipakai tetangga saya itu, totalnya 20 gram. Setidaknya ada 6 truk limbah beracun, yang ia sumbangkan ke alam.
Masih banyak lagi keperluan harian kita yang berasal dari alam. Pendek kata, Siapapun ia, jika masih disebut manusia, seluruh daur hidupnya, dari pagi hingga lelap malam, menggunakan produk alam. Ia berutang pada jasa alam.
Tapi nanti dulu. Dimana sebenarnya letak alam yang kita bicarakan diatas. Dimana hutan alam yang ditebang kayunya, atau ditanami sawit, juga asal emas digali dari perut bumi itu? Tempat-tempat itu, tak pernah kita datangi, kadang namanya tak pernah kita dengar, apalagi tahu apa yang terjadi disana. Dimana itu?
Salah satunya, ada di wilayah masyarakat dayak Siang Bakumpai di Puruk Cahu, Kalimantan tengah. Disini ada Ibu Satar. Ia punya ladang di tanah adat sukunya, luasnya sekitar 10 hektar. Hasil panen ladang cukup untuk pangan setahun, kadang berlebih. Sejak PT Indo Muro Kencana datang dan mengeruk emas, tanah keluarga Satar dirampas, tak kurang dari satu hektar yang tersisa. Akibatnya, panen padi tak cukup lagi dimakan harian. Untuk makan keluarganya yang lebih selusin itu, Satar harus membeli beras tambahan. Tak cuma itu, sungai dekat rumahnya juga tak bisa digunakan lagi, karena keruh dan kadang berbau.
Banyak lagi lainnya. Ada wilayah suku Amungmeh, di Papua, tempat PT Freeport menambang emasnya, lantas membuang lebih 200 ribu ton limbah tailing, yang mengandung logam berat ke alam, setiap hari. Ada Batu Hijau, tempat Newmont mengeruk emas dan setiap hari membuang 120 ribu ton limbah tailingnya ke laut. Juga masyarakat desa Sijang, Sebunga dan Semanaga di Sambas Kalimantan barat, yang menjadi korban kebun sawit skala besar milik Wilmar Sambas Plantation (WSP).
Kita berutang pada mereka. Ibu satar dan warga kampungnya, juga orang-orang Amungmeh, Sijang, Sebunga dan Semanaga serta komunitas lainnya yang tinggal disekitar kawasan-kawasan kaya sumber daya alam, yang harus menanggung akibat pembalakan hutan alam dan penggalian bahan tambang, yang kita manfaatkan setiap harinya.
Memang, tak semua hasil kebun sawit atau bahan galian itu kita pakai sendiri. Sebagian besar dijual ke luar negeri. Tapi hasil penjualannya dalam bentuk devisa, juga masuk ke kantong negara, sebagian digunakan untuk membangun sarana kebutuhan publik, sebagian lagi di korupsi.
Kayu-kayu hasil pembalakan hutan, sekitar 65 persennya di jual ke berbagai negara, mulai China, Jepang, Amerika Serikat hingga Eropa. Umumnya mereka gunakan untuk bahan bangunan. Bagaimana sisanya? Kita pakai didalam negeri. Lebih separuhnya digunakan sebagai bahan pembuat kertas. Tapi tak semua kertas kita gunakan, ada 81,2 persen yang kita jual lagi ke luar negeri. Jadi hanya bagian kecil yang sebenarnya kita gunakan.
Sama dengan hasil perkebunan kelapa sawit. Dari sekitar 15 juta minyak sawit mentah yang kita produksi, ada 57 persen yang dijual ke keluar negeri, terutama ke Eropa. Ia digunakan untuk bahan makanan ataupun bukan makanan. Sisanya, dipakai di dalam negeri, terutama untuk minyak goreng.
Bagaimana dengan bahan tambang? Mirip juga. Hampir 90% bahan tambang kita, baik emas, Nikel, timah dan lainnya di jual ke luar negeri. Ada batubara, yang lebih 70 persennya yang di ekspor. Dan gas, yang lebih dari separuh juga di ekspor.
Selatan ke Selatan
Kita yang tinggal di kota, teryata ada hubungannya dengan orang kampung, dan lokasi-lokasi terpencil yang kaya sumber daya alam, yang kita pakai keseharian. Tak cuma itu, ternyata negara-negara maju utara, seperti Jepang, Eropa, Kanada dan Amerika Serikat –terhubung dengan kita. Merekalah pengguna terbesar bahan-bahan mentah, ekspor kita.
Indonesia dan negara-negara kaya sumber daya alam lainnya, macam Papua Nugini, Philipina, Ekuador, Ghana dan lainnya – yang umumnya terletak di belahan bumi selatan inilah yang kemudian mendapat sebutan negara-negara selatan. Sementara negara tujuan ekspor mereka, negara industri dan maju, disebut negara utara.
Inilah yang juga membuat kita lemah. Kita terlalu banyak melayani kebutuhan negara luar, celakanya bahan-bahan itu dijual, sebagian besar dalam bentuk bahan mentah. Kayu dalam bentuk balok dan plywood, hasil kebun sawit dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO) bahan mentah negara Melayani kebutuhan bahan mentah
Ironisnya, meskipun kaya sumber daya alam, negara-negara selatan kebanyakan negara miskin. Tak hanya itu, mereka juga mengalami perusakan alam dan bencana lingkungan yang berulang, akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Mau bukti? Lihatlah kasus semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, atau ratusan orang mati akibat tanah longsor di Bohorok Sumatera Utara. Di musim hujan seperti sekarang, kita bagai panen bencana.
Propinsi yang kaya sumber daya alam di Indonesia, macam Papua, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau dan NAD, ternyata propinsi yang memiliki angka kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM dan pemiskinan tertinggi.
Bagaimana negara utara? Makin maju sebuah negara, bukannya makin bijak. Amerika Serikat misalnya, meskipun penduduknya hanya 4 persen dari jumlah penduduk dunia, ia menyumbang 35 persen emisi karbon, penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.
Itu menggambarkan keseharian kita sebenarnya. Makin kaya seseorang, ia tak makin bijak. Ia bisa membeli jam tangan paling mahal, sesering mungkin belanja di mall, punya banyak mobil bahkan terbang ke luar negeri sebanyak yang ia suka. Ia boros, menghabiskan kayu, minyak sawit, bahan tambang dan bahan bakar fosil lebih banyak dari kelompok lainnya.
Potret diatas jarang kita dapatkan, baik dikoran, cerita film apalagi tayangan sinetron harian. Cerita- cerita dari kampung – tempat eksploitasi sumber daya alam, agar didengar penduduk menengah perkotaan. Suara-suara dari komunitas terpencil, di negara-negara selatan. Yang tak didengar, bahkan oleh pengurus negara mereka, yang lebih sibuk melayani kebutuhan pebisnis dan negara utara.
Potret di atas bisa anda temui di South to South Film Festival 2008. Datang saja, ke Goethe Institute, Jl Syam Ratulangi, Menteng - Jakarta Pusat, tanggal 25 – 27 Januari 2007. |
|
|