| on Sunday, 27 January 2008
|
Views : 754  |
Oleh : Nur Azizah
“Masalah lingkungan tidak sekedar membuang sampah sembarangan. Namun lebih terkait dengan masalah ekonomi dan politik.” Demikian jawaban Mae, Koordinator Nasional Jaringan Tambang, dalam Talkshow mengiringi rangkaian pembukaan South to South Film Festival atau disingkat StoS 2008, Jumat, (25/01) di Goethe Institute, Jakarta. Mae menambahkan, “Maka vote adalah lebih dari sekedar mendukung. Yaitu warga yang berada di sekitar hulu, tempat sumber daya alam di eksploitasi - mempunyai hak memilih model pembangunan apa yang mereka butuhkan dan kita, sebagai warga yang tinggal di hilir, sebagai pengguna sumber daya alamnya, harus mendukung pilihan mereka,” tegasnya.
“Karena, kenyataannya apapun yang kita lakukan disini, terhubung dengan apa yang dialami oleh masyarakat di kawasan eksploitasi sumber daya alam, sehingga kawasan-kawasan tersebut yang harus membayar apa yang kita gunakan,” tambahnya.
Lantas, apa yang layaknya kita lakukan dalam mendukung pilihan mereka, sebagai bentuk persaudaraan kita, masyarakat di hulu dengan masyarakat lokal di hilir? Jawabnya adalah solidaritas dan mengurangi gaya hidup boros kita.
Selain jawaban di atas tadi, StoS 2008 juga menguak dan menjawab kegelisahan kita tentang hubungan hulu dan hilir. Panitia penyelenggara berharap festival ini menggugah kesadaran hati, rasa, juga menuntun kita untuk bertindak segera, sebelum saudara-saudara kita di hulu menanggung lebih banyak lagi, akibat ketidaktahuan kita.
Bagaimanapun, hulu dan hilir itu bersaudara. Itu kira-kira yang ingin dipaparkan oleh jajaran foto di dinding salah satu ruang di Goethe Institute. Rangkaian foto itu akan menyeret kita kepada muara jawaban pertanyaan itu.”Ternyata tanpa kita sadari, hal-hal yang biasa kita lakukan justru menjadi salah satu penyebab rusaknya lingkungan,” ungkap salah satu pengunjung yang tiba-tiba menghampiri penulis di malam kedua festival.
Sipakapa is Not for Sale
Mungkinkah anda menjadi pengunjung selanjutnya yang memiliki keberanian untuk merubah pola kebiasaan sekarang juga? Dan benarkah anda saudara mereka, masyarakat lokal di kawasan hulu? Kita lihat!
Sipakapa is Not for Sale, film yang memikat. Film ini bertutur perjuangan masyarakat lokal di negara Guatemala. Mereka menolak pertambangan emas skala besar dari Kanada, yang justru menimbulkan banyak penderitaan bagi masyarakat sekitar. Mereka belajar dari tempat lain, dimana tambang emas telah menyebabkan banyak masalah, diantaranya penyakit kulit, kerontokan pada rambut yang mengakibatkan kanker, kelainan pada bayi yang dilahirkan, dan lainnya.
Dalam film tersebut digambarkan bagaimana mereka, masyarakat lokal memperjuangkan hak hidup dan keberlangsungan hidup di tanah mereka sendiri. Mereka harus melawan keserakahan pemerintah dan perusahaan. Akhirnya mereka memilih refrendum atau jejak pendapat. Uniknya, jejak pendapat di 13 wilayah ini dilakukan dengan cara sederhana, menyesuaikan kebiasaan masing-masing daerah. Bahkan mereka memaparkan hasil jajak pendapat tersebut melalui jalur hukum yaitu Komisi Hak Asasi Manusia, hingga deputi Guatemala.
Akhirnya kesepakatan dicapai, Sipakapa menolak tambang emas Glamis.
“Film itu cukup membuat kita sadar, sudah lama kita tidak sadar tentang lingkungan. Yang sulit adalah merubah kesadaran bagi diri kita buat bagaimana kita bisa peduli dengan lingkungan,” Eko, mahasiswa Universitas Satya Negara Indonesia menanggapi usai menonton film ini.
Sementara Febri, Freelance Jurnalis berpendapat, film tersebut membuat kita banyak belajar bahwa rakyat mempunyai pilihan sendiri untuk menentukan pilihan hidup dan penghidupannya.
Akankah anda juga merasakan hal yang sama seperti mereka yang telah mengunjungi dan tergugah oleh film ini? Datanglah ke StoS, anda akan menemukan jawabannya.
|
|
|