Sedikit diketahui bahwa barang-barang yang kita gunakan sehari-hari -- benda-benda yang sedemikian akrab dengan kehidupan kita seperti sabun, pasta gigi, minyak goreng sampai perhiasan emas, menyumbang kerusakan lingkungan yang tidak kecil.
Fakta mengenai emas misalnya -- sedikit sekali orang yang tahu kalau untuk memproduksi satu gram emas dihasilkan pula lebih dari dua ton limbah batuan dan lumpur yang dibuang dan menumpuk di setikar tambang. Belum lagi emisi zat-zat beracun seperti timbal, merkuri dan sianida yang meracuni sumber-sumber air masyarakat yang tinggal sekitar tambang.
Ibu guru Ira Lestari dari SD Bakti Mulya di Pondok Indah mengajak sembilan belas orang muridnya dan beberapa orang guru lain, setelah melihat akan diadakannya South to South Film Festival di internet. "Saya lihat topiknya mengenai pemanasan global, ini baik untuk diketahui anak-anak," katanya.
"Memperkaya materi yang diberikan di sekolah," terang Ibu Deni yang juga mengajarkan masalah-masalah lingkungan di SD Bakti Mulya.
Seluruh murid yang datang bersama terlihat cukup antuisias mengikuti rangkaian film-film yang diputar siang itu.
Tasha, salah satu murid kelas lima, mengatakan senang bisa jalan-jalan dan sekalian mendapatkan pelajaran mengenai lingkungan. "Bagus ya kita jadi bisa mengenal bagaimana kehidupan di negara lain," katanya.
Hari kedua StoS dengan pemutaran serangkaian film dokumenter pendek tentang hutan dan air dan dilanjutkan dengan bincang-bincang seputar masalah lingkungan. Dalam perbincangan beberapa kali muncul pertanyaan, apakah informasi mengenai permasalahan lingkungan bisa diketahui lebih luas di masyarakat. Memang kenyataannya masalah lingkungan belum terlalu memasyarakat.
Serombongan mahasiswa dari Politeknik Negri Jakarta datang ke StoS, juga merasa mendapatkan banyak pengetahuan mengenai lingkungan di festival film ini. Kitty, salah seorang diantaranya, mengatakan kalau film-film yang diputar "menggugah kesadaran lingkungan, misalnya pesan menganai tidak hanya 'jangan membuang sampah sembarangan' tapi juga mengolahnya."
Kitty datang dengan serombongan kawan-kawannya dari PNJ dan sekalian meliputnya untuk majalah kampus.
Mau tahu lebih banyak tentang masalah-masalah lingkungan, terutama mengenai pemanasan global? Yuk datang ke penutupan StoS di Goethe Haus, Jalan Sam Ratulangi no 9-15, Menteng, Jakarta Pusat.[Nabiha shahab]
Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta