Forum JATAM
Thursday, 20 November 2008

Semangat  pembaharuan, tidak menyentuh sektor pertambangan yang masih dikomandani Purnomo Yusgiantoro. Hingga 2006, pemerintah telah menerbitkan sedikitnya 2.559 ijin pertambangan dan batubara, belum termasuk ijin tambang galian C, ijin tambang migas dan Kuasa Pertambangan yang dikeluarkan pemerintah daerah pada masa otonomi daerah. Di Kalimantan Selatan saja, lebih dari 400 ijin tambang dikeluarkan, di Kalimantan Timur ada 509 ijin, Sulawesi Tenggara 127 ijin tambang, di kabupaten baru –Morowali, Sulawesi Tengah bahkan sudah  dikeluarkan 190 perijinan. Jumlah ini akan terus bertambah. Luasan lahan untuk dikeruk akan makin meluas. Tidak ada batasan kapan dan berapa jumlah ijin yang patut dikeluarkan tiap daerah, yang punya kerentanan dan daya dukung ekologi berbeda. Fonomen itu tak beda dengan masa orde baru: obral murah jual habis, gali & ekspor sebesar-besarnya.

Apa pendapat anda tentang fonomena di atas dan apa yang harusnya dilakukan pemerintah, perusahaan dan publik?  Sampaikan pendapat anda di Forum JATAM

HOME
Handphone, 5 Februari 2008 PDF Print
on Tuesday, 05 February 2008

Views : 1590    


Oleh Siti Maemunah

Dimuat di majalah FORUM, 4 Februari 2008

 

Handphone bukan barang baru. Sejak tujuh tahun lalu, saya sudah menggunakannya. Tapi, saya tak pernah tahu dari mana logam di handphone berasal.

 

Ternyata tak cuma saya, perusahaan elektronik terkemuka macam Nokia, Motorola, Dell, Phillips dan Acer - tak tahu darimana mineral dan logam dalam produk mereka, dikeruk. Apakah dikeruk oleh perusahaan tak bertanggung jawab,  menghancurkan lingkungan setempat dan melanggar HAM. Ataukah dari negara yang dilanda perang sipil, yang biaya perangnya berasal dari pengerukan bahan tambang tersebut.

 

Itu hasil penelitian terbaru di Eropa. Sebagian perusahaan juga menganggap tak penting darimana logam mereka berasal.

 

Padahal industri elektronik adalah pemakai logam dalam jumlah besar. Diperkirakan, seperempat berat sebuah handphone berasal dari logam, belum termasuk baterai dan pengecasnya. Jumlah terbesar dipakai untuk  papan  sirkuit. Sepertiga papan sirkuit tersusun dari logam, sisanya gelas, keramik dan plastik.

 

Barang-barang elektronik, macam laptop, handphone, MP3 player, kamera dibuat dari berbagai komponen  dan jenis logam. bahan utamanya adalah aluminium, besi, tembaga, nikel dan seng. Ada juga bahan lain dalam jumlah kecil, seperti beryllium, timah, cobalt, coltan, tantalum dan platinum. Meski jumlahnya kecil, ia memiliki peran penting.

 

Cobalt misalnya, ia dipakai untuk membuat pengecas batere handphone, MP3 player, laptop dan kamera digital. Gallium dalam handphone dipakai untuk power amplifier, keypad backlighting dan lampu kamera.

 

Dan jangan lupa timah. Tanpa bahan ini, komponen satu dan lainnya tak akan bisa digabungkan. Industri elektronik menyerap 35 persen timah dunia. Sebagian besar dipakai untuk menyoder atau merekatkan antar komponen. Sejak Uni Eropa mengumumkan larangan penggunaan timbal bahan soder, dua tahun lalu, permintaan timah naik pesat.

 

Gaya hidup modern perkotaan - yang mulai menyerbu kampung, juga memicu permintaan semua logam naik pesat. Tahun 2006 saja, sekitar 1 miliar handphone dipasarkan ke seluruh dunia.

 

 

Dari Lubang Tambang ke alat elektronik

 

Siapa tahu,  colton ataupun timah untuk menyoder papan sirkuit dalam handphone anda, berasal dari negara yang dilanda perang sipil sejak lama, macam Congo, atau dari kawasan dengan kerusakan lingkungan parah, macam Bangka Belitung di Indonesia.

 

Tahun 1940-an, Congo memasok timah kedua dunia. Saat ini, ia hanya memasok sekitar 3 persen timah dunia. Yang terbanyak dari propinsi Kivu Selatan dan Kivu utara, kawasan yang dikontrol oleh kelompok-kelompok pemberontak bersejata. Sepanjang  tahun 1998 hingga 2003, negara di benua Afrika ini,  dilanda perang sipil. Sekitar 4 juta orang meninggal akibat kekerasan, penyakit dan kelaparan semasa perang sipil.

 

Di Congo, timah dikeruk dari tambang-tambang di propinsi kaya mineral, dibawah pendudukan kelompok-kelompok bersenjata yang sedang bertikai, mulai dari tentara nasional Congo, Tentara Pembebasan Rwanda, kelompok RCD Goma, milisi Hutu dan banyak lagi. Mereka mendanai  makanan hingga peluru dengan mengeruk Cobalt, Tantalum dan Timah. Di North Kivu, pembunuhan, perkosaan, kejahatan perang, kejahatan melawan kemanusiaan adalah hal biasa sepanjang perang sipil.

 

Laporan Global Witness tahun 2005, menyebutkan sebagian besar bijih timah dari Congo dikapalkan melalui Kenya dan Tanzania dan berakhir ke pabrik Thaisarco di Thailand dan Malaysia Smelting Company. Keduanya masuk dalam 10 daftar perusahan pemasok timah terbesar di dunia. Setiap tahun, sekitar 30 ribu ton bijih timah Thaisarco dikapalkan dari Congo. Dan perusahaan Samsung, Motorola dan LG adalah pelanggan mereka.

 

Fakta lain juga diungkap dalam laporan. Sepanjang tahun 1998 hingga 2000 misalnya, Afrimex - perusahaan dagang bermarkas di London,  membeli 165 ribu kilogram coltan. Di tahun 2000, Afrimex membayar sekitar Rp 18 ribu kepada kelompok pemberontak RCD Goma, untuk setiap kilogram coltan yang mereka dapat. Kelompok ini, juga mengutip pajak hingga 8 persen dari seluruh pembelian coltan di kawasan itu. Mereka menggunakan uang tersebut untuk biaya perang.

 

Sementara bijih Timah, banyak diambil dari Wakilele, Kivu. Disini ada tambang Bisie, dengan 57 lubang tambangya. Walikale kaya mineral, mulai permata, kobalt, kasiterit (bijh timah), koltan dan bauksit. Dilaporkan bahwa kelompok bersenjata - macam Brigade 85, berhasil mengutip pajak lebih Rp 3,1 Milyar dari perusahaan tambang. Mereka juga melakukan intimidasi, menarik pajak haram dari para penambang lokal, serta penyiksaan dan perkosaan.

 

Tak jarang, para penambang lokal  itu pulang dengan perut lapar. Mereka harus menggali dengan tangan dan jari mereka, begitu keluar dari lubang, kelompok bersenjata menyambut dengan acungan senjata.  Kadang mereka merampas bijih timah yang didapat.

 

Perang Sipil yag terus berlanjut, dibiayai dari pengerukan sumber daya alam, mendorong Perserikatan bangsa-bangsa mengirim sebuah panel ahli ke Congo, guna meneliti ekploitasi haram sumber daya alam disana. Mereka temukan kaitan antara perang, eksploitasi sumber daya alam dan kepentingan ekonomi nasional dan internasional.

 

Laporan penelitian itu keluar tahun 2003, dengan daftar panjang 85 perusahaan dan individu, yang ditemukan terlibat langsung  dengan pendanaan dan bencana kemanusiaan dan ekonomi disana. Diantaranya, ada Afrimex, Finmining hingga Malaysia Smelting Corporation.

 

Jika Congo sarat perang sipil, lain lagi dengan Indonesia, pemasok timah terbesar kedua di dunia. Sebagian besar timah dari Indonesia berasal dari pulau kecil, Bangka dan Belitung (Babel). Sejarah timah di kawasan ini tak kalah kelam.

 

Sekitar tahun 1970-an, ada  500 orang terbunuh karena operasi militer terhadap penyelundup timah, sementara 500 orang lainnya mati di penjara. Jauh sebelum itu, timah telah menjadi komoditas dagang yang memicu peperangan. Baik sejak jaman kerajaaan Palembang hingga penjajahan. Tak terhitung korban yang jatuh.

 

Sekarang, hampir seluruh daratan pulau-pulau tersebut memilki konsesi tambang skala besar. Diantaranya, 111 ijin pertambangan milik PT Timah. Juga perusahaan tambang asing dan ribuan unit penambang Inkonvensional (TI), yang menambang dengan sebaran sangat luas. Empat tahun lalu saja, tercatat ada 6507 unit TI.

 

Sudah ratusan tahun penambangan timah di Babel, dan warisannya tak main-main. Para penambang ini menggali dimana-mana, termasuk daratan, fasilitas publik – macam jalan raya dan sekolah, sungai, pesisir dan laut, hutan produksi juga hutan lindung. Akibatnya, lingkungan rusak berat.

 

Di tahun 2004 saja, ada 10 sungai tercemar dan bertambah 2 lagi dua tahun kemudian akibat maraknya pertambangan. Belum lagi sekitar 60 persen luasan hutan kawasan ini rusak, dimana 25 persennya rusak berat.

 

Sepuluh tahun lalu, ada sekitar 887 lubang bekas tambang yang dibiarkan begitu saja, dikabarkan ini sama dengan luasan 0,1 persen luasan pulau. Bayangkan berapa tambahannya saat ini - sepuluh tahun kemudian, jika penambang TI meningkat pesat, khususnya sejak ijin menambang dipermudah.

 

Ironisnya dimusim kemarau, sekitar 90 persen lubang-lubang tambang tersebut digunakan airnya oleh warga untuk kegiatan harian. Itu karena sumber-sumber air banyak yang kering, seiring kerusakan lingkungan disana.

 

Diduga lubang-lubang tersebut menyumbang terhadap tingginya kasus penyakit demam berdarah di kawasan ini. Ada 11,5 persen penderita demam berdarah di sana tahun 2006.

 

Lahan pertanian juga mengalami tekanan berat. Sepanjang tahun 2000 hingga 2005, ada sekitar  50 ribu ha kebun lada berubah kawasan keruk. Tak cuma kebun lada, lahan pertanian lainnya juga berubah fungsi. Apalagi ada sekitar 32 ribu petani banting stir menjadi penambang. Tak heran jika panen beras dan palawija menurun. Jika ini  terus berlangsung, ketahanan pangan pulau-pulau ini akan ambruk.

 

Rangkaian cerita diatas, saya rekam sepanjang mengikuti sebuah Konferensi Meja bundar bertajuk “Make IT Fair” di Brussel, minggu lalu. Ada pengacara, perusahan elektronik raksasa dan asosianya, Asosiasi perusahaan tambang, Serikat buruh, akademisi,  dan masyarakat sipil dari beberapa negara di Eropa.

 

Dari sini, saya menemukan lagi bukti, salah urus sumber daya alam, gaya hidup modern dan konsumtif di kota, harus dibayar mahal oleh mereka di kampung, seperti yang terjadi di Congo dan Babel.


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Masa Otonomi Daerah, pelaku tambang menyerbu Pulau kecil. Padahal, ia punya karakteristik budaya dan sistem nilai khas serta rentan dengan kawasan tangkapan air dan lahan budidaya yang terbatas

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika tambang-tambang emas baru dibuka?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Buku JATAM
 
 
 
 
 
 
 
 
 
APA KATA MEREKA? 

Dampingan Teknis


gimbal03


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Buku JATAM Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.

Anda ingin mendapatkan buku ini?