Forum JATAM
Monday, 04 August 2008

Empat tahun terakhir, kabinet Indonesia Bersatu sudah 3 kali menaikkan harga BBM dengan alasan sama : harga minyak dunia naik, subsidi yang melambung harus ditanggung pemerintah.  Tapi sepanjang waktu itu, tak ada tindakan genting dilakukan SBY untuk lepas dari ketergantungan BBM dan berdaulat atas sumber energinya. Yang terakhir terjadi lagi krisis listrik. Celakanya, batubara dan gas – energi alternatif tak terbarukan, malah sebagian besar dijual ke pihak asing. Siapa yang dilayani kabinet SBY sebenarnya? Sampaikan pendapat anda ke Forum JATAM

HOME
Ribuan Nelayan Banyuwangi Terancam Limbah PDF Print
on Wednesday, 02 April 2008

Views : 1174    


Oleh Em. Lukman Hakim, Tim belajar Wilayah Krisis Jawa Timur

Jika rencana tambang itu benar-benar dilakukan, Sugiono beserta ribuan nelayan lain akan terancam penghasilan. Sebab, kata Sugiono, arus laut Pancer mengarah ke Pondok Dadap, Rajegwesi, Benua, Muncar, dan bahkan hingga Puger Jember dan Sendang Biru Malang. Ancaman limbah tailing – sebutan untuk limbah tambang emas ini juga akan beresiko puluhan perusahaan ikan di Muncar dan ribuan karyawannya.

***


Angin berhembus sepoi, melambaikan dedaunan yang menghijau di lereng-lereng gunung Tumpang Pitu. Lereng-lereng ini melingkari pantai Pancer desa Sumber Agung, Banyuwangi Jawa Timur. Terdengar gemercik ombak menampar karang dan kaki gunung yang menancap kokoh dibibir pantai - irama alam yang selalu mengiringi kesibukan nelayan Pancer.


Pagi itu, nelayan sibuk menurunkan hasil ikannya. Sementara ibu-ibu, berbondong-bondong membantu suami dan anak-anak mereka, memilah ikan yang ditangkap. Sebagian kecil hasil tangkapan itu di dijual di Tempat Pelelangan Ikan—TPI Pancer, sisanya di jual keluar.

 

Selama puluhan tahun, hasil laut menopang kesejahteraan masyarakat Pancer dan sekitarnya. Bagi mereka, laut Pancer laksana ibu yang melahirkan mereka, yang menyediakan kasih sayang dan makanan melimpah. Itulah mengapa rasa terima kasih kepada Tuhan pencipta alam dan kekayaan laut Pancer rutin dilakukan warga dalam bentuk upacara-upacara adat, Larung dan Petik Laut.

 


Kekayaan Laut Pancer


Ada beragam jenis ikan yang biasa ditangkap nelayan disana, mulai jenis lokal seperti Tongkol, Pare, Pindang, dan lainnya, hingga jenis ekspor maçam Tripang. Tak hanya kaya jenis, jumlahnya juga melimpah. Di perairan sekitar Gunung Tumpang Pitu saja, dalam sehari – nelayan dapat menangkap hingga 500 kg ikan. Mereka menjualnya seharga Rp. 75 ribu hingga Rp. 200 ribu perkilogram, bergantung jenis ikannya.

 

Kekayaan laut perairan ini meliputi; Pondok Dadap, Perigi, Benua, Rajegwesi, dan Muncar. Inilah yang membuat Banyuwangi dinobatkan sebagai penghasil ikan terbesar kedua di Indonesia setelah Bagan Siapi-api, tahun 2004. Dan menjadi peringkat pertama tahun lalu.

 

Karenanya, jangan heran jika melihat banyak nelayan menggunakan handphone seharga Rp. 1,5 juta hingga Rp. 3,5 juta disana. Motor-motor keluaran terbaru berseliweran di jalan-jalan aspal dan gang-gang kecil - yang tertata rancak dengan paving putih sepanjang gang dusun Pancer.

 

Sekitar 99 persen warga Pancer berprofesi nelayan. Ada 3000-an KK disana. Kondisi perekonomian nelayan, terlihat dari rumah-rumah permanen disana. Hampir tiap rumah dilengkapi dengan fasilitas mewah seperti televisi dan kulkas. Juga fasilitas sanitasi, seperti toilet, kamar mandi beserta kamar mandi lengkap dengan pompa air bertenaga listrik.

 

Kehidupan nelayan Pancer, terpancar dari Sugiono, laki-laki usia 60 tahun, yang telah puluhan tahun menjadi nelayan. Meski tidak memiliki kapal sendiri, ia tak pernah merasa kekurangan. Tiap harinya, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp. 100 ribu hingga Rp. 150 ribu. Bahkan, ketika musim ikan tiba, kadang ia harus membuang hasil tangkapan ikannya kembali kelaut, jika kapalnya tak sanggup lagi memuat hasil tangkapan.

 

Kini Sugeng pensiun melaut. “Saya tak melaut lagi, ya tinggal nemani istri begini. Alhamdulillah, tabungan masa muda dulu, cukup untuk pensiun di hari tua” ungkapnya dengan senyum mengembang. Istrinya, Maryam membuka toko kelontong di rumahnya.  

 

Kekayaan perairan Pancer, membuat warganya demikian mencintai tanah dusunnya. Tak heran bila keswadayaan warga disini cukup tinggi. Mereka membangun balai dusun secara swadaya. Juga swadaya memperhalus jalan dengan paving dan aspal, menjadi rapi dan menyenangkan – jarang dijumpai di daerah-daerah pelosok lain Indonesia. Meski jarak Pancer dengan kota Banyuwangi sekitar 70 km, tapi fasilitas perkotaan dan kenyamanan dirasakan warga Pancer.

 


Ancaman Limbah Emas


Kini kenyamanan itu bakal terusik. Sejak sebuah perusahaan tambang - PT. Indo Multi Niaga, disingkat PT IMN – akan menambang emas di daerah atas Pancer. Perusahaan sudah mengantongi ijin dan bersiap-siap mengeksploitasi sekitar 11. 621,45 ha hutan lindung blok Tumpang Pitu, petak 75, 76, 77, dan 78. Kawasan hutan itu dikelola oleh KPH Banyuwangi Selatan.

 

Dalam dokumen Analisa Dampak Lingkungan yang dirumuskan Tim Universitas Gajah Mada disebutkan, PT. IMN akan menggunakan dua langkah untuk membuang limbah. Membuangnya kelaut lepas membuang limbah di darat.

 

Kepala Bapedalda Banyuwangi – Abdul Kadir, dalam sebuah keterangannya menyatakan pembuangan limbah dilaut tidak akan membahayakan perairan. Perusahaan berencana menggunakan Natrium Sianida , bukan Merkuri - yang jelas-jelas berbahaya bagi biota laut. “Kalau Natrium Sianida bertemu dengan air laut katanya akan netral dan tidak membahayakan bagi manusia dan ikan” ungkapnya.

 

Jika rencana tambang itu benar-benar dilakukan, Sugiono beserta ribuan nelayan lain akan terancam penghasilan. Sebab, kata Sugiono, arus laut Pancer mengarah ke Pondok Dadap, Rajegwesi, Benua, Muncar, dan bahkan hingga Puger Jember dan Sendang Biru Malang. Ancaman limbah tailing – sebutan untuk limbah tambang emas ini juga akan beresiko puluhan perusahaan ikan di Muncar dan ribuan karyawannya.

 

Rencana tambang itu ditanggapi Sugeng (55), nelayan Pancer lainya,“ya ....yang pasti kami para nelayan berharap penambangan emas tidak jadi dilakukan mas, karena ketergantungan kami pada hasil laut sangat tinggi. Dengan kemampuan dan keterampilan warga yang sangat terbatas, mau bekerja apa lagi mas” ungkapnya dengan nada tinggi.

 

Tak cuma Sugeng yang kuatir dan marah. Warga Pancer menolak kehadiran perusahaan tambang tersebut. Penolakan ini barangkali yang membuat perusahaan yang digawangi Maya Miranda ini – kemudian merubah namanya menjadi PT. IMN.

 

Tapi warga Pencer tak bergeming. Sekitar 600 orang wakil warga menolak sosialisasi yang digelar PT. IMN di Balai Dusun Pancer. Warga juga melakkan talkshow di beberapa stasiun radio, hingga berkali-kali menggelar aksi ke jalan. Sayang, itu belum cukup meyakinkan Ratna Ani Lestari (49) – sang Bupati Banyuwangi, untuk mendukung sikap warga.

 

 “PT. IMN jelas mengancam kehidupan dan penghidupan para nelayan. Apalagi pedagang ikan seperti saya yang menjual ikan ke Singapura dan Taiwan. Orang-orang disana itu tidak akan mau menerima ikan yang cacat sedikit saja, apalagi terkena limbah emas” pungkas Sugiono. (Lux)


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Surat itu datang tanpa diharapkan, ditandatangi oleh Kepala Desa Magani, surat itu secara tidak langsung mengusir warga Karunsi’E pergi dari Pemukiman Dongi atau lebih dikenal sebagai Bumper (Bumi Perkemahan), kampung halaman leluhur mereka. Surat itu ditembuskan kepada Camat dan Kapolsek Nuha Sorowako Luwu Timur Sulawesi Selatan, selebihnya ditembuskan kepada PT. INCO mulai dari Direktur Eksternal hingga Security perusahaan.

Login Form

AGENDA









Pojok Lamin

Direktorat Jenderal Imigrasi mencekal taipan Edwin Soeryadjaya dan para petinggi perusahaan tambang Grup Bakrie karena dinilai lalai membayar utang royalti ke negara. 

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika tambang-tambang emas baru dibuka?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri