Forum JATAM
Monday, 04 August 2008

Empat tahun terakhir, kabinet Indonesia Bersatu sudah 3 kali menaikkan harga BBM dengan alasan sama : harga minyak dunia naik, subsidi yang melambung harus ditanggung pemerintah.  Tapi sepanjang waktu itu, tak ada tindakan genting dilakukan SBY untuk lepas dari ketergantungan BBM dan berdaulat atas sumber energinya. Yang terakhir terjadi lagi krisis listrik. Celakanya, batubara dan gas – energi alternatif tak terbarukan, malah sebagian besar dijual ke pihak asing. Siapa yang dilayani kabinet SBY sebenarnya? Sampaikan pendapat anda ke Forum JATAM

HOME
Emas di Tumpang Pitu PDF Print
on Thursday, 03 April 2008

Views : 951    


Oleh Siti Maemunah


“Menurut perusahaan, Sianida akan netral jika bertemu air laut, karena Sianida bersifat asam, sementara air laut bersifat basa. Ia tak akan berbahaya lagi,” ungkap  Ari Untoro dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Propinsi Jatim, pada sebuah Talkshow di radio  Fajar FM Banyuwangi. Sianida adalah bahan kimia berbahaya. Seukuran biji beras saja, ia bisa berakibat fatal bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air - bisa fatal bagi ikan. 

 


***

“Kami sudah  bilang mbak, sama kepala desa, kami tidak mau bertemu dengan perusahaan”, kata Sugeng di telpon malam itu.  Sugeng adalah nelayan Pancer, sebuah dusun kecil dibawah kawasan hutan lindung Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi – kabupaten paling timur Pulau Jawa. 

 

Sugeng memberitahu, rencana pertemuan warga membicarakan tambang emas di Tumpang Pitu, kawasan pegunungan – ratusan meter diatas kampungnya. Suaranya terdengar gusar. 

 

Majelis  Wilayah Cabang Nahdatul Ulama - sebuah ormas keagamaan, akan memfasilitasi pertemuan antara perusahaan dengan warga. Padahal - menurut Sugeng, warga sudah sepakat, tak mau ada pertambangan emas di kawasan itu. Oleh karenanya, mereka tak mau lagi ada pertemuan sosialisasi dan sejenisnya. 

 

Tapi pertemuan tanggal 5 maret itu, ternyata tetap dilakukan. “Kami akhirnya memutuskan datang. Kami duduki semua kursi yang disediakan panitia. Ada sekitar 500 kursi. Setelah itu, kami membacakan pernyataan penolakan bersama terhadap pertambangan emas itu. Dan segera pulang selesai membacakannya,” lanjut Sugeng.

 

Itu telpon Sugeng awal bulan lalu. Tiga minggu kemudian saya pergi ke Jember. Kota ini, hanya dua jam dari  Banyuwangi. Disini, saya bertemu Lukman, salah seorang mahasiswa S2 Universitas Jember. Ia baru mengunjungi Sungeng di rumahnya. Dari Lukman, saya tahu banyak tentang Pancer dan rencana tambang itu. 

 

Pancer adalah dusun kecil di desa Sumber Agung Pesanggaran.  Sebagian besar warganya hidup sebagai nelayan, hanya sebagian kecil yang menjadi petani. Nelayan bergantung kepada perairan laut teluk Pancer. Sementara sumber pengairan sawah-sawah dusun Pancer bergantung pada sungai Gonggo, yang hulu sungainya ada di Gunung Tumpang Pitu. 

 

Teluk Pancer juga kaya ikan. Dari nelayan penangkap ikan, sedikitnya setengah ton ikan berhasil dikumpulkan para pengepul tiap harinya. Ada tiga pengepul ikan disana. Ikan-ikan itu kemudian di bawa ke Muncar – pelabuhan lelang ikan terbesar di Indonesia. 

 

Sebagian wilayah Banyuwangi dikelilingi laut. Tak hanya kaya ikan, kawasan lautnya juga indah dan banyak dikunjungi wisatawan. 

 

Menurut Sugeng  dan nelayan lainnya, arus laut perairan Pancer memiliki dua arah.  Satu ke timur, lainnya ke barat. Kearah barat, arus laut menuju laut  Puger Jember hingga pulau Sempu dan Sendang biru malang. Sementara ke arah timur menuju Rajegwesi, Grajagan dan Muncar. 

 

 “Setelah Tsunami tahun 1994 perekonomian warga Pancer pulih. Bisa dibilang, perekonomian mereka cukup baik. Handphone sudah menjadi alat komunikasi umum disana, penghasilan harian nelayan mencapai Rp. 100  ribu hingga Rp 200  ribu. Hampir tiap rumah memiliki televisi, juga toilet sendiri”, kata Lukman.  

 

Hanya dari Pancer. Tiap tahunnya, pemerintah daerah mendapatkan pemasukan retribusi sekitar Rp 35 juta. 

 

Itu kabar baiknya, tapi ada juga kabar buruknya, tambah Lukman. Pagi itu, kami sedang cangkru’an di warung kopi dengan Campus Centre Universitas Jember. Cangkru’an istilah gaul untuk nongkrong, biasa dipakai di Jawa Timur. 

 

Kabar buruknya adalah rencana tambang emas di kawasan tumpang Pitu, pas diatas dusun Pancer. Nama perusahaannya PT Indo Multi Niaga (PT IMN). Ia sedang mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. Tepatnya pada Petak 75, 76, 77 dan 78. 

 

Blok yang akan ditambang, luasnya 11.621 ha. Kabarnya, tiap 1 ton batuan mengandung 2,3 gram emas. Artinya, ada 999,9 ribu gram batuan yang akan dibuang menjadi limbah. Baik limbah batuan ataupun berbentuk lumpur tailing.

 

Tak jelas berapa emas yang dikandung Tumpang Pitu. Tapi Sugeng dan warga Pancer membutuhkan penjelasan lain. Kemana limbah tambang emas  akan dibuang?

 

Pertanyaan itu terjawab pada sebuah talkshow radio di Fajar FM Banyuwangi – tanggal  19 Maret lalu. Topiknya, “Kenapa Sikap Bupati mengambang terhadap Rencana tambang”. Disitu, ada Lukman – mewakili Walhi Jatim dan  Bapak Abdul Kadir – kepala Humas Pemkab Banyuwangi. Keduanya diminta menjadi narasumber.

 

Perusahaan sedang menyusun AMDAL. Rencananya mereka akan membuang limbah tailingnya ke Teluk Pancer. Pilihan lainnya, limbah akan dibuang ke darat. Pilihan kedua, akan meenggunakan sekitar 250 ha lahan pertanian warga.  akan menjadi kawasan buangan limbah tailing. Itu inti informasi yang disampaikan oleh sang Humas.

 

Tapi ada info yang mengejutkan dari talkshow tersebut. Saat sang penyiar meminta juga komentar dari  Ari Untoro dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Jawa Timur. Ujarnya, “Menurut perusahaan, mereka menggunakan teknologi ramah lingkungan karena tak menggunakan Merkuri. Hanya menggunakan Sianida. Sianida akan netral jika ketemu air laut. Sianida bersifat asam sementara air laut bersifat basa, sehingga ia tak berbahaya”. 

 

Jika ucapan itu benar, tentunya pemerintah tak perlu membatasi Sianida yang dibuang ke laut. Toh nanti akan netral. Nyatanya, di Indonesia setiap limbah mengandung  logam berat tak boleh sembarangan dibuang ke perairan, termasuk yang mengandung Sianida. Ada ambang batas yang harus dipatuhi. Di Argentina, bahkan ada setengah lusin propinsi melarang penggunaan bahan kimia beracun di pertambangan – termasuk Sianida.

 

Sianida adalah bahan kimia berbahaya. Seukuran biji beras saja, ia bisa berakibat fatal bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air - bisa fatal bagi ikan.

 

Saya jadi ingat kasus Newmont di teluk Buyat Sulawesi utara. Perusahaan asal Amerika Serikat ini, memakai Sianida untuk memisahkan emas dari batuan. Dan limbah tailingnya dibuang ke laut teluk Buyat. Ia menggunakan standar peraturan lingkungan yang ada. Semuanya disebutkan lengkap di dokumen AMDAL. 

 

Dilapang, terbukti AMDAL tak bisa menjamin keselamatan warga sekitar. Sejak limbah dibuang ke teluk Buyat, ikan-ikan susah ditangkap, penghasilan nelayan menurun drastis. Ada juga ikan-ikan dasar, yang tumbuh benjolan dekat ekornya. Warga Buyat Pante juga mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan. Mulai gatal-gatal, tumor, kram-kram, lumpuh dan penyakit lainnya, hingga tambang berhenti beroperasi. 

 

Akhirnya, sebanyak 66 keluarga memutuskan pindah dari teluk Buyat, dua tahun lalu. Sementara di kampung Buyat – tetangga mereka, sekarang kabarnya makin banyak orang menderita sakit. Angka kematian tinggi – tak seperti biasanya. Hasil penelitian Kementrian Lingkungan Hidup menyebutkan, sumur-sumur warga disana tercemar logam berat Arsen.

 

“Apa benar limbah yang mengandung Sianida akan netral dan tak berbahaya jika dibuang ke laut mbak?,” tanya sugeng, pada kali berikut ia menelpon. 

 

Ini DeJavu. Bagai mengulang cerita sama. Warga Buyat pernah bertutur dulu, diawal masuknya tambang, Newmont juga memberikan info serupa: limbah tailing tidak berbahaya. Sianida akan netral jika bertemu dengan air laut. 


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Tak hanya membuat ruang hidup di daratan menyempit, di laut  pengerukan batubara di Kalimantan Selatan juga  mendatangkan masalah bagi para nelayan. Telah sejak lama wilayah tangkap mereka menyempit. Khususnya sejak  kegiatan pertambangan batubara marak dan menggunakan selat dan lautan di wilayah Kotabaru sebagai jalur angkut.

Login Form

AGENDA









Pojok Lamin

Perseteruan antara pemerintah dan pengusaha batu bara yang berbuntut pencekalan belasan petinggi perusahaan tambang, pekan lalu, sungguh disesalkan. Kedua pihak seharusnya bersikap lebih dingin dan elegan dalam menyelesaikan sengketa pajak dan tunggakan royalti batu bara yang sudah menahun lamanya. 

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika tambang-tambang emas baru dibuka?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri