| on Thursday, 03 April 2008
|
Views : 1055  |
Oleh Siti Maemunah
“Menurut perusahaan, Sianida akan netral jika bertemu air laut, karena Sianida bersifat asam, sementara air laut bersifat basa. Ia tak akan berbahaya lagi,” ungkap Ari Untoro dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Propinsi Jatim, pada sebuah Talkshow di radio Fajar FM Banyuwangi. Sianida adalah bahan kimia berbahaya. Seukuran biji beras saja, ia bisa berakibat fatal bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air - bisa fatal bagi ikan.
***
“Kami sudah bilang mbak, sama kepala desa, kami tidak mau bertemu dengan perusahaan”, kata Sugeng di telpon malam itu. Sugeng adalah nelayan Pancer, sebuah dusun kecil dibawah kawasan hutan lindung Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi – kabupaten paling timur Pulau Jawa.
Sugeng memberitahu, rencana pertemuan warga membicarakan tambang emas di Tumpang Pitu, kawasan pegunungan – ratusan meter diatas kampungnya. Suaranya terdengar gusar.
Majelis Wilayah Cabang Nahdatul Ulama - sebuah ormas keagamaan, akan memfasilitasi pertemuan antara perusahaan dengan warga. Padahal - menurut Sugeng, warga sudah sepakat, tak mau ada pertambangan emas di kawasan itu. Oleh karenanya, mereka tak mau lagi ada pertemuan sosialisasi dan sejenisnya.
Tapi pertemuan tanggal 5 maret itu, ternyata tetap dilakukan. “Kami akhirnya memutuskan datang. Kami duduki semua kursi yang disediakan panitia. Ada sekitar 500 kursi. Setelah itu, kami membacakan pernyataan penolakan bersama terhadap pertambangan emas itu. Dan segera pulang selesai membacakannya,” lanjut Sugeng.
Itu telpon Sugeng awal bulan lalu. Tiga minggu kemudian saya pergi ke Jember. Kota ini, hanya dua jam dari Banyuwangi. Disini, saya bertemu Lukman, salah seorang mahasiswa S2 Universitas Jember. Ia baru mengunjungi Sungeng di rumahnya. Dari Lukman, saya tahu banyak tentang Pancer dan rencana tambang itu.
Pancer adalah dusun kecil di desa Sumber Agung Pesanggaran. Sebagian besar warganya hidup sebagai nelayan, hanya sebagian kecil yang menjadi petani. Nelayan bergantung kepada perairan laut teluk Pancer. Sementara sumber pengairan sawah-sawah dusun Pancer bergantung pada sungai Gonggo, yang hulu sungainya ada di Gunung Tumpang Pitu.
Teluk Pancer juga kaya ikan. Dari nelayan penangkap ikan, sedikitnya setengah ton ikan berhasil dikumpulkan para pengepul tiap harinya. Ada tiga pengepul ikan disana. Ikan-ikan itu kemudian di bawa ke Muncar – pelabuhan lelang ikan terbesar di Indonesia.
Sebagian wilayah Banyuwangi dikelilingi laut. Tak hanya kaya ikan, kawasan lautnya juga indah dan banyak dikunjungi wisatawan.
Menurut Sugeng dan nelayan lainnya, arus laut perairan Pancer memiliki dua arah. Satu ke timur, lainnya ke barat. Kearah barat, arus laut menuju laut Puger Jember hingga pulau Sempu dan Sendang biru malang. Sementara ke arah timur menuju Rajegwesi, Grajagan dan Muncar.
“Setelah Tsunami tahun 1994 perekonomian warga Pancer pulih. Bisa dibilang, perekonomian mereka cukup baik. Handphone sudah menjadi alat komunikasi umum disana, penghasilan harian nelayan mencapai Rp. 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Hampir tiap rumah memiliki televisi, juga toilet sendiri”, kata Lukman.
Hanya dari Pancer. Tiap tahunnya, pemerintah daerah mendapatkan pemasukan retribusi sekitar Rp 35 juta.
Itu kabar baiknya, tapi ada juga kabar buruknya, tambah Lukman. Pagi itu, kami sedang cangkru’an di warung kopi dengan Campus Centre Universitas Jember. Cangkru’an istilah gaul untuk nongkrong, biasa dipakai di Jawa Timur.
Kabar buruknya adalah rencana tambang emas di kawasan tumpang Pitu, pas diatas dusun Pancer. Nama perusahaannya PT Indo Multi Niaga (PT IMN). Ia sedang mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. Tepatnya pada Petak 75, 76, 77 dan 78.
Blok yang akan ditambang, luasnya 11.621 ha. Kabarnya, tiap 1 ton batuan mengandung 2,3 gram emas. Artinya, ada 999,9 ribu gram batuan yang akan dibuang menjadi limbah. Baik limbah batuan ataupun berbentuk lumpur tailing.
Tak jelas berapa emas yang dikandung Tumpang Pitu. Tapi Sugeng dan warga Pancer membutuhkan penjelasan lain. Kemana limbah tambang emas akan dibuang?
Pertanyaan itu terjawab pada sebuah talkshow radio di Fajar FM Banyuwangi – tanggal 19 Maret lalu. Topiknya, “Kenapa Sikap Bupati mengambang terhadap Rencana tambang”. Disitu, ada Lukman – mewakili Walhi Jatim dan Bapak Abdul Kadir – kepala Humas Pemkab Banyuwangi. Keduanya diminta menjadi narasumber.
Perusahaan sedang menyusun AMDAL. Rencananya mereka akan membuang limbah tailingnya ke Teluk Pancer. Pilihan lainnya, limbah akan dibuang ke darat. Pilihan kedua, akan meenggunakan sekitar 250 ha lahan pertanian warga. akan menjadi kawasan buangan limbah tailing. Itu inti informasi yang disampaikan oleh sang Humas.
Tapi ada info yang mengejutkan dari talkshow tersebut. Saat sang penyiar meminta juga komentar dari Ari Untoro dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Jawa Timur. Ujarnya, “Menurut perusahaan, mereka menggunakan teknologi ramah lingkungan karena tak menggunakan Merkuri. Hanya menggunakan Sianida. Sianida akan netral jika ketemu air laut. Sianida bersifat asam sementara air laut bersifat basa, sehingga ia tak berbahaya”.
Jika ucapan itu benar, tentunya pemerintah tak perlu membatasi Sianida yang dibuang ke laut. Toh nanti akan netral. Nyatanya, di Indonesia setiap limbah mengandung logam berat tak boleh sembarangan dibuang ke perairan, termasuk yang mengandung Sianida. Ada ambang batas yang harus dipatuhi. Di Argentina, bahkan ada setengah lusin propinsi melarang penggunaan bahan kimia beracun di pertambangan – termasuk Sianida.
Sianida adalah bahan kimia berbahaya. Seukuran biji beras saja, ia bisa berakibat fatal bagi manusia, sepersejuta gramnya dalam seliter air - bisa fatal bagi ikan.
Saya jadi ingat kasus Newmont di teluk Buyat Sulawesi utara. Perusahaan asal Amerika Serikat ini, memakai Sianida untuk memisahkan emas dari batuan. Dan limbah tailingnya dibuang ke laut teluk Buyat. Ia menggunakan standar peraturan lingkungan yang ada. Semuanya disebutkan lengkap di dokumen AMDAL.
Dilapang, terbukti AMDAL tak bisa menjamin keselamatan warga sekitar. Sejak limbah dibuang ke teluk Buyat, ikan-ikan susah ditangkap, penghasilan nelayan menurun drastis. Ada juga ikan-ikan dasar, yang tumbuh benjolan dekat ekornya. Warga Buyat Pante juga mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan. Mulai gatal-gatal, tumor, kram-kram, lumpuh dan penyakit lainnya, hingga tambang berhenti beroperasi.
Akhirnya, sebanyak 66 keluarga memutuskan pindah dari teluk Buyat, dua tahun lalu. Sementara di kampung Buyat – tetangga mereka, sekarang kabarnya makin banyak orang menderita sakit. Angka kematian tinggi – tak seperti biasanya. Hasil penelitian Kementrian Lingkungan Hidup menyebutkan, sumur-sumur warga disana tercemar logam berat Arsen.
“Apa benar limbah yang mengandung Sianida akan netral dan tak berbahaya jika dibuang ke laut mbak?,” tanya sugeng, pada kali berikut ia menelpon.
Ini DeJavu. Bagai mengulang cerita sama. Warga Buyat pernah bertutur dulu, diawal masuknya tambang, Newmont juga memberikan info serupa: limbah tailing tidak berbahaya. Sianida akan netral jika bertemu dengan air laut.
|