HOME arrow PUBLIKASI arrow Artikel arrow Ikan Lapindo
Ikan Lapindo PDF Print
on Thursday, 10 April 2008

Views : 929    


Oleh Siti Maemunah


Saya terus memikirkan ikan-ikan hebat, yang disebut sang koboi. Ikan-ikan yang suka pada lumpur Lapindo. Pasti ikan itu tahan suhu tinggi dan lingkungan yang buruk. Pasti kulitnya tebal, setebal muka pemilik Lapindo Brantas yang tak mempedulikan puluhan ribu korban. Pasti juga, batok sang ikan keras dan giginya tajam. Ia pasti ikan pemangsa yang menguasai perairan. Mirip perilaku pemilik Lapindo Brantas, yang punya banyak jurus meloloskan diri, meski digetok dan diprotes sana-sini. Dengan rentang kuasanya, tak cuma polisi, pejabat daerah  dan tokoh masyarakat juga melunak. Bahkan SBY pun takluk, tak berani tegas. Benar-benar ikan Lapindo

***

Meski lumayan terik, hari ini cukup ramah. Rombongan kecil kami berjumlah tujuh orang tiba di pinggir kali Porong, sekitar semburan lumpur Lapindo. Baru setengah jam kami ada disana, seorang "koboi" berjalan mendekat. Dengan celana jeans ketat, baju lengan panjang, sarung tangan, dan topi laken - ia persis koboi iklan  rokok Marlboro. Bedanya ia tak menunggang kuda dan bukan di padang pasir, melainkan di padang lumpur Lapindo. 

 

Tak lama, saya  mengenalinya, Zulkarnain - juru bicara BPLS atau Badan Penanggulangan Lumpur lapindo. Sang koboi menyalami kami sambil mengenalkan diri. 

 

Baru setengah jam lalu Soffian Hadi, seorang pejabat BPLS mengatakan bahwa lumpur Lapindo tidak berbahaya,  bahkan bisa dipakai untuk masker muka.  Kali ini, penjelasan jubir BPLS tentang pembuangan lumpur ini, tak kalah bikin kami terperangah.

 

“Para pemancing malah seneng kalo lumpurnya di buang ke kali Porong. Lihat saja disana," kata Zulkarnaen sambil menunjuk ke arah pipa-pipa pembuangan yang menjulur ke bibir Kali Porong. 

 

Dan ajaib! Di arah yang ditunjuknya, ada  dua orang pemancing lengkap dengan peralatan pancing mereka. Padahal sebelumnya tak ada pemancing di sana.

 

"Biasanya ikan-ikan berkumpul dibawah lumpur yang dibuang. Para pemancing jadi lebih mudah mendapatkan ikan,” tambahnya lagi.

 

Ajaib lagi. Di depan kami yang semula lengang, kini ada seorang pemancing yang sedang kerepotan memasukkan umpan ke ujung kail. 

 

Sang koboi Zulkarnaen masih terus memberikan penjelasan penguat, “Suhu lumpur  yang keluar sekitar 80 derajat celcius. Begitu dibuang ke sungai, sudah turun menjadi 50 derajat selsius."

 

Padahal, suhu normal bagi perikanan di sungai-sungai  yang bermuara di pantai utara Jawa,  sekitar 26 – 27 °C. Begitu  memasuki ekosistem pesisir, lain lagi.  Ekosistem pesisir macam terumbu karang dan mangrove masing-masing hanya mampu tumbuh dengan sangat baik di kisaran suhu 26 0C – 280C dan 15 - 25 °C. Dalam jangka panjang, justru kedua ekosistem ini, yang menjamin keberlanjutan sumberdaya perikanan berkembang biak dan tumbuh. 

 

Dari penelitian, lumpur Lapindo tak hanya terkontaminasi oleh bahan pencemar seperti Fenol, Chlor; lebih dari itu, terdapat material padatan tersuspensi (MPT) yaitu partikel berukuran sangat halus dan tersusun dalam jumlah cukup besar. 

 

Ada 6 parameter kunci yang bisa mempengaruhi sumberdaya perairan: bau, kecerahan, kekeruhan, muatan padatan tersuspensi, suhu, dan lapisan minyak atau bahan pencemar lainnya, seperti logam berat. Sedimen lumpur, tentu meningkatkan padatan tersuspensi di kali Porong, membuat air sungai makin keruh, makin bau, dan bertambah panas. Jika matahari sulit menebus dasar perairan,  maka produktivitas perairan akan menurun, sebab proses pembuatan makanan disana membutuhkan sinar matahari. 

 

Perkataan sang koboi Zulkarnain, mengingatkan saya kepada Saidi – laki-laki petambak di tepi kali Porong yang mengatakan, "Sejak lumpur meluber banyak lahan pertanian tak bisa ditanami, begitu pula tambak. Banyak yang mengalami kerugian." Padahal Ada sekitar 7.762 ha tambak di daerah Porong, itu dimiliki oleh 1.149 petambak dan  menghidupi sekitar 1.272 orang pandega – penjaga tambak, belum termasuk pekerja tambak. Entah bagaimana nasib mereka kini. 

 

Sewaktu bertemu Saidi musim kemarau tahun lalu, debit air kali Porong kecil dan mengalir tersendat. Di beberapa bagian terlihat dasar sungai berbatu. Di tengah sungai ada eskavator, yang terus menerus mencampur dan mengaduk lumpur yang dibuang ke kali Porong. Katanya, pengadukan ini bertujuan mengurangi kekentalan lumpur dan menjaganya bisa mengalir, diantara arus sungai Porong yang kecil – menuju buangan terakhirnya di laut. 

 

Sungguh beruntung Lapindo. Pemerintah membiarkan mereka memperlakukan korban lumpur sesuka-sukanya.  Menteri Lingkungan hidup bahkan memberinya tiket gratis - tak perlu memberi perlakuan apapun pada lumpurnya sebelum dibuang ke sungai. Padahal tahun lalu, semburan lumpur sudah mencapai 170 ribu meter kubik, setara 170 juta liter tiap harinya. 

 

Siang itu arus kali Porong besar. Airnya mengisi dua pertiga badan Sungai. Air di pompa  naik dan dialirkan ke tanggul-tanggul lumpur. Di tengah tanggul, ada alat pengaduk yang membuat lumpur bercampur dengan air, agar bisa  mengalir memasuki pipa buangan - menuju kali Porong. 

 

Tapi sepertinya, pengenceran itu tak banyak berarti. Jumlah lumpur yang menyembur lebih besar dibanding yang dibuang ke kali Porong. 

 

Saya terus memikirkan ikan-ikan hebat, yang disebut sang koboi. Ikan-ikan yang suka pada lumpur Lapindo. Pasti ikan itu tahan suhu tinggi dan kondisi lingkungan yang buruk. Pasti kulitnya tebal, setebal muka pemilik Lapindo Brantas yang tak mempedulikan puluhan ribu korban. Pasti juga, batok sang ikan keras dan giginya tajam, ia pasti ikan pemangsa yang menguasai perairan. Mirip perilaku pemilik Lapindo Brantas, yang punya banyak jurus meloloskan diri, meski digetok dan diprotes sana-sini. Dengan rentang kuasanya, tak cuma polisi, pejabat daerah  dan tokoh masyarakat juga melunak. Bahkan SBY pun takluk, tak berani tegas. Benar-benar ikan Lapindo. 

 

Tak habis pikir, bagaimana orang-orang lulusan perguruan tinggi ternama, yang diangkat untuk menyelesaikan masalah para korban ini, begitu membela PT Lapindo Brantas, sampai-sampai berani mengatakan sebuah hal mustahil sebagai fakta.

 

Jika mereka tak mampu menangani lumpur Lapindo, setidaknya tak perlu membodohi dan memberikan informasi yang menghina akal sehat.

 

Surabaya, 22 Maret 2008

Penulis adalah Koordinator Nasional JATAM


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

RUU Minerba menghapus hak warga negara menentukan pilihan ekonominya, memanipulasi harga mineral dan orientasinya untuk penuhi kebutuhan bangsa lain. 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri