| on Monday, 21 April 2008
|
Views : 716  |
Oleh Siti Maemunah
Dimuat majalah FORUM No 51/ April 2008
Kata Luis Manuel Claps, ada dua hal dalam budaya Argentina yang membuat gairah dan semangat penduduknya cepat naik: sepak bola dan perempuan. Tahun lalu Argentina Mining Chamber, semacam Perhimpunan perusahaan Tambang, memutuskan menggunakan gairah Argentina itu untuk memperbaiki “masalah komunikasi” mereka.
***
Tak hanya kaya pemain sepak bola handal, Argentina juga kaya bahan tambang. Salah satunya di San Juan, propinsi di bagian utara Cuyo region. Banyak perusahaan tambang skala besar beroperasi di kawasan ini, diantaranya perusahaan Kanada - Barrick Gold, yang memiliki dua perusahaan tambang, Veladero dan Pascua Lama. Yang lain, ada Yamana Gold, milik Casposo, tambang Pachon milik Xstrata, juga Intrepid Minerals, Tenke dan banyak lagi.
Tak usah heran jika banyak tambang di sana. Jose Luis Gioja, gubenur San Juan, dikenal sebagai promotor tambang utama di Argentina. Tahun lalu, ia terpilih lagi menjadi gubenur, untuk masa jabatan hingga tahun 2011. Ia adalah saudara Cesar Gioja, salah satu senator - yang menjadi presiden Komisi Tambang di Senat Argentina. Cesar juga pengusaha tambang.
Meskipun dua propinsi yang mengapitnya, La Roija dan Mendoza, telah memutuskan menyetop pertambangan terbuka dan penggunaan bahan kimia Sianida di pertambangan, San Juan tak bergeming.
Pemerintah San Juan bahkan tak segan, merubah status kawasan cagar biosfer menjadi lokasi pertambangan. Itulah yang menimpa cagar Biosphere San Guillermo. Di sini ada dua tambang emas, Veladero dan Pascua Lama. Pemerintah setuju memperkecil luasan cagar biosfer tersebut agar tambang milik Barrick Gold, ini bisa beroperasi.
Barrick Gold adalah perusahaan tambang Kanada yang bertabur politikus dunia. Mantan perdana menteri Kanada, Brian Mulroney – memiliki saham di tambang ini. George Bush Senior, setelah lengser dari kursi presiden Amerika Serikat, menjadi penasehat dan pelobi Barrick Gold. Memang dunia bisnis dan dunia politik kekuasaan, kian tipis batasnya.
Tambang Veladero beroperasi sejak lama dan telah mencemari sungai Jachal, yang ada di kawasan bawah. Di sini ditemukan kandungan logam berat Kadmium (Cd) diatas rata-rata yang diperbolehkan peraturan Argentina. Tambang ini juga menuai banyak protes karena perlakukan buruknya terhadap terhadap buruh-buruhnya. Letak tambang di ketinggian diatas 5 ribu meter diatas permukaan laut. Saat musim dingin, para pekerja tambang kadang terjebak cukup lama di camp perusahaan - hingga setengah bulan, menunggu badai salju reda.
Pascua lama lain lagi. Ia akan menambang emas di kawasan glasier. Tambang ini ada di perbatasan dua negara, Argentina dan Chili. Ini akan membahayakan sumber air bersih bagi petani Chili. Sianida dan Asam Sulfurik yang akan digunakan untuk mengekstraksi emas juga beresiko mencemari dua sungai.
San Juan juga tak luput dari protes publik. Maklum, pertambangan melahirkan banyak masalah bagi penduduk dan lingkungan sekitarnya. Apalagi sejak beberapa propinsi di Argentina berinisiatif memberlakukan moratorium, pelarangan tambang terbuka, juga larangan menggunakan Sianida dan bahan beracun lainnya di pertambangan.
Tapi seperti biasa, tuntutan-tuntutan yang muncul, ditanggapi pelaku pertambangan sebagai “ada masalah komunikasi.” Mereka menilai, para pemrotes tak banyak tahu tentang pertambangan. Itulah mengapa, tuntutan-tuntutan warga sekitar dan pegkritik mereka, selalu dijawab dengan kerja kehumasan dan media, daripada menjawab masalah sebenarnya. Itu pula yang dilakukan perusahaan tambang di Argentina.
Kata Luis Manuel Claps - teman saya yang tinggal di Argentina, ada dua hal dalam budaya Argentina yang membuat gairah dan semangat penduduknya cepat naik: sepak bola dan perempuan.
Tahun lalu Argentina Mining Chamber, semacam Perhimpunan perusahaan Tambang, memutuskan menggunakan gairah Argentina itu untuk memperbaiki “masalah komunikasi” tersebut.
Mereka mendanai klub sepak bola San Martin de San Juan untuk bermain di liga utama tahun ini. Klub ini masuk divisi utama. Pertandingannya disiarkan oleh TV nasional tiap Minggu. Di bagian depan seragam pemain yang berwarna hijau dan hitam, tertulis San Juan Minero. Minero dalam bahasa Spanyol berarti tambang.
Sayang, kesebelasan San Martin de San Juan bermain jelek tahun lalu, mereka menuai banyak kekalahan dan gagal mengikuti putaran berikutnya. Peringkat mereka turun, tahun depan mereka bermain di divisi dua.
Bagaimana dengan perempuan? Ada kompetisinya juga. Lomba pemilihan ratu kecantikan pertambangan, kontes Miss Mining. Tahun lalu, Argentina Mining Chamber mendanai Kontes Miss mining.
Ada sekitar 20 perempuan cantik dan seksi, berusia 18 hingga 22 tahun terpilih masuk nominasi Miss Mining. Acara ini menjadi liputan utama media. Di salah satu media, terpampang tiga perempuan berpakaian seksi, berpose dengan latar belakang alat-alat berat pertambangan.
Seperti pemilihan ratu kecantikan pada umumnya, para perempuan ini harus berpenampilan menarik dan seksi.
Saat berjalan di catwalk di depan juri, setiap nominator memiliki julukan berbeda. Ada yang bernama Miss Gold atau Ratu emas, Miss Silver atau Ratu Perak, Miss Cooper atau Ratu Tembaga, dan nama-nama logam lainnya. Pemenangnya akan mendapat gelar Miss Lead. Ia mendapat hadiah liburan ke luar negeri dan hadiah dari para sponsor – perusahaan-perusahaan tambang.
Kata Luis – yang sekarang kuliah S2 ilmu komunikasi - perusahaan lebih suka memperbaiki “masalah komunikasi” dibanding mencari solusi sebenarnya.
Bagai pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kerja media, tak hanya efektif menjawab masalah mereka, diwaktu yang sama ia bisa mengangkat citra ramah lingkungan perusahaan. Murah, cepat, dan efektif.
Pengalaman di atas tak beda dengan Indonesia. Newmont, lima tahun lalu, mengalokasikan jutaan dolar untuk kerja-kerja kehumasan dan media guna menjawab “masalah komunikasi” bahwa mereka tak mencemari teluk Buyat. Akhir Desember lalu, di Konferensi Internasional Perubahan Iklim di Bali - Himpunan Perusahaan Tambang Indonesia bersama Menteri Kehutanan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ramai-ramai menandatangani Green Mining Declaration. Media memberitakan, deklarasi tersebut berisi kesepakatan perusahaan tambang untuk memperbaiki lingkungan yang rusak, setelah tambang mereka usai.
Kemesraan pelaku pertambangan dan MS Kaban itu, menampakkan hasil dua bulan kemudian. Presiden SBY mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 2 tahun 2008. Dengan PP ini, perusahaan tambang tak perlu mencari lahan hutan kompensasi, jika mau menambang terbuka hutan lindung dan hutan produksi - cukup membayar sewa Rp 120 – Rp 300 per meter perseginya.
Saya teringat kawasan-kawasan pertambangan, yang diwarisi lubang-lubang raksasa - dalam dan menganga milik Freeport, Newmont, Rio Tinto, Aurora Gold, Newcrest, Laverton, Inco dan banyak lagi. Mereka juga memiliki daftar catatan buruk, mulai penggusuran masyarakat adat, perusakan lingkungan, warga mengalami gangguan kesehatan akibat limbah tambang, hingga pelanggaran HAM - yang tak selesai hingga saat ini.
Luis benar. Pelaku pertambangan lebih suka memperbaiki “masalah komunikasi” dibanding mengurus masalah yang sebenarnya.
Penulis adalah Koordinator Nasional JATAM
|