Forum JATAM
Tuesday, 22 April 2008

Bangka dan Belitung bagai potret pengelolaan tambang di Indonesia. Sudah 300 tahun pulau-pulau ini dikeruk timahnya, menyumbang devisa negara dan melayani kebutuhan dunia. Namun kini ia berkelimpahan kolong-kolong. Sepuluh tahun lalu, ada 887 kolong yang ditinggal penambang timah. Tak hanya daratan yang ditambang, sungai dan pesisir tak luput sasaran.  Ribuan petani berubah mata pencaharian menjadi penambang. Bagaimanakah pendapat anda tentang nasib Bangka Belitung? Ikuti Diskusi Online dan Sampaikan suara anda  pada  Forum JATAM .

HOME
Suara Jatam: Negeri Ajaib PDF Print
on Tuesday, 06 May 2008

Views : 146    


Indonesia negeri ajaib. Penggusuran dan pemiskinan  yang muncul karena kegiatan industri ekstraktif di suatu wilayah – ditanggung negara. Tak percaya? Ada banyak daftarnya.

Mulai yang terkini – lebih 60 ribu pengungsi korban lumpur panas lapindo. Ada 266 warga Buyat Pante yang menderita gangguan kesehatan dan pindah ke Duminanga - karena limbah tailing Newmont. Ada seribu lebih keluarga di kampung-kampung dayak Paser Kalimantan Timur, pindah dari kampungnya karena tambang batubara Kideco jaya Agung. Hingga yang saya baca sore tadi - suku Karonsie Dongi di Soroako. 

 

Koran lokal Soroako, Jum’at (25/05) memuat tulisan tentang relokasi pemukiman suku Dongi di Soroako sedang di survey pemerintah.  Ini kerjasama antara kementerian Perumahan Rakyat (Menpera), Pemerintah Kabupaten Luwuk Timur dan PT Inco – perusahaan Nikel milik asing,  terbesar di Indonesia.

 

Suku Dongi  atau dikenal  sebagai suku Karonsie ini dulunya tinggal di kampung Dongi Soroako Luwuk Timur Sulawesi Selatan. Karonsi’e artinya kaki lumbung. Suku ini membuat perkampungan Dongi, lantas mereka dikenal sebagai orang Dongi. 

 

Orang Karonsie tergusur. Kini pemukiman mereka berubah menjadi lapangan Golf PT Inco.  Daerah persawahan Karonsie  berubah jadi perumahan karyawan PT Inco. Kawasan persawahan lainnya sekarang lapangan pelatihan dan tempat pembuangan sampah. 

 

Ironisnya penanganan dan pemulihan para korban gusuran itu menggunakan dana negara – bukan perusahaan. 

 

Dalam kasus PT Inco, dengan bangga pejabat Menpera menyatakan ada dana stimulan dari APBN untuk relokasi suku Dongi, selain dana APBD. Warga Buyat?  Bantingan beberapa lembaga sosial dan APBD. Dayak Paser? Pakai dana penanganan Banjir kabupaten. 

 

Sungguh tak adil. Pemiskinan lahir karena industri tambang dan uang negara juga yang harus menalanginya. Sementara warga sekitar pertambangan tak dijamin keselamatannya, pengusaha tambang diperlakukan sangat istimewa di negeri ini. 

 

Lagi, itu salah satu alasan pengurusan sektor tambang harus di kaji ulang.  

 

 

 


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Kirimi SBY pesan, desak  PT Lapindo  Jamin Kebutuhan Pangan Korban di Pasar Baru Porong. Dukung aksi warga tolak penghentian jatah makan. Presiden SBY HP, 9949 dan 0816851215, Purnomo Yusgiantoro HP 0811181750 

Login Form

AGENDA







Image

Pojok Lamin

Bangsa Indonesia telah kehilangan kemandirian nasional. Untuk dapat bangkit kembali, diperlukan pemimpin yang tegas dan berani membatasi penguasaan sumber daya alam oleh perusahaan asing. 

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika Presiden SBY kembali menaikkan harga BBM?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri