HOMEINFOBerita Dunia&Tambang: Indonesia Ketinggalan Langkah Venezuela
Dunia&Tambang: Indonesia Ketinggalan Langkah Venezuela
on Thursday, 22 May 2008
Views : 598
Lima hari sebelum peringatan hari kebangkitan nasional di Indonesia.
Pemerintah Venezuela mengumumkan menutup ijin baru untuk proyek tambang
emas, dan mengancam melakukan hal yang sama untuk konsesi tambang dan
pembalakan kayu lainnnya. Ini bagian upaya ketat Venezuela mengontrol
pengelolaan sumber daya alam di tangan negara.
Lagi-lagi Indonesia ketinggalan dari Venezuela. Berbeda dengan Hugo Chavez – rekan presidennya di Venezuela. Presiden SBY malah bertindak sebaliknya. Disaat harga minyak dunia naik, ia tak mau menunda pembayaran utang luar negeri dan memotong subsidi untuk perbankan bermasalah, tapi memilih memotong subsidi dan menaikkan harga BBM.
Tak cuma itu, saat Venezuela memilih meningkatkan kontrol terhadap sumber daya alam dan kerusakan lingkungan akibat pertambangan dan pembalakan. Presiden SBY malah mengeluarkan PP No 2 tahun 2008 yang menyewakan hutan lindung untuk kepentingan industri pertambangan dan peruntukan lainnya.
SBY dan para pembantunya membuat negeri ini makin kuat dalam cengkaraman pihak asing.
Menteri Lingkungan Hidup Venezuela, Yuviri Ortega menyatakan negara di Amerika Selatan tak akan mengeluarkan iin untuk petambangan terbuka dan tak akan mengijinkan perusahaan untuk melirik kawasan cagar hutan Imataca yang kaya emas.
Di dalam Cagar Imataca terdapat sebuah kota bernama El Dorado di kawasan terpencil di bagian tenggara Venezuela, yang dipercaya berada diatas salah satu kawasan deposit emas paling kaya di Amerika Latin.
Venezuela baru saja melarang pembukaan tambang pada 3,8 juta ha cagar Imataca dan mengakhiri perijinan untuk tambang terbuka bagi Crystallex and Gold Reserve. Padahal, sudah sejak lama perusahaan Canada tersebut berupaya mendapatkan ijin megeksploitasi kawasan tersebut.
Venezuela adalah salah satu anggota OPEC yang memproduksi dan mengekspor minyak tertinggi di dunia. Mereka tak ingin mendapatkan lebih banyak keruasakan lingkungan dengan menambah ijin pertambangan dan pembalakan.
"Untuk saat ini, kami tidak membutuhkan mengeksploitasi mineral. Kami tak membutuhkan permata, emas ataupun batubara,” ungkap Ortega menirukan ucapan presidennya.
Tahun lalu, Chavez mengumumkan program nasionalisasi untuk meningkatkan kontrol negara terhadap industri minyak. Amerika serikat jelas tak suka dengan tindakan ini. Apalagi sejak pemerintah kembali memegang kendali kunci sektor ekonomi macam kelistrikan, komunikasi, perusahaan semen dan baja. (JM)
sumber : http://www.planetark.com/dailynewsstory.cfm/newsid/48373/story.htm
Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta