Forum JATAM
Thursday, 20 November 2008

Semangat  pembaharuan, tidak menyentuh sektor pertambangan yang masih dikomandani Purnomo Yusgiantoro. Hingga 2006, pemerintah telah menerbitkan sedikitnya 2.559 ijin pertambangan dan batubara, belum termasuk ijin tambang galian C, ijin tambang migas dan Kuasa Pertambangan yang dikeluarkan pemerintah daerah pada masa otonomi daerah. Di Kalimantan Selatan saja, lebih dari 400 ijin tambang dikeluarkan, di Kalimantan Timur ada 509 ijin, Sulawesi Tenggara 127 ijin tambang, di kabupaten baru –Morowali, Sulawesi Tengah bahkan sudah  dikeluarkan 190 perijinan. Jumlah ini akan terus bertambah. Luasan lahan untuk dikeruk akan makin meluas. Tidak ada batasan kapan dan berapa jumlah ijin yang patut dikeluarkan tiap daerah, yang punya kerentanan dan daya dukung ekologi berbeda. Fonomen itu tak beda dengan masa orde baru: obral murah jual habis, gali & ekspor sebesar-besarnya.

Apa pendapat anda tentang fonomena di atas dan apa yang harusnya dilakukan pemerintah, perusahaan dan publik?  Sampaikan pendapat anda di Forum JATAM

HOME
Uang anda di Lumpur Lapindo? PDF Print
on Monday, 26 May 2008

Views : 1237    


Pemilik PT Lapido Brantas tak ada apa-apanya jika tidak didukung para pemegang saham, juga bank dan lembaga keuangan yang memberi pinjaman, baik dari dalam dan luar negeri. Mereka tersebar di 11 negara. Bank-bank ini tentu mendapat keuntungan dari pinjaman yang diberikan.

Coba cek nama-nama berikut. Jangan-jangan  bank anda juga mendanai pemilik PT Lapindo Berantas.

****

Jangan bangga jika anda bisa menyimpan uang di bank-bank asing macam  ANZ, Commonwealth, HSBC, Standard Chartered Bank, Citigroup, Barclays dan Deutsche Bank. Atau bank-bank Indonesia, macam Bank Mandiri, BCA, BNI, Bank Niaga dan Bank Danamon. Mereka mendanai PT Energi Mega Persada, Medco Energi dan Santos, ketiganya pemilik PT Lapindo Brantas.
Tepat 29 Mei dua tahun lalu, sumur pengeboran banjar panji di Porong Sidoarjo milik PT Lapindo berantas  menyemburkan lumpur panas. Kawasan Porong, yang direncanakan menjadi pusat perdagangan kecil dan menengah,  akhirnya ditenggelamkan lumpur.

Menurut putusan majelis hakim bernomer 384/PDT.G/2006/PN.JKT.PST tangggal 27 November 2007, semburan lumpur panas itu disebabkan kekurang hati-hatian pengeboran yang dilakukan  PT Lapindo, karena belum terpasang casing atau pelindung secara keseluruhan.

Dua bulan lalu, lumpur Lapindo sudah menenggelamkan 12 desa, termasuk 34 gedung sekolah, mulai Taman Kanak-kanak hinga SMA. Ada lebih 60 ribu orang mengungsi. Sekitar 87 industri skala rumahan hingga skala pabrik besar yang ditenggelamkan lumpur, telah mengadukan tuntutan kerugian kepada Lapindo. Belum lagi sarana publik macam, jalan tol, listrik, pipa gas, air minum dan telekomunikasi – yang terganggu bahkan tak bisa lagi digunakan.

Lumpur yang menyembur itu, menurut Dwi Andreas Santosa - peneliti IPB, mengandung logam berat macam Cadmium, Chromium, Arsen juga Merkuri, yang kadarnya diatas ambang baku mutu yang dipersyaratkan.  Demikian pula kandungan mikrobilologi pembawa bibit penyakit macam Coliform, Salmonella dan Stapylococcus Aureus.

Kawasan tersebut kini makin berbahaya. Sedikitnya 15 kali  tanggul penahan lumpur jebol dan menggenangi kawasan sekitarnya. Tak hanya itu,  hingga pertengahan Mei 2008, setidaknya ada 90 semburan lumpur baru disekitar rumah warga. Semburan lumpur ini mengandung Nitrogen Dioksida (NO2) yang mudah terbakar dan hidrokarbon (HC) yang beracun. Di Siring  Barat, bahkan ditemukan hidrokarbon yang kandungannya lebih 266 ribu kali ambang baku yang diperbolehkan. (Kompas 23/5). Gas-gas itu berbahaya, bersifat karsinogeinik dan.dapat memicu kanker.  Dan dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.

PT Lapindo Brantas dimiliki sahamnya oleh PT Energi Mega Persada sejumlah 50%, Medco Energi sebanyak 32% dan sisanya milik Santos, dari Australia.

Ketiga pemilik diatas  tak ada apa-apanya jika tak didukung oleh para pendananya – bank dan lembaga keuangan dan pemberi pinjaman. Dua tahun lalu PT EMP assetnya sebesar USD 515 juta. Asset ini ditopang 57% nya oleh bank, disusul pemegang saham (13%), agen pajak (12%), partner dagang (9%) dan lainnya (9%). Pemegang saham terbesar adalah keluarga Bakrie, lewat dua perusahaannya mereka menguasai 68,5%. Ada juga Fortis OBAM perusahaan  Nederland yang menguasai 0,5% saham.

Siapa bank yang memberikan pinjaman untuk PT EMP? Ada Bank mandiri, BNI, bank Niaga  - CIMB Group, PMA Investment Advisors, Fortis Bank, Merrill Lynch & Co. dan Credit Suisse,.

Berbeda dengan PT EMP, Medco energi sebagian besar pendanaannya dilakukan oleh pemegang saham (35%), disusul pemberi jaminan (30%), mitra dagang dan agen pajak masing-masing 10%, Bank (5%) dan sisanya pemegang saham minoritas. Keluarga Arifin paniogoro yang mengontrol 50,7% saham Medco.

Pendanaan Santos dari Australia tak berbeda jauh. Ada 49% dimiliki pemegang sahamnya dan 20% pemberi jaminan. Barclays dan Maple-Brown Abbott adalah pemegang saham penting Santos.

Jadi,  pemilik PT Lapido Brantas tak sendiri, mereka ditopang oleh para pemegang saham juga bank dan lembaga keuangan yang memberi pinjaman uang, baik dari dalam dan luar negeri. Mereka tersebar dari 11 negara. Bank-bank ini juga mendapat keuntungan dari pinjaman yang dia berikan.

Sebagai nasabahnya, anda bisa menanyakannya. Coba anda cek nama-nama berikut. Jangan-jangan anda tak tahu, kalau bank tempat anda menyimpan uang ternyata mendanai pemilik PT Lapindo Berantas.

•    Indonesia: Andalan Artha Advisindo Sekuritas, Bank Central Asia, Bank Danamon,Bank Mandiri, Bank Nasional Indonesia, Danatama Makmur, Indo Premier Securities, Investindo Nusantara Sekuritas.

•    Australia: ANZ, Caliburn Partnership, Commonwealth Bank of Australia, Maple-Brown Abbott

•    Inggris: Barclays, HSBC Bank, Standard Chartered Bank

•    Amerika Serikat : Citigroup, Goldman Sachs & Co, Merrill Lynch & Co., Morgan Stanley & Co.

•    Malaysia: Bank Niaga -  Group

•    Jerman: Deutsche Bank, Deutsche Investitions- Und Entwicklungsgesellschaft

•    Nederland : Fortis  Group, TMF Group, Vreewijk Management

•    Perancis: Natixis

•    Singapore : OCBC Bank, UBS, United Overseas Bank

•    Hongkong: PMA Investment Advisors

•    Switzerland : Credit Suisse

Sumber: FoE Europe, 2007 (JM)


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Konferensi American Association of Petroleum Geologists di Cape Town, Afrika Selatan pada 27 - 29 Oktober 2008 menyimpulkan pengeboran sebagai penyebab semburan lumpur Lapindo

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika tambang-tambang emas baru dibuka?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Buku JATAM
 
 
 
 
 
 
 
 
 
APA KATA MEREKA? 

Dampingan Teknis


gimbal03


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Buku JATAM Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.

Anda ingin mendapatkan buku ini?