| on Tuesday, 22 July 2008
|
Views : 315  |
Tak hanya membuat ruang hidup di daratan menyempit, di laut pengerukan batubara di
Kalimantan Selatan juga mendatangkan masalah bagi para nelayan. Telah sejak
lama wilayah tangkap mereka menyempit. Khususnya sejak kegiatan
pertambangan batubara marak dan menggunakan selat dan lautan di wilayah
Kotabaru sebagai jalur angkut.
menyempitnya ruang kelola memicu konflik horisontal antar nelayan. Akhirnya, kemaren (21/07) sebanyak 800 orang nelayan yang tergabung dalam organisasi Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Kalimantan Selatan, berunjuk rasa di depan kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru. Mereka menuntut pemerintah memberikan perhatian kepada konflik yang terjadi antar nelayan INSAN Kotabaru dan nelayan di daerah lain seperti di Sungai Dungun, Teluk Gosong, Tarjun, Pantai, Senakin, Sekapung dan beberapa daerah lain. Konflik ini terjadi sejak tahun enam tahun lalu. Dan seiring meningkatnya pengerukan batubara disana. Tahun-tahun berikutnya, konflik kerap terjadi dan terus meningkat intensitasnya. Tercatat tahun 2004, 2005, juga pada 2006.
Walhi Kalsel mencatat, sepanjang 2002 hingga 2008, sedikitnya terjadi 15 Kasus antar nelayan, korbannya mencapai 21 orang nelayan anggota INSAN dan satu kasus yang terjadi pada nelayan Sei Bali. Tak ada satupun kasus yang diproses hukum.
Bagai jauh pangang dari api. Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru malah membentuk “Pokwasmas” yang terdiri dari para nelayan di setiap wilayah Kotabaru, yang menjadi perpanjangan tangan mereka dalam mengawasi wilayah laut. Namun justru tindakan mereka sering tidak jelas, yang akhirnya memicu konflik horizontal akibat adu mengadu domba sesama nelayan, sehingga menambah panjang deretan konflik antar nelayan disana.
Sumber : Siaran pers ED Walhi Kalsel, 21 Juli 2008 |
|
|