HOME arrow KAMPANYE arrow Siaran Pers arrow Proper Hijau Newmont, Proper Greenwash
Proper Hijau Newmont, Proper Greenwash PDF Print
on Thursday, 07 August 2008

Views : 380    


Siaran Pers, 7 Agustus 2008

Saat nelayan sekitar pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengeluhkan pendapatannya menurun drastis, karena sulit menangkap ikan sejak limbah tailing dibuang ke laut. Dan petani lingkar tambang  mengeluhkan krisis air. PT NNT, tambang emas milik Amerika Serikat, yang telah membuang 400 juta ton lebih limbah tailing ke laut ini malah mendapat Proper hijau dari Menteri Lingkungan Hidup.

Bagaimana Menteri LH bisa menjelaskan hal diatas? Proper Hijau yang diberikan KLH ini sama sekali tak menyinggung masalah-masalah lingkungan tersebut, khususnya krisis akibat menurunnya kualitas lingkungan yang dialami warga sekitar tambang PT NNT.

Di Pulau Sumbawa, mulai pantai Sagena, Labuhan Lalar,  Benete, Rantung, Snutuk  hingga Tolanang, para nelayan mengeluhkan menurunnnya hasil tangkap ikan Cumi dan Tongkol, sejak tailing Newmont dibuang. Sementara di pulau Lombok – berdekatan dengan lokasi pembuangan tailing, nelayan Tanjung luar dan pulau Maringik melaporkan hal yang sama.

Di pantai Rantung , tempat pipa Newmont memuntahkan limbah 120 ribu ton perhari ke laut, lebih parah lagi. Nener mulai berkurang sejak awal PT NNT membuang tailingnya. Makin lama, Nener menghilang dan tak sulit dijumpai di kawasan tersebut. Padahal dulunya, warga bisa menangkap  ratusan hingga ratusan ribu nener dalam sehari. Sekarang, mencari nener tak bisa lagi jadi mata pencaharian.

Nelayan pantai Snutuk, yang dulunya cukup mencari ikan di sekitar pantai Snutuk Sumbawa, kini  harus melaut ke Labuan Lombok hingga Labuan Tano. Waktu melaut menjadi lebih panjang. Tapi ikan yang didapat juga tak sebanyak dulu. Mereka menuding tailing PT Newmont lah peyebabnya. Sementara nelayan pulau Maringik Labuan luar Lombok Timur, yang hasil tangkapnya terus menurun, kini harus melaut hingga berhari-hari ke pesisir pulau Sumba Nusa Tenggara Timur, untuk menangkap Cumi.

Warga sekitar tambang juga mengeluhkan krisis air dari waktu ke waktu. sungai Lebuhan, yang bermuara di sekitar Tongoloka, beberapa tahun terakhir, debet airnya menurun drastis. Kini musim kemarau, jangankan berharap mencari ikan di sungai, airpun hanya genangan-genangan air  disana-sini dan tak mengalir lancar.

“Pemberian Proper Hijau PT Newmont memperlihatkan rendahnya  rasa kirisis (sense of crisis) Menteri Lingkungan Hidup, ditengah  ketidakmampuannya melakukan pemulihan, apalagi menurunkan laju kerusakan lingkungan”, ujar Siti Maemunah, koordinator nasional JATAM, menaggapi hal diatas.

Alih-alih mendorong perbaikan kondisi lingkungan di sekitar industri pertambangan, Proper akan dipakai perusahaan melegitimasi tindakannya merusak lingkungan dan memperbaiki citra hijaunya disaat yang sama. Proper telah menjadi alat Greenwash industri tambang. “Kementrian Lingkungan Hidup harus membatalkan hasil Proper 2008. Dan mengggantinya dengan program yang lebih bermanfaat untuk rakyat banyak, terutama di sekitar industri. Mestinya KLH mendorong program-program yang menguatkan kapasitas warga memantau pencemaran atau perusakan lingkungan, serta menguatkan penegakan hukum”, tambahnya. 


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Hasil penelitian Prof Richard Davies dari Universitas Durham - Inggris membuktikan bahwa lumpur Lapindo terjadi karena adanya pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas, bukan karena gempa bumi di Jogjakarta

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Dampingan Teknis


gimbal03


Video Galeri