Forum JATAM
Thursday, 20 November 2008

Semangat  pembaharuan, tidak menyentuh sektor pertambangan yang masih dikomandani Purnomo Yusgiantoro. Hingga 2006, pemerintah telah menerbitkan sedikitnya 2.559 ijin pertambangan dan batubara, belum termasuk ijin tambang galian C, ijin tambang migas dan Kuasa Pertambangan yang dikeluarkan pemerintah daerah pada masa otonomi daerah. Di Kalimantan Selatan saja, lebih dari 400 ijin tambang dikeluarkan, di Kalimantan Timur ada 509 ijin, Sulawesi Tenggara 127 ijin tambang, di kabupaten baru –Morowali, Sulawesi Tengah bahkan sudah  dikeluarkan 190 perijinan. Jumlah ini akan terus bertambah. Luasan lahan untuk dikeruk akan makin meluas. Tidak ada batasan kapan dan berapa jumlah ijin yang patut dikeluarkan tiap daerah, yang punya kerentanan dan daya dukung ekologi berbeda. Fonomen itu tak beda dengan masa orde baru: obral murah jual habis, gali & ekspor sebesar-besarnya.

Apa pendapat anda tentang fonomena di atas dan apa yang harusnya dilakukan pemerintah, perusahaan dan publik?  Sampaikan pendapat anda di Forum JATAM

HOME
Bencana Lingkungan, Bencana Kemanusiaan PDF Print
on Monday, 01 September 2008

Views : 757    


Oleh: Nur Azizah, relawan STOS

Kaum muda Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Petra Tanjung Priok bekerjasama dengan South to South Film Festival menggelar talk show bertema “Global Warming and Natural Disaster,” Sabtu (30/8) di GPIB Petra, Jakarta Utara. Sebagian besar peserta yang merupakan siswa-siswi kelas 1 SMP hingga SMA kelas 2 tampak mencermati penuturan para pembicara. Salah satunya adalah pertanyaan yang dilontarkan seorang peserta tentang pengertian efek rumah kaca yang belakangan kerap didengarnya.

 

Nur Hidayati, koordinator Civil Society Forum (CSF) memaparkan bahwa di negara belahan Utara sangat memerlukan rumah yang terbuat dari kaca sebagai metode pertanian mereka. “Karena rumah kaca itu dapat menahan panas matahari, sehingga tanaman masih bisa tumbuh di musim dingin. Dan gas-gas pencemar yang ditimbulkan tadi disebut dengan istilah gas rumah kaca,” jelas Yaya.


Lebih jauh Yaya menjelaskan, “fenomena efek rumah kaca yang mengakibatkan  melonjaknya pemanasan temperatur bumi bukan disebabkan oleh gedung-gedung bertingkat yang terbuat dari kaca. Namun gas-gas polutan (pencemar) seperti karbon dioksida, metana Dan gas pencemar yang dikeluarkan oleh pabrik Dan transportasi  itulah yang tidak hilang di atmosfir sehingga membentuk seperti kaca yang lalu menyelubungi bumi. Dan gas-gas itulah yang membuat bumi Kita seperti berada di dalam rumah kaca.” Artinya akibat gas polutan/ gas rumah kaca itu menyebabkan Kita seolah tinggal di dalam rumah kaca dengan gas pencemar sebagai kacanya.

Lantas, adakah kegelisahan peserta tentang kebijakan pemerintah Indonesia dalam menanggapi persoalan pemanasan global? “Mengapa pemerintah mengkampanyekan penanaman pohon tapi kenapa kok ditetapkan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) terhadap para pengusaha sehingga mereka kayaknya bisa menebang pohon sembarangan? Kenapa pemerintah Kita seperti itu?”

“Sejak konferensi internasional tentang perubahan iklim di Bali, 3-14 Desember 2007, Indonesia justru menghasilkan kebijakan yang tidak ramah lingkungan, yaitu PP No. 2 Tahun 2008.” Demikian jawaban Ferdinan Ismael dari Walhi Jakarta. Dia menambahkan bahwa PP tersebut digunakan sebagai upaya pemerintah untuk memperoleh pendapatan di luar pajak, khususnya bagi para pengusaha tambang. “Yaitu dengan menyewakan hutan seharga 1,2 juta – 3 juta/hektar yang artinya hutan Kita terancam Rp 120 – Rp 300/meter,” imbuhnya.

Sedangkan Yaya menyatakan bahwa perusahaan yang menebang seharusnya menanam kembali, tapi kenyataannya mereka abai Dan tidak melakukan itu. Sehingga tidak Ada keseimbangan antara yang harus dilindungi Dan ditebang. “Dan pemerintah juga tidak memberikan hukuman yang setimpal dari perbuatan tadi,” ujar Yaya.

Kepedulian Dan kesadaran akan derita alam Dan lingkungan nampak jelas di raut muka peserta talk show siang itu. Pun rasa bimbang yang tak urung menghindar dari mereka. “Berarti kegiatan Kita menanam pohon kemarin sia-sia, kak?,” ungkap seorang peserta.

“Memang berat karena yang serakah lebih banyak tapi memang itulah kewajiban Kita untuk berbuat seperti menanam pohon atau hemat energi. Bahkan sekecil apapun yang sudah Kita lakukan tidak akan pernah Ada ruginya. Dan mulailah dari diri sendiri untuk berani memulai mencintai lingkungan Kita sendiri,” jawab Yaya.

Sementara ferdinan menyatakan bahwa informasi yang telah mereka dapat sudah selayaknya ditularkan kepada teman lain. “Dan Kita yang hadir di sini adalah untuk berjuang dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup,” kata Ferdinan.

Ternyata peserta mendengar apa yang tengah dialami oleh bumi. Berikut ungkapan rasa empati salah satu peserta, “apakah bumi Kita akan sembuh dengan sendirinya?”

Yaya menuturkan bahwa sakit yang di derita bumi saat ini ditandai dengan global warming, banjir, longsor Dan bencana lain. Bahkan semakin banyaknya luka yang dirasakan bumi membuat bumi tidak sanggup lagi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. “Jadi Kita yang harus mencegah agar tidak menyakiti bumi. Karena dengan Kita mengasihi bumi seperti mengasihi diri Kita sendiri itu berarti Kita mengasihi manusia lain. Artinya Kita juga mencegah korban manusia lain,” tegas Yaya. (zie) 


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
Advertisement

INFO KILAT

Konferensi American Association of Petroleum Geologists di Cape Town, Afrika Selatan pada 27 - 29 Oktober 2008 menyimpulkan pengeboran sebagai penyebab semburan lumpur Lapindo

Login Form

AGENDA









Pojok Lamin

Sedikitnya 17 siswa SDN Campurrejo 2, Bojonegoro, Jawa Timur, pingsan akibat bau menyengat dari sumur minyak Sukowati 9. Kegiatan belajar dan mengajar di sekolah yang terletak 600 meter dari sumur itu dihentikan dan 139 siswa dipulangkan lebih awal. Murid TK Bhakti Pertiwi yang berada di samping SD itu juga dipulangkan. 

RSS dan IKJ

JATAM RSS  - Umpan RSS

atau Daftar Info Kilat Jatam:

Lihat Tampilan

Jaring Pendapat

Setujukah anda jika tambang-tambang emas baru dibuka?
 

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Dampingan Teknis


gimbal03


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Buku JATAM Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.

Anda ingin mendapatkan buku ini?