HOME arrow INFO arrow Berita arrow Bencana Lingkungan, Bencana Kemanusiaan
Bencana Lingkungan, Bencana Kemanusiaan PDF Print
on Monday, 01 September 2008

Views : 758    


Oleh: Nur Azizah, relawan STOS

Kaum muda Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Petra Tanjung Priok bekerjasama dengan South to South Film Festival menggelar talk show bertema “Global Warming and Natural Disaster,” Sabtu (30/8) di GPIB Petra, Jakarta Utara. Sebagian besar peserta yang merupakan siswa-siswi kelas 1 SMP hingga SMA kelas 2 tampak mencermati penuturan para pembicara. Salah satunya adalah pertanyaan yang dilontarkan seorang peserta tentang pengertian efek rumah kaca yang belakangan kerap didengarnya.

 

Nur Hidayati, koordinator Civil Society Forum (CSF) memaparkan bahwa di negara belahan Utara sangat memerlukan rumah yang terbuat dari kaca sebagai metode pertanian mereka. “Karena rumah kaca itu dapat menahan panas matahari, sehingga tanaman masih bisa tumbuh di musim dingin. Dan gas-gas pencemar yang ditimbulkan tadi disebut dengan istilah gas rumah kaca,” jelas Yaya.


Lebih jauh Yaya menjelaskan, “fenomena efek rumah kaca yang mengakibatkan  melonjaknya pemanasan temperatur bumi bukan disebabkan oleh gedung-gedung bertingkat yang terbuat dari kaca. Namun gas-gas polutan (pencemar) seperti karbon dioksida, metana Dan gas pencemar yang dikeluarkan oleh pabrik Dan transportasi  itulah yang tidak hilang di atmosfir sehingga membentuk seperti kaca yang lalu menyelubungi bumi. Dan gas-gas itulah yang membuat bumi Kita seperti berada di dalam rumah kaca.” Artinya akibat gas polutan/ gas rumah kaca itu menyebabkan Kita seolah tinggal di dalam rumah kaca dengan gas pencemar sebagai kacanya.

Lantas, adakah kegelisahan peserta tentang kebijakan pemerintah Indonesia dalam menanggapi persoalan pemanasan global? “Mengapa pemerintah mengkampanyekan penanaman pohon tapi kenapa kok ditetapkan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) terhadap para pengusaha sehingga mereka kayaknya bisa menebang pohon sembarangan? Kenapa pemerintah Kita seperti itu?”

“Sejak konferensi internasional tentang perubahan iklim di Bali, 3-14 Desember 2007, Indonesia justru menghasilkan kebijakan yang tidak ramah lingkungan, yaitu PP No. 2 Tahun 2008.” Demikian jawaban Ferdinan Ismael dari Walhi Jakarta. Dia menambahkan bahwa PP tersebut digunakan sebagai upaya pemerintah untuk memperoleh pendapatan di luar pajak, khususnya bagi para pengusaha tambang. “Yaitu dengan menyewakan hutan seharga 1,2 juta – 3 juta/hektar yang artinya hutan Kita terancam Rp 120 – Rp 300/meter,” imbuhnya.

Sedangkan Yaya menyatakan bahwa perusahaan yang menebang seharusnya menanam kembali, tapi kenyataannya mereka abai Dan tidak melakukan itu. Sehingga tidak Ada keseimbangan antara yang harus dilindungi Dan ditebang. “Dan pemerintah juga tidak memberikan hukuman yang setimpal dari perbuatan tadi,” ujar Yaya.

Kepedulian Dan kesadaran akan derita alam Dan lingkungan nampak jelas di raut muka peserta talk show siang itu. Pun rasa bimbang yang tak urung menghindar dari mereka. “Berarti kegiatan Kita menanam pohon kemarin sia-sia, kak?,” ungkap seorang peserta.

“Memang berat karena yang serakah lebih banyak tapi memang itulah kewajiban Kita untuk berbuat seperti menanam pohon atau hemat energi. Bahkan sekecil apapun yang sudah Kita lakukan tidak akan pernah Ada ruginya. Dan mulailah dari diri sendiri untuk berani memulai mencintai lingkungan Kita sendiri,” jawab Yaya.

Sementara ferdinan menyatakan bahwa informasi yang telah mereka dapat sudah selayaknya ditularkan kepada teman lain. “Dan Kita yang hadir di sini adalah untuk berjuang dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup,” kata Ferdinan.

Ternyata peserta mendengar apa yang tengah dialami oleh bumi. Berikut ungkapan rasa empati salah satu peserta, “apakah bumi Kita akan sembuh dengan sendirinya?”

Yaya menuturkan bahwa sakit yang di derita bumi saat ini ditandai dengan global warming, banjir, longsor Dan bencana lain. Bahkan semakin banyaknya luka yang dirasakan bumi membuat bumi tidak sanggup lagi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. “Jadi Kita yang harus mencegah agar tidak menyakiti bumi. Karena dengan Kita mengasihi bumi seperti mengasihi diri Kita sendiri itu berarti Kita mengasihi manusia lain. Artinya Kita juga mencegah korban manusia lain,” tegas Yaya. (zie) 


   
Quote this article in website
Send to friend
Save this to del.icio.us

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.2 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >

INFO KILAT

Warga korban Lapindo dari Tim 16 Perumtas Sidoarjo terpaksa menerima pembayaran dengan cara diangsur  30 juta per bulan, sementara ribuan korban lainnya tidak jelas nasibnya

RSS Feeds

Photo Show

Photo Galeri
 

Pemirsa Online

Loading Loading...

Buku JATAM

Dampingan Teknis


gimbal03


Dapatkan Buku Terbaru JATAM

Buku JATAM Ini kumpulan kasus-kasus pertambangan, minyak dan gas sepanjang tahun 2001 hingga 2003. Buku ini berisi 99 artikel yang merekam kasus dan isu, mulai ExxonMobile di Aceh hingga tambang Freeport di Papua Barat.

Anda ingin mendapatkan buku ini?